Ads 468x60px

Translate

Ada kesalahan di dalam gadget ini

About Me

Foto Saya
Aku ta'kan goyah walau badai menerjangku
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Selamat Datang di Ahmad Syair Blogspot.com

Cari Blog Ini

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Kampus


Daftar isi
1.     Pengertian hadis, sunnah, khabar,atsar dan hadis qudsi................................2
(Nanang)
2.     Hadis mutawattir, ruang lingkup, dan contohnya............................................7
(A.Syair, M.Ali, Meli)
3.     Hadis ahad, pembagian dan contohnhya..........................................................13
(Awwam, Firman, Zulkarnaen)
4.     Hadis shahih, pembagian dan contohnya.........................................................22
(Hamdiah, Sari, Jesi)
5.     Hadis hasan, pembagian dan contohnya...........................................................29
(Bela, Dewi, Fitri)
6.     Hadis daif ,pembagian dan contohnya..............................................................32
(Ihya, Farhan)
7.     Hadis maudu........................................................................................................37
(Ainurrohman, Syafi’i, Syauqi)
8.     Tahammul wa’al a’da.........................................................................................53
(Rahmatilah, Ubay, Imam)
9.     Gelar ahli hadis dan tokoh-tokohnya................................................................57
(Habibudin, Hakim)
10.         Istilah-istilah hadis dan kitab hadis...................................................................63
(St Nurjanah)
11.         Sanad, isnad, musnid, dan matan hadis............................................................75
(Ainurrohim, Abdillah)
12.         Periwayatan hadis billafdzi dan bil ma’na........................................................80
(Tanwir, Ratih)
13.         Kedudukan dan fungsi hadis..............................................................................88
(Aan, Tuti)
1. Pengertian hadis, sunnah, khabar, atsar, dan hadis qudsi
A. Pengertian Hadis
Dalam buku Metodologi Kritik Hadis yang ditulis oleh Dr. Bustamin dan M. Isa H. A. Salam dijelaskan pengertian Hadis secara etimologi, yakni berasal dari bahasa Arab الحديث bentuk jamaknya الأحاديث yang memiliki arti al-Jadid (baru) sebagai lawan kata dari al-Qadim (lama). Dinamakan demikian karena segala sesuatu yang disandarkan pada Nabi Muhammad Saw itu sifatnya Jadid sebagai lawan dari kalam Allah Swt yang sifatnya Qadim.
Sementara pengertian Hadis secara terminologi, para ulama mengalami perbedaan pendapat, diantaranya pendapat dari Ibn al-Subki yang menyatakan bahwa Hadis adalah segala sabda dan perbuatan nabi Muhammad Saw. Pendapat tersebut berbeda dengan pengertian Hadis yang dirumuskan oleh mayoritas ulama yang menyatakan bahwa Hadis adalah segala sabda, perbuatan, keputusan, dan hal-ihwal yang disandarkan kepada nabi Muhammad Saw. Dengan demikian, menurut sebagian besar ulama terdapat empat kategori yang disandarkan kepada nabi yang dianggap sebagai Hadis, yakni perkataan, perbuatan, keputusan, dan hal-hal lainnya. Namun, bagi ulama-ulama di luar jazirah Arab kategori yang keempat tadi tidak termasuk Hadis, dengan alasan hal itu bukanlah ajaran Nabi tetapi hanya sekedar budaya Arab saja.[1] Jika saya contohkan misalnya model pakaian yang dikenakan oleh nabi Muhammad Saw bukanlah termasuk Hadis, melainkan sekedar budaya masyarakat Arab pada waktu itu, karena bukan hanya nabi yang memakainya tetapi juga masyarakat Arab pada umumnya, termasuk musuh nabi, Abu Jahal.
Sementara ulama ushul fiqih berpandangan bahwa Hadis adalah segala perkataan Nabi Saw yang dapat dijadikan dalil untuk penetapan hukum syara'.[2]
Perlu juga kiranya jika kita mengetahui pendapat dari ulama Syiah—yang menurut hemat saya merupakan kelompok yang sangat kritis dalam memahami doktrin-doktrin agama Islam—mengenai pengertian Hadis sebagai perbandingan untuk memperkaya pengetahuan kita. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ja’far Subhani dalam kitab Ushulul Hadits wa Ahkamuhu, bahwa Hadis adalah ucapan yang menuturkan perkataan, perbuatan, dan ketetapan para Imam Maksum[3], sehingga Hadis memiliki dua kemungkinan yakni shohih dan tidak shohih karena yang menuturkan adalah orang lain yang menisbahkan ucapannya kepada para Imam Maksum.[4]
Perbedaan pendapat ini berimplikasi pada perbedaan jumlah Hadis yang diriwayatkan oleh kelompok AhlusSunnah (Sunny) dan Syiah. Jumlah Hadis dari kelompok AhlusSunnah akan lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah Hadis dari kelompok Syiah, karena setelah Rasulullah Saw wafat, maka bagi kelompok Sunny Hadis sudah tidak muncul lagi, sementara bagi kelompok Syiah Hadis tetap muncul melalui para imam maksum.
B. Pengertian Sunnah
Dalam kitab Ushulul Hadits wa Ahkamuhu dijelaskan pengertian Sunnah secara etimologi yakni jalan yang terpuji atau semisalnya, seperti jalan yang baik, jalan yang lurus, dan lain sebagainya. Sementara M.T. Hasbi ash-Shiddieqy berpendapat bahwa secara bahasa Sunnah berarti jalan yang dijalani baik terpuji atau tidak. Sehingga jalan yang tidak terpuji pun dinamakan sebagai Sunnah[5].
Berikut ini saya mengutip Hadis yang memberikan penjelasan mengenai makna Sunnah secara bahasa:
“Barang siapa mengadakan sesuatu Sunnah (jalan) yang baik, maka baginya pahala Sunnah itu dan pahala orang lain yang mengerjakan hingga hari kiamat. Dan barang siapa mengerjakan sesuatu Sunnah yang buruk, maka atasnya dosa membuat Sunnah buruk itu dan dosa orang yang mengerjakannya hingga hari kiamat” (H.R. Al-Bukhary dan Muslim).
Secara terminologi Sunnah adalah ucapan, perbuatan, dan ketetapan para imam maksum itu sendiri. Dengan demikian, Sunnah terjamin keshahihannya, karena para imam maksum itu terhindar dari dusta dan kesalahan.[6] Mungkin jika saya contohkan yakni ketika saya mengungkapkan kembali apa yang disampaikan oleh dosen di kelas, belum tentu saya bisa mengungkapkannya kembali kepada mahasiswa lain dengan tepat dan benar sebagaimana yang telah diungkapkan oleh dosen, tetapi ungkapan dosen itu sendiri sudah pasti tepat dan benar karena yang menjadi patokan benar dan salah adalah kesesuaian dengan ucapan dosen itu sendiri. Di dalam analogi tersebut, ungkapan yang saya sampaikan diibaratkan sebagai Hadis yang memiliki kemungkinan benar dan salah, sementara ucapan dosen saya ibaratkan sebagai Sunnah yang sudah pasti kebenarannya.
Menurut istilah Muhadditsin Sunnah adalah segala yang dinukilkan dari Nabi Saw baik berupa perkataan, perbuatan, maupun berupa taqrir, pengajaran, sifat, kelakuan, perjalanan hidup, baik sebelum Nabi Saw diangkat menjadi Rasul maupun sesudahnya.[7]
Sedangkan menurut Fazlur Rahman, Sunnah adalah praktek aktual yang karena telah lama ditegakkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya memperoleh status normatif dan menjadi Sunnah. Sunnah adalah sebuah konsep perilaku, maka sesuatu yang secara aktual dipraktekkan masyarakat untuk waktu yang cukup lama tidak hanya dipandang sebagai praktek yang aktual tetapi juga sebagai praktek yang normatif dari masyarakat tersebut.[8]
C. Pengertian Khabar
Khabar secara bahasa berarti berita yang disampaikan dari seseorang kepada seseorang. Ja’far Subhani mengatakan bahwa Khabar merupakan lawan kata dari Insyaa’. Khabar artinya berita yang memiliki dua kemungkinan yakni benar atau salah. Contohnya, “Saya belum sarapan pagi ini!”, berita tersebut bisa benar dan bisa salah. Sementara Insyaa’ adalah berita yang tidak memiliki dua kemungkinan tersebut, artinya tidak mungkin benar sekaligus tidak mungkin salah. Contohnya, “Pergilah dari rumah ini!”.
Menurut Ibn Hajar al-Asqalani, yang dikutip as-Suyuthi, memandang bahwa istilah Hadis sama artinya dengan Khabar, keduanya dapat dipakai untuk sesuatu yang Marfu (bersandar pada Rasulullah), Mauquf (bersandar pada Sahabat), dan Maqthu' (bersandar pada Thabi’in). Ulama lain berpendapat bahwa Khabar adalah segala sesuatu yang datangnya selain dari Nabi Saw, sementara yang datang dari Nabi Saw dinamakan Hadis. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa hadits lebih umum dari Khabar. Untuk keduanya berlaku kaidah 'umumun wa khushushun muthlaq, yaitu bahwa tiap-tiap hadits dapat dikatakan Khabar, tetapi tidak setiap Khabar dapat dikatakan hadits. Namun ada juga ulama yang mengatakan bahwa Khabar lebih umum dari Hadis karena Khabar merupakan berita dari Rasulullah maupun selainnya, sedangkan Hadis hanya berita dari Rasulullah saja.[9]
D. Pengertian Atsar
Secara etimologi Atsar berarti sisa, bekas, atau nukilan. Sehingga doa yang dinukil dari Rasulullah Saw disebut sebagai doa Ma’tsur (yang dinukil). Secara terminologi terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama. Sebagian ulama mengatakan bahwa Atsar sama artinya dengan Khabar, yakni sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Saw, Sahabat, dan Thabi’in. Sementara ulama Khurasan berpendapat bahwa Atsar itu Mauquf sementara Khabar itu Marfu’.[10]
Ja’far Subhani berpendapat bahwa Atsar adalah segala sesuatu yang bukan berasal dari Imam Maksum, seperti dari Sahabat, Tabi’in, Tabi at-Tabi’in, dan seterusnya.[11]
Di dalam sumber lain dijelaskan bahwa Atsar adalah segala sesuatu yang lebih umum dari hadits dan khabar, yaitu termasuk perkataan Tabi’in, Tabi’it-Tabi’in dan para ulama salaf. Biasanya perkataan yang disandarkan atau berasal dari selain Nabi disebut Atsar.[12]
E. Pengertian Hadis Qudsi
Hadis Qudsi disebut juga Hadis Rabbani atau Illahi, yakni Sesuatu yang dikabarkan Allah Swt kepada Nabi-Nya dengan melalui ilham atau mimpi, yang kemudian Nabi menyampaikan makna dari ilham atau impian tersebut dengan ungkapan kata beliau sendiri.[13]
Senada dengan pendapat di atas, Ja’far Subhani mengungkapkan bahwa Hadis Qudsi adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi yang redaksinya (Matan-nya) dari Nabi Saw sendiri, bukan dari Allah swt.
Jumlah Hadis Qudsi kurang lebih ada seratus hadis. Ciri-ciri Hadis Qudsi yakni menggunakan kalimat:
1.     قال النبيّ قال الله تبارك و تعالى
2.     قال النبيّ فيما يرويه عن الله تبارك و تعالى
Contoh Hadis Qudsi yaitu:
“Dari Abu Dzarr bin Junadah RA. Dari Nabi Saw berdasarkan berita yang disampaikan Allah Tabaraka wa Ta’ala, bahwa Allah telah berfirman: “Wahai hamba-Ku! Aku telah mengharamkan dhalim terhadap diri-Ku sendiri. Aku telah jadikan perbuatan dhalim itu terlarang antara kamu sekalian. Karena itu janganlah kamu saling dhalim-mendhalimi,...”. (HR. Muslim)

“Dari Abu Dzarr RA. Ujarnya: Rasulullah SAW bersabda:Firman Allah ‘Azza wa Jalla: Siapa yang menjalankan kebaikan,ia berhak menerima sepuluh kali lipat atau lebih, sedang siapayang berbuat kejahatan, maka balasannya satu kejahatan yang sepadan atau bahkan Aku ampuni,...”. (RiwayatMuslim).










2.  Hadis mutawatir
  1. Ta’rif Hadits Mutawatir

Kata mutawatir Menurut lughat ialah mutatabi yang berarti beriring-iringan atau berturut-turut antara satu dengan yang lain. Sedangkan menurut istilah ialah:

Suatu hasil hadis tanggapan pancaindera, yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi, yang menurut kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat untuk dusta.

Artinya:
Hadits mutawatir ialah suatu (hadits) yang diriwayatkan sejumlah rawi yang menurut adat mustahil mereka bersepakat berbuat dusta, hal tersebut seimbang dari permulaan sanad hingga akhirnya, tidak terdapat kejanggalan jumlah pada setiap tingkatan.

            Tidak dapat dikategorikan dalam hadits mutawatir, yaitu segala berita yang diriwayatkan dengan tidak bersandar pada pancaindera, seperti meriwayatkan tentang sifat-sifat manusia, baik yang terpuji maupun yang tercela, juga segala berita yang diriwayatkan oleh orang banyak, tetapi mereka berkumpul untuk bersepakat mengadakan berita-berita secara dusta.

            Hadits yang dapat dijadikan pegangan dasar hukum suatu perbuatan haruslah diyakini kebenarannya. Karena kita tidak mendengar hadis itu langsung dari Nabi Muhammad Saw, maka jalan penyampaian hadits itu atau orang-orang yang menyampaikan hadits itu harus dapat memberikan keyakinan tentang kebenaran hadits tersebut. 

Dalam sejarah para perawi diketahui bagaimana cara perawi menerima dan menyampaikan hadits. Ada yang melihat atau mendengar, ada pula yang dengan tidak melalui perantaraan pancaindera, misalnya dengan lafaz diberitakan dan sebagainya. Disamping itu, dapat diketahui pula banyak atau sedikitnya orang yang meriwayatkan hadits itu.

Apabila jumlah yang meriwayatkan demikian banyak yang secara mudah dapat diketahui bahwa sekian banyak perawi itu tidak mungkin bersepakat untuk berdusta, maka penyampaian itu adalah secara mutawatir.

  1.  Syarat-Syarat Hadits Mutawatir
Suatu hadits dapat dikatakan mutawatir apabila telah memenuhi persyaratan sebagai berikut :

1). Hadits (khabar) yang diberitakan oleh rawi-rawi tersebut harus berdasarkan tanggapan              (daya tangkap) pancaindera. Artinya bahwa berita yang disampaikan itu benar-benar merupakan hasil pemikiran semata atau rangkuman dari peristiwa- peristiwa yang lain dan yang semacamnya, dalam arti tidak merupakan hasil tanggapan pancaindera (tidak didengar atau dilihat) sendiri oleh pemberitanya, maka tidak dapat disebut hadits mutawatir walaupun rawi yang memberikan itu mencapai jumlah yang banyak.

2). Bilangan para perawi mencapai suatu jumlah yang menurut adat mustahil mereka untuk berdusta.
3). Diriwayatkan minimal sepuluh orang di setiap generasi[14]. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat tentang batasan jumlah untuk tidak memungkinkan bersepakat dusta.
  • Abu Thayib menentukan sekurang-kurangnya 4 orang. Hal tersebut diqiyaskan dengan jumlah saksi yang diperlukan oleh hakim.
  • Ashabus Syafi’i menentukan minimal 5 orang. Hal tersebut diqiyaskan dengan jumlah para Nabi yang mendapatkan gelar Ulul Azmi.
  • Sebagian ulama menetapkan sekurang-kurangnya 20 orang. Hal tersebut berdasarkan ketentuan yang telah difirmankan Allah tentang orang-orang mukmin yang tahan uji, yang dapat mengalahkan orang-orang kafir sejumlah 200 orang (lihat surat Al-Anfal ayat 65).
  • Ulama yang lain menetapkan jumlah tersebut sekurang-kurangnya 40 orang. Hal tersebut diqiyaskan dengan firman Allah :
Wahai nabi cukuplah Allah dan orang-orang yang mengikutimu (menjadi penolongmu).” (QS. Al-Anfal: 64).
Seimbang jumlah para perawi, sejak dalam thabaqat (lapisan/tingkatan) pertama maupun thabaqat berikutnya. Hadits mutawatir yang memenuhi syarat-syarat seperti ini tidak banyak jumlahnya, bahkan Ibnu Hibban dan Al-Hazimi menyatakan bahwa hadits mutawatir tidak mungkin terdapat karena persyaratan yang demikian ketatnya. Sedangkan Ibnu Salah berpendapat bahwa mutawatir itu memang ada, tetapi jumlahnya hanya sedikit.

Ibnu Hajar Al-Asqalani berpendapat bahwa pendapat tersebut di atas tidak benar. Ibnu Hajar mengemukakan bahwa mereka kurang menelaah jalan-jalan hadits, kelakuan dan sifat-sifat perawi yang dapat memustahilkan hadits mutawatir itu banyak jumlahnya sebagaimana dikemukakan dalam kitab-kitab yang masyhur bahkan ada beberapa kitab yang khusus menghimpun hadits-hadits mutawatir, seperti Al-Azharu al-Mutanatsirah fi al-Akhabri al-Mutawatirah, susunan Imam As-Suyuti(911 H), Nadmu al-Mutasir Mina al-Haditsi al-Mutawatir, susunan Muhammad Abdullah bin Jafar Al-Khattani (1345 H).

  1.  Faedah Hadits Mutawatir
Hadits mutawatir memberikan faedah ilmu daruri, yakni keharusan untuk menerimanya secara bulat sesuatu yang diberitahukan mutawatir karena ia membawa keyakinan yang qath’i (pasti), dengan seyakin-yakinnya bahwa Nabi Muhammad SAW benar-benar menyabdakan atau mengerjakan sesuatu seperti yang diriwayatkan oleh rawi-rawi mutawatir.
Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa penelitian terhadap rawi-rawi hadits mutawatir tentang keadilan dan kedlabitannya tidak diperlukan lagi, karena kuantitas/jumlah rawi-rawinya mencapai ketentuan yang dapat menjamin untuk tidak bersepakat dusta. Oleh karenanya wajiblah bagi setiap muslim menerima dan mengamalkan semua hadits mutawatir. 
Umat Islam telah sepakat tentang faedah hadits mutawatir seperti tersebut di atas dan bahkan orang yang mengingkari hasil ilmu daruri dari hadits mutawatir sama halnya dengan mengingkari hasil ilmu daruri yang berdasarkan musyahailat (penglibatan pancaindera).

  1.  Pembagian Hadits Mutawatir

Para ulama membagi hadits mutawatir menjadi
2 (dua) macam[15] :

1.
 Hadits Mutawatir Lafzi

Muhadditsin memberi pengertian Hadits Mutawatir Lafzi antara lain :

Suatu (hadits) yang sama (mufakat) bunyi lafaz menurut para rawi dan demikian juga pada hukum dan maknanya.

Pengertian lain hadits mutawatir lafzi adalah :

Suatu yang diriwayatkan dengan bunyi lafaznya oleh sejumlah rawi dari sejumlah rawi dari sejumlah rawi.

Contoh Hadits Mutawatir Lafzi :

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia bersedia menduduki tempat duduk di neraka.

Silsilah/urutan rawi hadits di atas ialah sebagai berikut :

Menurut Abu Bakar Al-Bazzar, hadits tersebut diatas diriwayatkan oleh 40 orang sahabat, kemudian Imam Nawawi dalam kita Minhaju al-Muhadditsin menyatakan bahwa hadits itu diterima 200 sahabat.

2. Hadits mutawatir maknawi

Hadits mutawatir maknawi adalah :
Artinya:
Hadis yang berlainan bunyi lafaz dan maknanya, tetapi dapat diambil dari kesimpulannya atau satu makna yang umum.

Artinya:
Hadis yang disepakati penulisannya atas maknanya tanpa menghiraukan perbedaan pada lafaz.

Jadi hadis mutawatir maknawi adalah hadis mutawatir yang para perawinya berbeda dalam menyusun redaksi hadis tersebut, namun terdapat persesuaian atau kesamaan dalam maknanya.

Contoh :
Artinya :
Rasulullah SAW tidak mengangkat kedua tangan beliau dalam doa-doanya selain dalam doa salat istiqa’ dan beliau mengangkat tangannya, sehingga nampak putih- putih kedua ketiaknya.” (HR. Bukhari Muslim)

Hadis yang semakna dengan hadis tersebut di atas ada banyak, yaitu tidak kurang dari 30 buah dengan redaksi yang berbeda-beda. Antara lain hadis-hadis yang ditakrijkan oleh Imam ahmad, Al-Hakim dan Abu Daud yang berbunyi :

Artinya:
Rasulullah SAW mengangkat tangan sejajar dengan kedua pundak beliau.



3.  Hadis ahad, pembagian dan contohnya
Pengertian Hadis Ahad
            Menurut bahasa, hadis ahad merupakan jamak dari kata ahad, yanga artinya satu (wahid), Khabar wahid adalah berita yang diriwayatkan oleh satu orang. Sedangkan menurut istilah, banyak para ulama yang medefinisikan hadis ahad. Diantaranya:
a.       Ajjaj Al-Khattib dalam bukunya Ushul al-Hadis ia mendefinisikan: “Hadis ahad adalah hadis yang diriwayatkan oleh satu, dua orang atau lebih, yang jumlahnya tidak memenuhi persyaratan hadis Masyhur dan hadis Mutawatir”.
b.      Abu Zamrah dalam kitabnya Ushul al-Fiqh, ia mendefinisikan hadis Ahad dengan: “Tiap-tiap khabar yang diriwayatkan oleh satu, dua orang atau lebih diterima dari Rasulullah SAW dan tidak memenuhi persyaratan hadis mutawatir”.
c.       Dr. Mahmud At-Thahan mendefinisikan hadis Ahad secara singkat:” Hadis yang tidak memenuhi syarat hadis Mutawatir.
      Singkatnya, Hadis ahad adalah hadis yang tidak memenuhi syarat-syarat hadis mutawatir. Ingatlah kembali syarat-syarat hadis mutawatir, sebagaimna yang telah diterangkan sebelumnya. Bila suatu hadis tidak memnhui syarat hadis mutawatir, maka hadis tersebut masuk kedalam kelompok hadis Ahad.

2.2 Hukum Hadis Ahad
             Hadis ahad menunjukan pengetahuan yang sifatnya toeritis (al-ilmu an-nadhari), yaitu pengetahuan yang tegak karena adannya toeri dan dalil. Jumhur Ulama Muslim sepakat bahwa beramal dengan hadis Ahad yang telah memenuhi ketentuan Maqbul, hukumnya wajib. Abu Hanifah, Imam Syafi’I dan Imam Ahmad memakai hadis Ahad bila syarat-syarat periwayannya yang shahih bisa terpenuhi, hanya saja Abu Hanifah menetapkan syarat tsiqah dan adil bagi perawinya serta amaliahnya tidak menyalahi hadis yang diriwayatkan.
            Sedangkan golongan Qadariyah, Rifadah dan sebagian ahli Dhahir menetapkan bahwa beramal dengan dasar hadis ahad hukumnya tidak wajib. Begitu pula pendapat al-Juha’I dari golongan Mu’tazilah.

2.3 Pembagian Hadis Ahad
            Dilihat dari segi jumlah rawi, maka hadis ahad terbagi kedalam tiga bagian, yaitu hadis masyhur (hadis mustafidh), hadis ‘aziz dan hadis gharib. Ada juga ulama yang tidak menyamakan hadis masyhur dengan mustafidh dengan demikian hadis ahad menjadi empat kelompok, yaitu hadis mustafidh, hadis masyhur, hadis ‘aziz dan hadis gharib.

2.3.1 Hadis Masyhur (hadis Mustafidh)
a.      Pengertian Hadis Masyhur
Menurut bahasa merupakan isim maf’ul dari syahartu al-amra, yang berarti saya mengumumkan atau menampakkan suatu perkara. Disebut seperti itu karena penampakannya yang jelas. Atau berarti yang sudah tersebar atau yang sudah popular. Sedangkan menurut istilah adalah hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang rawi atau lebih, serta belum mencapai derajat mutawatir. Menurut Ulama fiqhi, hadis masyhur itu  muradif dengan hadis Mustafidh, sedang  ulama lain membedakannya. Yakni, suatu hadis dikatakan mustafidh jika rawi-rawinya berjumlah tiga orang atau lebih sedikit, sejak dari thabaqah pertama samapai thabaqah terakhir. Sedang hadis Masyhur lebih umum dari hadis mustafidh. Yakni jumlah rawi dalam tiap-tiap thabaqah tidak harus selalu sama banyaknya, atau seimbang. Karena itu, dalam hadis masyhur, bisa terjadi jumlah-jumlah rawinya dalam thabaqah pertama, sahabat. Thabaqah kedua, Tabiiy. Thabaqah ketiga, tabi’it-tabi’in, terdiri dari seorang saja, baru kemudian jumlah rawi-rawi dalam thabaqah kelima dan seterusnya banyak sekali.
b.      Contoh Hadis masyhur
Contoh Hadis masyhur yang ditakhrijkan oleh Bukhari-Muslim dari sahabat Ibnu Umar r.a.:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم
(انماالعمال بالنيات وانمالكل امرئ مانوى)
عمر بن خطاب
ط.1
علقمة بن قامر
ط.2
محمد بن ابراهم النيمى
ط.3
يحيى بن سعيد الانصاري
ط.4
سفيان
حماد
الليث
مالك
عبد الوهاب
الحميد
نعمان
مسدر
ابوزيع
محمدبن ومح
ابن مسلم
ابن المثنى
البخـــــــاري
مســـــــــــــلم


(Rasulullah SAW bersabda:” Hanya amal-amal itu dengan niat dan hanya bagi tiap orang itu memperoleh apa yang ia niatkan…dan seterusnya.)
Hadis tersebut pada thabaqah pertama hanya diriwayatkan oleh sahabat Umar sendiri, pada thabaqah kedua hanya diriwayatkan oleh Al-qamah sendiri, pada thabaqah ketiga hanya diriwayatkan oleh Ibnu Ibrahim At-taimy sendiri dan pada thabaqah keempat hanya diriwaytkan oleh  yahya bin Sa’ad sendiri.. Dari yahya bin Sa’ad inilah hadis tersebut diriwayatkan oleh orang banyak. Ditinjau dari segi klasifikasi hadis ahad yang lain, maka hadis Umar tersebut dapat dikatakan dengan Hadis-Gharib pada awalnya Masyhur pada akhirnya.


c.       Hukum Hadis Masyhur
Hadis Mayhur dapat diklaim sebagai hadis yang shahih atau tidak shahih, melainkan ada yang shahih, ada juga yang hasan, dhaif bahkan yang maudlu. Hadis Masyhur menurut istilah hadis yang shahih memiliki kriteria lebih kuat dari hadis dari hadis ‘aziz dan hadis gharib.

d.      Kitab-kitab yang popular
Yang dimaksud kitab-kitab hadis masyhur disini adalah hadis-hadis masyhur yang beredar ditengah-tengah masyarakat, bukan masyhur mrnurut istilah ahli hadis, diantaranya:
·         Al-maqashid al-Hasanah fima Isytahara ‘ala al-sinati. Karya As-Sakhawi.
·         Kasyfu al-Kafha wa Muzail al-Ilbas fima Isytahara min al-Hadis ‘ala al-sinati an-Nas. Karya al-Ajiluni.
·         Tamyizu at-thayyib min al-khabits fima yadurru ‘ala Al-sinati an-Nas min al-Hadis. Karya Ibnu ad-Daiba as-Syaibani.

2.3.2        Hadis ‘Aziz
a.       Pengertian Hadis ‘Aziz
Menurut bahasa merupakan sifat Musyabbah dari kata ‘azza-yaizzu, yang artinya sedikit atau jarang. Atau juga sifat Musyabbahah dari kata ‘azza-ya’azzu, yang artinya kuat atau keras. Disebut demkian karena sedikit atau jarang keberadaannya melalui jalur lain. Sedangkan menurut istilah adalah hadis yang diriwayatkan oleh dua orang rawi, walaupun dua orang rawi tersebut terdapat pada satu thabaqah saja, kemudian setelah itu, orang-orang pada meriwayatkannya.
Menurut pengertian tersebut, yang dikatakan hadis ‘Aziz itu, bukan saja yang hanya diriwayatkan oleh dua orang rawi pada setiap thabaqah, yakni sejak dari thabaqah pertama sampai dengan thabaqah terakhir harus terdiri dari dua-dua orang. Sebagaimana yang dita’rifkan oleh sebagian Muhadditsin, tetapi selagi pada salah satu thabaqah (lapisan) saja didapati dua orang rawi, sudah bisa dikatakan hadis ‘Aziz. Ibnu hibban berpebdapat bahwa hadis ‘Aziz yang hanya diriwayatkan oleh  dan kepada dua orang. Sejak dari Thabaqah pertama sampai thabaqah terakhir, tidak sekali-kali terjadi. Kemungkinan terjadi memang ada, hanya saja sulit untuk dibuktikannya, atau memang mungkin kita belum dapat menemukannya.
b.      Contoh Hadis ‘Aziz
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم
(لايؤمناحدكم حتى اكون احب اليه من نفسه ووالده والناس اجمعين)
انس بن مالك
ط
قتادة
عبدالعزيز بن صهيب
ط
حسين بن المعلم
سعبة
اسماعيل بن علية
عبد الوارث
ط
يحيى بن سعيد
ادم
محمد بن جعفر
زهيرر بن حرب
شببان
ط
مسدد

ابن بشار
ابن المثنى
بن ابي شببة

البخــــــاري
مسـلـم


Sahabat Anas bin Malik memberikan hadis tersebut kepada dua orang, yaitu Qatadah dan Abdul Aziz bin Shuhaib. Dari Qatadah diterima dua orang pula, yaitu Husain Al-Mua’allim dan Syu’bah. Dari Abdul ‘Aziz diriwayatkan oleh dua orang, yakni Abdul Warid dan Ismail bin ulaiyyah. Seterusnya dari Husain diriwayatkan oleh Yahya bin Sa’id, dari Syu’bah diriwayatkan oleh Adam, Muhammad bin Ja’far dan juga oleh yahya bin sa’id. Dari Ismail diriwayatkan oleh Zuhair bin Harb dan dari Abdul Waris, diriwayatkan oleh Syaiban bin Abi syaiban. Dari Yahya diriwayatkan oleh Musaddad dan dari Ja’ari diriwayatkan oleh Ibnul Mutsanna dan Ibnu Basyar sampai kepada Bukhary dan Muslim.

Dengan memperhatikan jumlah rawi-rawi pada tiap-tiap thabaqah yang ternyata pada thabaqah pertama terdiri dari seorang rawi, pada thabaqah kedua terdiri dari dua orang, pada thabaqah ketiga terdiri dari empat orang rawi, pada thabaqah keempat terdiri dari lima orang rawi dan stereusnya. Maka hadis tersebut dikatakan sebagai Hadis ‘Aziz pada awalnya dan Masyhur pada akhirnya.
c.       Kitab-kitab Populer
Para Ulama tidak menyususn secara tersendiri kitab tertentu untuk hadis ‘Aziz. Tampaknya hal itu disebabkan sedikit atau tidak ada manfaatnya menyusun kitab teresebut
2.3.3        Hadis Gharib
a.       Pengertian Hadis Gharib
Menurut bahasa, Gharib merupakan sifat Musyabbahah yang bermakna al-munfarid (sendiri), atau jauh dari karib kerabat
Menurut istilah, gharib merupaka hadis yang dalam sanadnya terdapat seorang yang menyendiri dalam meriwayatkan, dimaa saja dalam penyendirian dalam sanad itu terjadi
b.      Pembagian Hadis Gharib
Ditinjau dari segi bentuk penyendirian rawi seperti tertera diatas, maka hadis gharib itu terbagi dua macam, yaitu gharib mutlak dan gharib nisbi.
·         Gharib mutlak (fard)
Apabila penyendirian rawi dalam meriwayatkan hadis itu mengenai personalianya, maka hadis yang diriwayatkan dalam hadis gharib-mutlak. Penyendirian rawi hadis gharib-mutlak ini harus berpangkal ditempat ahlus-sanad, yakni tabin, bukan sahabat, senbab yang menjadi tujuan memperbincangkan penyendirian rawidalam hadis gharib disini, ialah untuk menetapkan apakah ia masih bias diterima periwayatannya ataw ditolak sama sekali. Sedangkan kalau yang menyendiri itu seorang sahabat, sudah tidah perlu diperbincangkan lagi, karena sudah diakui oleh umum bahwa sahabat-sahabat itu adalah adil semuanya.
Penyendirian raw dalam hadis gharib-mutlak itu, dapat terjadi pada tabi’in saja (ahlussanad), atau pada tabi’it-tabi’in ataw dapat juga pada seluruh rawi-rawinya ditiap-tiap thabaqah.
Contoh hadis gharib mutlak yang hamper seluruh rawinya menyendiri, ialah hadis bukhari-muslim.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم
(الايمان بضع وسبعون شعبة. والحياء شعبة من الايمان)
ابو هريرة
ابو صالح السند
عبدالله بن دينار
سليمان بلال
ابو عامر
عبدالله بن محمد
عبد بن حامد
عبدالله بن سعيب
البجاري
مسلم
            Yang meriwayatkan hadis tersebut diatas dari sahabat abu hurairah r.a hanya tabi’iy abu shalih saja dari abu shalihpun  hanya diriwayatkan oleh Abdullah bin dinar saja. Dari ibnu dinar diriwayatkan oleh sulaiman bin bilal terus abu amir. Dari abu amir diriwatkan oleh tiga orang rawi yang seorang daripada mereka adalah sanad pertama imam bukhari, yaitu Abdullah bin Muhammad, sedang yang dua orang lagi, yaitu ubaidillah bin sa’id dan abdun bin humaid, adalah dijadikan sanad pertama oleh imam muslim.
·         Gharib nisbi
 Apabila penyendirian itu mengenai sifat-sifat atau keadaan tertentu seorang rawi,maka hadis yang diriwayatkannya disebut dengan hadits Gharib-nisby. Penyendirian rawi mengenai sifat-sifat atau keadaan tertentu dari seorag rawi, mempunyai beberapa kemungkinan, antara lain:
a)      Tentang sifat keadilan dan kedlabithan (kesithqohan) rawi.
Misalnya hadis muslim tentag pertanyaan ‘umar bin alkhattab r.a. kepada abu waqid Al-laitsi prihal surat-surat apa yang dibaca oleh nabi pada shalat dua hari raya, jawab abu waqid.
“rasulullah SAW. Pada hari raya kurban dan hari raya fitri membaca surat qaaf dan surat al-qomar”
Dumrah bin said al-Maziny, salah seorang rawi muslim, adalah orang yang tsiqiah yang meriwayatkan selain dia sendiri. Ia sendiri yang meriwayatkan hadist tersebut dari ubaudilah, dari abu waqid al-laitsy. Ia disifatkan dengan menyendiri tentang ketsiqohannya. Dinisabkan kepada rawi Ad-Daruqutni, yakni ibnu lahiyah, yang meriwayatkan hadits tersebut dari Khalid bin yazid dari ‘urwh dari ‘aisyah r.a. ibnu lahihah oleh jumhur didla’ifkan.
b)      Tentag kota atau tempat tinggal tertentu.
Misalnya hadis yang diriwayatkan oleh rawi-rawi dari basrah saja, ialah:
“rasulullah saw. Memerintahkan kepada kita agar kita membaca surat Al-Fatihah dan surat yang mudah dari Al-Quran.”
Hadis yang ditkrijkan oleh abu daud dengan sanad abul walid at-thayalisy, hammam qatadah, abu nadrah, dan said ini, tidak ada rawi yang meriwayatkannya, selain rawi-rawi yang berasal dari kota basrah.
Demikian juga hadis an-nasai yang bersanadkan abu zakin dan hisyam bin urwah, secara marfu’:
“makanlah buah kurma muda denga yang masak, sebab bila bani adam memakan kurma muda, setan-setan marah.”
c)      Tentang meriwayatkannya dari rawi tertentu.
Misalnya hadis anas bin malik r.a., ujarnya:
“Ibahwa rasulullah saw. Mengadakan walimah untuk shofiah dengan jamuan makanan yang terbuat dari tepung gandum dan kurma.”
Disamping pembagian hadis gharib sebagaimana tertera diatas, kalau penyendirian itu ditinjau dari segi letaknya, dimatankah atau disanad, terbagi tiga bagian, yakni:
o   Gharib pada sanad da matan.
o   Gharib pada sanadnya saja.
o   Gharib pada sebagian matannya.
d)     Cara-cara untuk menetapkan keghariban hadis (I’tibar).
Untuk menetapkan suatu hadis itu gharib hendaklah diperiksa lebih kitab-kitab hadis, apakh hadis tersebut mempunyai sanad lain selain sanad yang dicari kegharibannya itu atau tidak, kalu ada hilangkan kegharibannya.
Cara untuk melakukan pemeriksaan terhadap hadis yang diperkirakan gharib dengan maksud apakah hadis tersebut mempunyai mutabi’ atau syahid, disebut I’tibar.
Adapun yang dimaksud dengan mutabi’ ialah, hadis yang mengikuti periwayatan rawi lain sejak pada gurunya (orang terdekat).
Dan adapun makna dari istilah syahid adalah: meriwayatkan sebuah hadis lain dengan sesuai maknanya.
4.  Hadis shahih
A.    Definisi Hadits Shahih
Kata shahih secara etimologi berasal dari kata shahha, yashihhu, shuhhan wa shihhatan wa shahahan, yang berarti sehat, yang selamat,  yang benar, yang sah, dan yang sempurna. Menurut para ulama shahih adalah sebagai lawan kata dari saqim (sakit). Maka kata hadis shahi’h menurut bahasa, berarti yang sah, hadis yang sehat, atau hadis yang selamat.
Sedangkan secara terminologis, hadist shahih  didefinisikan oleh para ahli hadits sebagai berikut:

الحديث الصحيح هو الحديث الذي اتصل سنده بنقل العدل الضابط الى منتهاه و الا يكون شاذا ولامعللا  

“hadits shahih adalah hadits yang bersambung sanadnya, yang diriwayatkan oleh rawi yang ‘adil dan dhabit dari rawi lain yang juga ‘adil dan dhabit sampai akhir sanad, dan hadits itu tidak janggal serta tidak mengandung cacat (‘illat). [16]
Dalam literature lain juga disebutkan bahwa para muhadditsin  mendefinisikan hadits Shahih sebagai hadits yang dinukil (diriwayatkan) oleh rawi yang adil, sempurna ingatan, sanadnya bersambung, tidak ber-‘illat dan tidak janggal.
ما نقله عدل تام الضبط متصل السند غير معلل و لا شاذ[17]

B.     Kriteria Hadits Shahih
Berdasarkan beberapa definisi hadis shahih, sebagai mana yang dikemuka kan oleh para ulama di atas, diketahui adanya lima syarat yang harus dipenuhi, yaitu: 1) diriwayatkan oleh para pe-rawi  yang adil; 2) ke-dhabith-an para perawinya harus sempurna; 3) antara satu sanad dengan sanad lainnya bersambung; 4) tidak mengandung cacat atau illat; dan 5) manat-nya tidak janggal atau syadz.
1.      Mengenai Sanad
a.       Diriwayatkan oleh para pe-rawi yang adil
Kata adil, dari kata adala yaitu ya’dihu adalatan wa udulatan, yang menurut bahasa berarti lurus, tidak berat sebelah, tidak  lazim, dan tidak menyimpang.
Yang dimaksud dengan istilah adil dalam periwayatan disini, secara terminologis mempunyai arti spesifik atau khusus yang sangat ketat dan berbeda dengan istilah adil dalam terminologi hukum. ‘adil di sini berarti:
§  selalu taat kepada Allah dan Rasulnya, serta menjauhi maksiat
§  menjauhi dosa kecil yang dapat merendahkan martabat dirinya
§  tidak melakukan perbuatan yang menyebabkan penyesalan.[18]

Ke-adil-an para pe-rawi menurut para ulama dapat diketahui melalui: pertama, keutamaan kepribadiaan nama pe-rawi sendiri yang terkenal dikalangan ulama ahli hadis, sehingga ke-adilannya tidak diragukan lagi; kedua, penilaian dari para ulama lainnya, yang melakukan penelitian terhadap para pe-rawi , tentang ke-adil-an pe-rawi-pe-rawi hadis; dan ketiga, penerapan kaidah al-jahrh wa at-tadil, apabila terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama penelitian terhadap  pe-rawi  tertentu.[19]
b.      Ke-dhabith-an pe-rawi-nya sempurna
Kata dhabith dari kata dhabatha, yadhbithu, dhabthan, berarti yang kokoh, yang kuat, yang cermat, yang terpelihara, dan yang hafal dengan sempurna. Maka, ungkapan ungkapan pe-rawi yang dhabith, berarti pe-rawi yang cermat atau pe-rawi yang kuat.
Dikatakan pe-rawi yang sempurna ke-dhabith-annya, yang dimaksudkan disini, ialah pe-rawi yang baik hafalannya, tidak pelupa, tidak banyak ragu, dan tidak banyak salah, sehingga ia dapat mengingat dengan sempurna hadis-hadis yang diterima dan diriwayatkannya.
Dari sudut kuatnya ingatan pe-rawi, para ulama membagi ke dhabith-an ini menjadi dua, yaitu: pertama, dhabth shadr atau disebut juga dengan dhabth fu’ad, dan kedua, dhabth kitab. Dhabth shadr, artinya terpeliharanya hadis yang di terimanya kepada orang lain, kapan saja periwayatan itu diperlukan. Sedang dhabth kitab artinya terpeliharanya periwayatan itu melalui tulisan-tulisan yang dimikilinya[20].
c.       Antara sanad-sanad-nya harus muttashil (hal 162 utang ranuwijaya)
Kata muttashil dari kata ittashala, yattashilu,ittishalan, yang secara bahasa berarti bersambung atau yang berhubungan. Maka kata sanad yang muttashil, secara bahasa berarti sanad-sanad yang berhubungan atau yang bersambung.
Yang dimaksud dengan sanad hadis yang muttashil di sini, ialah sanad-sanad hadis yang antara satu dengan yang lainnya pada sanad-sanad yang disebut beruntun, bersambungan atau merangkai. Dengan kata lain, di antara pembawa hadis dan penerimannya terjadi pertemuan langsung. Dengan persambungan ini, sehingga menjadi silsilah atau rangkaian sanad yang sambung menyambung, sejak awal  sanad sampai kepada sumber hadis itu sendiri, yaitu Rasul SAW.[21]
d.      Tidak ada cacat atau illat
Kata illat, dari kata alla, ya’ullu, atau dari alla ya illu, yang secara bahasa berarti penyakit,  sebab, alasan, atau uzur/halangan.
Secara terminologis, yang dimaksud dengan illat disini, ialah suatu sebab yang tidak nampak atau samar-samar yang dapat mencacatkan ke-shahih-an suatu hadis.  Maka, yang di sebut hadis tidak ber-illat berarti hadis yang tidak memiliki cacat, yang disebabkan adaya hal-hal yang tidak baik, yang kelihatannya samar-samar. Dikatakan samar-samar, karena jika dilihat dari segi zhahir-nya, hadis tersebut terlihat shahih. Adanya cacat yang tidak nampak tersebut, mengakibatkan adanya keraguan, sedang hadis yang didalamnya terdapat keraguan seperti ini kualitasnya menjadi tidak shahih. Misalnya, menyebabkan muttashil terhadap hadis yang munqathi atau yang mursal.
e.       Tidak ada kejanggalan atau syadz
Maksud dari hadit yang tidak syadz adalah hadits yang tidak bertentangan dengan hadits lain yang sudah diketahui tinggi kualitas ke-shahih­-annya.[22] Syadz di sini juga berarti rancu, suatu kondisi di mana seorang rawi berbeda dengan rawi lain yang lebih kuat posisinya.[23]
2.      Mengenai Matan
¨      Pengertian yang terkandung dalam matan tidak boleh bertentangan dengan ayat al-Qur’an atau hadits mutawatir walaupun keadaan rawi sudah memenuhi syarat.
¨      Pengertian dalam matan tidak bertentangan dengan pendapat yneg disepakati ulama, atau tidak bertentangan dengan keterangan ilmiah yang kebenarannya dapat dipastikan dengan kesepakatan para ilmuan.
¨      Tak ada kejanggalan lainnya, jika dibandingkan dengan matan hadits yang lebih tinggi tingkatan dan kedudukannya.[24]
C.     Klasifikasi hadits shahih
Hadits shahih dapat diklasifikasikanmenjadi dua bagian:
1.      Hadits shahih Lizatih
Hadits shahih Lizatih adalah hadits shahih yang dengan sendirinya, yakni memenuhi syara-syarat hadits shahih secara lengkap. Contoh:
حدثنا عبد الله  بن يوسف اخبرنا مالك عن نافع عن عبد الله ان رسول الله                                     
 صلى الله عليه و سلم قال اذا كانوا ثلاثة فلا يتناجى اثنان دون الثالث                                                       (رواه البخارى)                                                  
Artinya:
Bukhari berkata: Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “apabila mereka bertiga, ajanganlah dua orang berbisik tanpa ikut serta orang ketiga.”[25]
2.      Hadits shahih Lighairih
Hadits shahih Lighairih adalah hadits yang tingkatannya berada di bawah hadits shahih dan menjadi hadits shahih karena kerna diperkuat oleh hadits-hadits yang lain. Contoh:
عن ابى هريرة رضي الله عنه ان رسول الله ص م قال لولا ان اشق على امتى لامرتهم بالسواك عند كل صلاة                                                                                                                                                              (رواه البخارى و الترمذى)                                                
 Artinya:
dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda,”sekiranya aku tidak menyusahkan umatku, tentu aku menyuruh mereka bersiwak (menggosok gigi ) setiap hari.”[26]

D.    Status kehujjahan hadits shahih
Secara umum, para ulama berpendapat bahwa hadits ahad yang shahih dapat dijadikan hujjah untuk menetapkan syari’at Islam.  Akan tetapi mereka berbeda pendapat dalam menentukan status kehujjahan hadits shahih untuk menetapkan masalah-masalah akidah.
Perbedaan pandangan ini terletak pada penilaian apakah hadits shahih memberikan faidah yang bersifat qath’i atau dzanni. Menurut ulama yang memandang hadits ini memberikan faidah qath’i, maka sebagaimana hadits mutawatir, hadits-hadits ini dapat dijadikan hujjah untuk menetapkan masalah-masalah akidah. Namun, menurut sebagaian ulama yang memandang bahwa hadits ini tidak memberikan faidah qath’i, maka tidak bisa dijadikan hujjah untuk menetapkan masalah akidah. Bagi sebagian ulama ahli hadits, hadits shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim memberikan faidah qath’i. Menurut ulama yang lain, semua hadits shahih memberikan faidah qath’i, tanpa dibedakan dari sisi siapa yang meriwayatkan. Semua hadits, menurutnya, jika sudah memenuhi syarat ke-shahih-annya, adalah sama dalam memberikan faidahnya.[27]
E.     Gradasi Silsilah Sanad Hadits Shahih
Berdasarkan kriteria sanadnya, para ulama ahli hadits membagi hadits shahih menjadi:
1.      Hadits yang disepakati oleh al-Bukhari dan dan Muslim (muttafaqun ‘alaih).
2.      Hadits yang di-takhrij (diriwayatkan) oleh Al-Bukhari saja.
3.      Hadits yang di-takhrij (diriwayatkan) oleh Muslim saja.
4.      Hadits yang di-takhrij (diriwayatkan) atas dasar syarat-syarat Al-Bukhari dan Muslim, akan tetapi tidak ditakhrijnkan oleh keduanya.
5.      Hadits yang di-takhrij (diriwayatkan) atas dasar syarat-syarat Al-Bukhari, akan tetapi tidak ditakhrijnkan oleh Al-Bukhari.
6.      Hadits yang di-takhrij (diriwayatkan) atas dasar syarat-syarat Muslim, akan tetapi tidak ditakhrijkan oleh Muslim
7.      Hadits yang di-shahih-kan oleh para ahli hadits selain selain keduanya dan tanpa syarat dari keduanya.[28]
F.      Kitab-kitab yang memuat hadits shahih
Adapun Kitab-kitab yang memuat hadits shahih di antaranya adalah:
1.      Kitab Al-Muwata’
Kitab ini disusun oleh Imam Malik bin Anas, seorang ahli fikih, mujtahid, pakar hadits, dan seorang pemuka (imam) umat Islam dari Madinah. Sebagian ulama berpendapat bahwa kitab ini merupakan kitab tentang hadits shahih yang pertama kali disusun, karena kehati-hatian Imam  Malik dalam memilih hadits-haditsnya.
2.      Jami Shahih al-Bukhari
Kitab ini disusun oleh Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bi Mughirah  al-Bukhari al-Jufi. Dalam kitab ini imam Al-Bukhari bermaksud mengungkap fikih hadits shahih dan menggali berbagai kesimpulan hukum yang bermanfaat, kemudian menjadikan kesimpulan-kesimpulan tersebut sebagai judul bagi bab-babnya.
3.      Shahih Muslim
Kitab ini disusun oleh Imam Muslim bin Al-Hajjaj Al-Naisaburi, murid imam Al-Bukhari. Metode penyusunan kitab ini berbeda dengan apa yang ditulis oleh gurunya. Imam Muslim tdak bermaksud untuk mengungkap fikih hadits, melainkan untuk mengungkapkan ilmu-ilmu yang bersanad, sebab ia telah menghimpun jalur-jalur dan sanad-sanadnya di tempat yang paling sesuai.
4.      Shahih Ibn Khizaiman
Kitab ini disusun oleh seorang imam dan muhaddits besar Abu Abdillah Abu Bakar Muhammad bin Ishak bin Khuzaimah (w.311) yang dikenal sangat teliti.
5.      Shahih Ibn Hibban
Kitab ini disusun oleh murid Al-Khuzaimi, Abu Hatim Muhammad bin Hibban Al-Busti (w. 354 H ) dengan sistematika tersendiri tanpa menggunakan bab.[29]
G.    Hadits shahih dalam kitab Syi’ah dan Sunni
Di bawah ini adalah hadits shahih dalam kitab shahih Bukhari dalam bab thaharah mengenai keutamaan bersiwak.
H.    عن ابى هريرة رضي الله عنه ان رسول الله ص م قال لولا ان اشق على امتى لامرتهم بالسواك عند كل صلاة                                                                                                                                                                          (رواه البخارى و الترمذى)                                                
Hadits ini juga terdapat dalam kitab al-furu’ min al-Kafi  dalam bab thaharah, dengan redaksi yang sama dan sanad yang berbeda. Sebab hadits ini diriwayatkan dari jalur yang berbeda.
علي بن محمد عن سهل و علي بن ابراهيم عن ابيه جميعا عن جعفر بن محمد الاشعري عن عبد الله بن ميمون القداح عن ابي عبد الله قال ركعتان بالسواك افضل من سبعين ركعة بغير سواك قال قال رسول الله ص م
 لولا ان اشق على امتى لامرتهم بالسواك عند كل صلاة [30]
5.  Hadis hasan
I.                   Hadis Hasan
Ulama yang pertama kali mempopulerkan istilah hadis hasan adalah al-Imam Abu Isa al-Tirmidzi. Beliau banyak menyebutkan hadits hasan dalam kitab sunannya, sehingga para ahli hadits menganggap kitab beliau sebagai Kitab Al-Sunan Al-Asli Fi Ma'rifat Al-Hasan (kitab sunan yang murni mengetahui hadits hasan). Para ulama belum pernah menyusun kitab khusus yang terpisah dan isinya berupa hadis-hadis hasan saja sebagaimana yang dijumpai pada hadis-hadis shahih. Meski demikian, banyak kitab yang di dalamnya terdapat banyak hadis hasan, yang populer antara lain; jami’ at Tirmidzi, sunan Abu Daud, dan Sunan ad Daruquthni.[31]
Para ulama sebelum Imam Tirmidzi membagi hadits hanya menjadi dua macam, yaitu  shohih dan dloif. Menurut mereka hadits dloif dibagi menjadi dua; dloif yang tidak dilarang untuk diamalkan (menyerupai hadits hasan menurut istilah Imam Tirmidzi) dan dloif yang wajib untuk ditinggalkan, yaitu hadits yang lemah.
Definisi
Menurut bahasa : merupakan sifat musyabbahah dari kata al-husn , yang berarti al – jamal ( bagus).
Mengenai definisi hadits hasan secara terminologi, para ulama terjadi perbedaan pendapat. Hal itu disebabkan karena posisi hadits hasan yang berada diantara hadits shohih dan dloif. Imam al-Khuthobi mendefinisikannya sebagai hadits yang diketahui tempat keluarnya dan terkenal para rawinya. Imam al-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits hasan adalah setiap hadits yang diriwayatkan, pada sanadnya tidak terdapat orang yang tertuduh dusta, tidak terdapat kejanggalan pada matannya dan hadits tersebut diriwayatkan tidak dari satu jalur (mempunyai banyak jalur) yang sepadan maknanya, Sedangkan mayoritas ahli hadits menta'rif hadits hasan sebagai:
"Hadits yang dinukilkan oleh seorang yang adil tapi tidak begitu kokoh ingatannya, bersambung sanadnya, tidak terdapat illat serta kejanggalan pada matannya."
Syarat-syarat hadits hasan:
1)      Sanadnya bersambung
2)      Para rawinya adil
3)    Para rawinya dlabith. Maksudnya derajat kedlabitannya dibawah rawi hadits shahih
4)      Tidak terdapat syudzudz (kejanggalan dalam matan)
5)      Tidak terdapat illat (cacat dalam matan).

Hukum hadits hasan
Bisa dijadikan sebagai hujjah(argumen), sebagaimana hadits shahih, meskipun dari segi kekuatannya berbeda. Seluruh fuqaha menjadikannya sebagai hujjah dan mengamalkannya, begitu pula sebagian besar pakar hadits dan ulama ushul, kecuali mereka yang memiliki sikap keras. Sebagian ulama yang lebih longgar mengelompokannya dalam hadits shahih, meski mereka mengatakan tetap berbeda dengan hadits shahih yang telah dijelaskan sebelumnya. Mereka itu seperti al-hakim Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah.[32]

Klasifikasi Hadits Hasan
Hadits hasan terbagi menjadi dua:
a.       Hasan Lidzatihi
Yaitu hadits yang sanadnya bersambung dengan dinukil dari orang adil yang kadlabitannya dibawah derajat perawi hadits shahih serta tidak terdapat kejanggalan dan cacat dalam matannya. Dari keterangan di atas dapat disimpulakan bahwa uraian yang telah disampaikan oleh para muhaddtsin tentang hadits hasan adalah hadits hasan lidzatihi. Hadis hasan lidzatihi itu dapat berasal dari pertama hadis tersebut memang pada dirinya sendiri berkedudukan sebagai hadis hasan atau hadis tersebut sebelumnya adalah hadis shahih hanya saja ditemukan kekurangan pada kualitas perawinya maka hadis tersebut turun menjadi hadis hasan lizdatihi.
Contoh hadis hasan lidzatihi
“Telah bercerita kepada kami Qutaibah, telah bercerita kepada kami ja’far bin sulaiman ad dhuba’i, dari abi ‘imran al jauni, dari abu bakar bin abu musa al asy’ari yang berkata: aku mendengar bapakku berkata –di hadapan musuh-: Rasulullah saw bersabda: sesungguhnya pintu-pintu surga itu berada di bawah kilatan pedang.”
Hadis ini hasan karena empat orang perawi sanadnya tergolong tsiqah, kecuali ja’far bin sulaiman ad dhuba’i. Jadilah hadis ini hadis hasan. Karena hal itu pula hadis yang martabatnya shahih turun menjadi hasan.

b.      Hadis Hasan Lighairihi
Hadits hasan lighairih adalah hadits dloif yang jalurnya banyak (sanadnya dari berbagai jalur) dan sebab kedlaifannya bukan karena kefasikan atau kedustaan seorang rawi. Dari definisi ini dapat diambil suatu kesimpulan bahwa hadits dloif bisa naik derajatnya menjadi hadits hasan lighairihi dengan dua hal:
1)      Hadits tersebut diriwayatkan dari jalur lain, baik kualitas sama atau lebih kuat.
2)   Kedloifan hadits tersebut adakalanya disebabkan karena; buruknya hafalan rawi, terputusnya sanad atau rawinya tidak diketahui biografinya.
6. Hadis daif
1.Ta’rif hadits dla’if
Hadis dla’if adalah bagian dari hadits mardud. Ditinjau dari segi bahasa dla’if adalah lemah lawan dari al- qowi, yaitu  kuat. Kelemahan hadits dla’if ini karena sanad dan matan-nya tidak memenuhi kriteria hadits kuat yang di terima sebagai hujjah. Dalam istilah hadits dla’if adalah:
هُوَ مَا لَمْ يَجْمَعْ صِفَتَ الْحَسَنِ بِفَقْدِ شَرْطٍ مِنْ شُرُوْطِهِ
Adalah hadits yang tidak menghimpun sifat hadits hasan sebab satu dari beberapa syarat yang tidak terpenuhi.
atau definisi lain yang biasa diungkapkan mayoritas ulama:
هُوَ مَا لَمْ يَجْمَعْ صِفَتَ الصَّحِيْحِ وَالْحَسَنِ
Adalah hadits yang tidak menghimpun sifat hadits sohih dan hasan
Jadi hadits dla’if adalah hadits yang tidak memenuhi sebagian atau semua persyaratan hadits hasan atau hadits sohih, misalnya sanadnya tidak bersambung (muttashil), para perawinya tidak adil dan tidak dhabit, terjadi keganjilan baik dalam sanad atau matan (syadzdz) dan terjadinya cacat yang tersembunyi (‘illah) pada sanad dan matan.
Hadits dla’if itu banyak macam dan ragamnya, dan mempunyai perbedaan derajat satu sama lain, disebabkan banyak atau sedikitnya syarat-syarat hadits sohih atau hasan yang tidak di penuhinya. Hdits dla’if akan lebih dla’if lagi apabila sanadnya tidak bersambung-sambung dan perawinya tidak ‘adil dari pada hadits dla’if yang hanya keguguran satu syarat maqbul (syarat- syarat yang di terima untuk hadist sohih dan hasan saja), baik pada sanadnya, maupun pada rawynya.
Al-‘iraqy membagi hadits dla’if menjadi 42 bagian dan sebagian ulama yang lain membaginya menjadi 129 bagian.
2. Jenis-jenis hadits dla’if
1.      Hadits mursal
Hadits mursal yaitu:

ما رفعه التابعي إلى الرسول صلى الله عليه وسلم من قول او فعل او تقرير صغيرا كان التابعي او كبيرا.
hadits yang dimarfu’kan oleh seorang tabi’iy kepada rasulullah SAW, baik berupa sabda, perbuatan maupun taqrir, baik tabi’iy itu kecil atau besar.
Definisi seperti itulah yang digunakan oleh mayoritas ahli hadits, hanya saja mereka tidak memberikan barasan tabi’iy kecil atau besar. Ada sebagian ulama yang memberikan batasan bahwa hadits mursal adalah yang dimarfu’kan oleh tabi’iy besar saja. Karna umumnya periwayatan tabi’iy besar adalah dari sahabat. Sebagian ahli hadits tidak menilai hadits yang dimursalkan oleh tabi’iy kecil sebagai hadits mursal, tetapi hadits munqoti’ . karena sebagian besar periwayatan mereka adalah dari tabi’in (juga).
Hukum mursal tabi’iy
Ada sekitar sepuluh pendapat di kalangan ulama tentang Hadits mursal ini. Namun demikian yang terpopuler ada tiga pendapat, yaitu:
a)      Boleh berhujjah dengan hadits mursal secara mutlaq. Ini merupakan pendapat imam abu hanifah, imam malik, menurut suatu pendapat juga imam ahmad dan sejumlah ulama lainya.
b)      Tidak boleh berhujjah dengan hadits mursal secara mutlaq. Ini diceritakan oleh imam an-Nawawiy dari mayoritas ahli hadits, imam asy-syafi’iy dan sejumlah ulama besar ahli fiqih dan ahli ushul. Imam muslim mengatakan bahwa riwayat-riwayat mursal menurut sumber pendapat kami dan pendapat ahli khabar tidaklah bisa dijadikan sebagai hujjah.
c)      Bisa dijadikan sebagai hujjah bila ada yang menguatkanya.  Misalnya dari jalur lain ia diriwayatkan secara musnad ataupun mursal, atau diamalkan oleh sebagian sahabat ataupun oleh mayoritas ahli ilmu.
2.      Hadits munqothi’
Yaitu hadits yang dalam sanadnya gugur satu orang perawi dalam satu tempat atau lebih, atau didalamnya disebutkan seorang perawi yang mubham, Dari segi gugurnya seorang perawi, ia sama dengan hadits mursal. Hanya saja, kalau hadits mursal gugurnya perawi dibatasi pada tingkatan sahabat, sementara dalam hadits munqoti’ tidak ada batasan seperti itu. Jadi, setiap hadits yang dari sanadnya gugur satu orang perawi baik di awal, di tengah ataupun di akhir—disebut munqoti’. Dengan demikian, hadits mursal masuk dalam salah satu bentuk hadits munqoti’. Contoh yang dari sanadnya gugur seorang perawi adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abdirrazzaq dari Al- Tsauriy dari abu ishaq dari zaid ibnu yutsai’ dari Hudzaifah secara marfu’:
إن وليتموها أبا بكر فقوي أمين.
“ jika kalian menguasakan kekhalifahan itu kepada abu bakar, maka ia seorang yang perkasa lagi dapat dipercaya.”
Sanadnya mengandung kemunqoti’an pada dua tempat. Pertama, abdurrazzaq tidak mendengarnya dari Al- tsauriy. Ia mendegarnya dari an-Nu’man ibn abi syaibah al-Jundiy dari Al-tsauriy. Kedua, al- Tsauriy tidak mendengarnya dari abu ishaq. Ia hanya meriwayatkanya dari syuraik dari abu ishaq.
3.      Hadits mu’allal
Yaitu hadits yang tersingkap didalamnya ‘illah qadihah, meski lahiriahnya Nampak terbebas darinya. Dalam sub bab ilmu ilal al-Hadits, saya telah menjelaskan bahwa ‘illatnya kadang-kadang pada sanad, kadang -kadang pada matan dan kadang-kadang pada sanad dan matan sekaligus. Saya memasukan jenis mu’allal disini karena umumnya ‘illat ada pada sanad, seperti halnya irsal, inqitha’, al-waqt dan sejenisnya. Semua itu mempengaruhi kemuttasilan sanad dan menjadikan hadits tergolong dla’if.[33]


3. klasifikasi hadits menurut muhaditsin
Dari segi diterima atau tidaknya suatu hadits untuk dijadikan hujjah, maka hadits ahad itu pada prinsipnya yerbagi menjadi 2 bagian, yaitu hadits maqbul dan hadits mardud. Yang termasuk hadits maqbul ialah hadits shahih dan hasan dan yang termasuk hadits mardud ialah hadist dla’if dengan segala macamnya. Untuk mengetahui syarat-syarat suatu hadist itu dapat diterima (maqbul), tidak dapat dipisahkan dengan pengetahuan tentang sebab-sebab di tolaknya suatu hadist.
Para muhadditsin mengemukakan sebab-sebab tertolaknya hadits dari dua jurusan. Yakni dari jurusan sanad dan jurusan matan.
A. Dari jurusan sanad diperinci menjadi dua bagian:
Pertama: terwujudnya cacat-cacat pada rawynya, baik tentang keadilanya maupun ketahfidzanya (hafalan)”.[35]
Kedua: ketidak bersambung-sambunganya sanad”,dikarnakan adanya seorang rawy atau lebih, yang digugurkan atau saling tidak bertemu satusamalain.
 I.            Cacat-cacat pada keadilan dan kedlabithan rawy itu ada 10 macam
1.      Dusta hadist dla’if yang karena rawynya dusta, disebut Hadits maudlu.
2.      Tertuduh dusta, hadist dla’if yang karna rawynya tertuduh dusta, disebut Hadist matruk.
3.      Fasik,
4.      Banyak salah,
5.      Lemah dalam menghafal. Hadist dla’if yang karena rawynya fasiq , banyak salah, dan lengah disebut Hadist mungkar.
6.      Banyak waham (purbasangka). Hadist dla’if yang karena rawynya waham, di sebut Hadits mu’allal.
7.      Menyalahi riwayat orang kepercayaan. Kalau menyalahi riwayat kepercayaan tersebut karena dengan penambahan suatu sisipan, Haditsnya disebut Hadits mudraj.
8.      Tidak di ketahui identitasnya. (jahalah): Hadits dla’if yang karna jahalah ini, hadits mubham.
9.      Penganut bid’ah: Hadits dla’if yang karena rawynya penganut bid’ah disebut Hadits mardud.
10.  Tidak baik hafalanya: Hadits dla’if yang karna ini, disebut Hadits syadz dan mukhtalith.
II.            Sebab-sebab tertolaknya Hadits karna sanadnya digugurkan (tak tersambung)
1.      Kalau yang digugurkan itu sanad pertama, maka Haditsnya disebut Hadits mualaq.
2.      Kalau yang digugurkan itu Hadits terakhir (sahabat), di sebut Hadits Mursal.
3.      Kalau yang digugurkan itu dua orang Rawi atau lebih berturut-turut, disebut Hadits mu`dlal, dan
4.      Jika tidak berturut-turut, disebut dengan Hadits mungqathi.,   

       Hadits dla’if tidak identik dengan hadits mawdhu’ (Hadits palsu). Di antara Hadits dla’if terdapat kecacatan para perawynyayang tidak terlalu parah, seperti daya hapalan yang kurang kuat tetapi adil dan jujur. Sedang hadits mawdhu’ perawinya pendusta. Maka para ulama memperbolehkan meriwayatkan hadits dla’if sekalipun tanpa menjelaskan kedla’ifanya dengan dua syarat, yaitu:
a.       Tidak berkaitan dengan akidah seperti sifat-sifat allah.
b.      Tidak menjelaskan hukum syara’ yang berkaitan dengan halal dan haram, tetapi berkaitan dengan masalah mau’izhah, targhib wa tarhib (hadits-hadits tentang ancaman dan janji), kisah-kisah, dan lain-lain.
Dalam meriwayatkan hadits dla’if, jika tanpa isnad atau sanad sebaiknya tidak menggunakan bentuk kata aktif (mabni ma’lum) yang meyakinkan (jazam) kebenaranya dari rasulullah, tetapi cukup menggunakan bentuk pasif (mabni majhul) yang meragukan, misalnya: رُوِيَ = diriwayatkan=نُقِلَ dipindahkan ما يُرْوىفي= pada suatu yang di riwayatkan ءَجا= datang. Periwayatan hadits dla’if dilakukan karena berhati-hati (ikhtiath).
        Berbeda dalam meriwayatkan hadits shahih, maka harus menggunakan bentuk kata aktif yang meyakinkan, misalnya:  رسول الله صلى الله عليه وسلم:....قال= rosulullah SAW bersabda…Makruh meriwayatkan dengan menggunakan bentuk kata pasif seperti hadist dla’if. Kecuali jika hadist dla’if diriwayatkan dengan menyabutkan sanad ,  sebaiknya dengan menggunakan bentuk kata aktif dan meyakinkan ketika dikonsumsi oleh kalangan ahli ilmu dan untuk kalangan orang umum boleh dengan menggunakan bentuk pasif tidak sebagaimana isnad. 
4. Berhujjah dengan hadits dla’if
Para ulama sepakat melarang meriwayatkan hadits dla’if yang maudlu’ tanpa menyebutkan kemaudlu’anya. Adapun kalau hadits dla’if itu bukan hadits maudlu’, maka diperselisihkan tentang boleh atau tidaknya diriwayatkan untuk berhujjah. Dalam hal ini ada 3 pendapat:
Pertama: melarang secara mutlak, meriwayatkan segala macam hadits dla’if, baik untutk menetapkan hukum, maupun untuk memeberi sugesti amalan utama. Pendapat ini dipertahankan oleh abu bakar ibnul ‘araby.
Kedua: membolehkan, kendatipun dengan melepaskan sanadnya dan tanpa menerangkan sebab-sebab kelemahanya, untuk memberi sugesti, menerangkan keutamaan amal (fadla’ilul a’mal) dan cerita-cerita, bukan untuk menetapkan hukum-hukum syari’at, seperti halal dan haram, dan bukan untuk menetapkan aqidah-aqidah (keinginan-keinginan).
Para imam seperti Ahmad bin Hambal ‘AbdurRahman bin mahdy, ‘Abdullah bin Al-mubarok, berkata:
إذا روينا فى الحلال والحرام والأحكام شدّدنا فى الأسانيد وانتقدنا فى الرجال. واذا روينا فى الفضائل والثواب والعقاب تساهلنا فى لأسانيد وتسامحنا فى الرجال.[36]
“ Apabila kami meriwayatkan hadits tentang halal, haram dan hukum-hukum, kami perkeras sanad-sanadnya dan kami keritik rawi-rawinya. Tetapi bila kami meriwayatkan tentang keutamaan, pahala dan siksa, kami permudah sanadnya dan kami perlunak rawi-rawinya.”
Dalam pada itu, ibnu Hajar Al-‘asqolany, termasuk ulama ahli hadits yang membolehkan berhujjah dengan hadits dla’if untuk fadla’ilul ‘amal, memberikan 3 syarat:
1.      Hadits dla’if itu tidak keterlaluan. Oleh karena itu hadits dla’if yang disebabkan rawinya pendusta, trtuduh dusta dan banyak salah, tidak dapat dibuat hujjah, kendatipun untuk fada’ilul a’mal.
2.      Dasar amal yang ditunjuk oleh hadits dla’if tersebut, masih dibawah satu dasar yang dibenarkan oleh hadits yang dapat diamalkan (shahih dan hasan).
من حفظ على امتي اربعين حديثا من السنة حتى يؤديها إليهم كنت له شفيعا وشهيدا يوم القيامة.
“ siapa yang menghafal 40 buah hadits, sampai mau menyampaikan kepada umat, aku bersedia member syafa’at dan saksi padanya, di hari kiamat nanti kelak.”
3. dalam mengamalkanya tidak mengi’tiqadkan bahwa hadits tersebut benar-benar bersumber kepada nabi. Tetapi tujuan mengamalkanya hanya semata-mata untuk ikhtiath (hati-hati) belaka.[37]

6.  hadis maudu
A.     PENGERTIAN MAUDU`
Kata maudu` adalah isim maful dari kata   وضع-يضع-وضعا  yang memiliki beberapa makna , antara lain:
        I.            الا شقاط (menggugurkan). Misalnya kalimat  الجناىة عنهوضع(hakim menggugurkan hukuman dari seseorang), yaitu اسقطع  (menggugurkanya).
     II.            الافتراء و الاختلاف(memalsukan dan mengada-adakan). Misalkannya kalimat  وضع فلان هده القصة (fulan membuat-buat mengada-adakan kisah itu), yaitu:   واختلافخها  افتراها(memalsukan dan mangada-adakanya).
   III.            كالتر (meninggalkan). Misalnya kalimat  موضو عةابل (unta yang di tinggalkan di tempat pengembalaannya), yaitu:متر وكة فى المر عي ا(meninggalkanya di tempat gembalaan).[38]
Imam Nawawi mengatakan,
هُوَ الْمُخْتَلَقُ الْمَصْنُوْعُ وَشَرُّ الضَّعِيْفِ، وَيَحْرُمُ رِوَايَتُهُ مَعَ الْعِلْمِ بِهِ فِيْ أَيِّ مَعْنًى كَانَ إِلاَّ مُبَيَّناً.
“Dia (hadits maudhu’ alias palsu) adalah hadits yang yang direkayasa, dibuat-buat, dan hadits dhaif yang paling buruk.Meriwayatkannya adalah haram ketika mengetahui kepalsuannya untuk keperluan apapun kecuali disertai dengan penjelasan.”[39]
Inti dari penjelasan Imam Nawawi di atas adalah hadits maudhu’ itu sebenarnya bukan hadits Nabi tetapi dipalsukan sebagai hadits Nabi seperti uang palsu. Pemalsu hadits mengatakan bahwa apa yang diriwayatkannya adalah hadits Nabi, padahal sebenarnya bukan hadits. Karena itu, haram meriwayatkannya kecuali dengan penjelasan kepalsuannya.
Abu Hurairah ra.meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda,   
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ.
“Barangsiapa berdusta atas diriku dengan sengaja, hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Muslim)
Pengertian maudu` menurut istilah ahli hadits  ialah :
Artinya:
``Hadits yang disandarkan kepada Rasulullah SAW. Secara di buat-buat dan dusta, padahal beliau tidak mengatakan  dan tidak memperbuatnya. Sebagian mereka mengatakan bahwa yang di maksud dengan Hadits maudu` ialah hadits yang di buat-buat.`` [40]
Sebagian ulama mendefinisikanya sebagai berikut:
هوامختلع المصنوع المنسوب الى رسول الله صلى الله علىه وسلم
``Hadits yang diada-adakan, di buat, dan didustakan seseorang pada Rasulullah  SAW.``
Dalam hal ini, nuruddin  Al-A`tar (1985:301) menjelaskan bahwa yang di palsukan ini sama sekali tidak ada hubunganya dengan Rasulullah SAW. Lafadz itu bukan Hadits, tetapi menurut pemikiran perawinya di namakan Hadits. Lafadz yang dikira Hadits itu banyak dari perkataan ahli Hikmah , pribahasa atau Atsar sahbat yang di nisbatkan para pendusta kepada Rasul SAW.[41]
B.     Sejarah awal terjadinya Hadits Maudhu`
            Awal terjadinya Hadits maudu telah terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Ali bin abi Thalib dan Mu`awiyah, dan umat islam  saat itu terpecah menjadi tiga kelompok, yaitu Syiah,Khwarij, dan jumhur Muslimin atau Sunni. Dan mereka masing-masing telah mengklaim bahwa kelompoknyalah yang paling benar  sesuai dengan ijtihad mereka, dan mencari simpatisan masa yang lebih besar dengan cara mencari dalil dari Al-Qur`an dan Hadits Rasulullah. Dan jikalau mereka tidak juga mendapatkan ayat yang mendukung, mereka mencoba menta`wilkan dan memberikan interpretasi yang terkadang tidak layak, pada masa inilah tercatat dalam sejarah  masa awal terjadinya Hadits maudu`
Sesungguhnya perpecahan umat Islam akibat politik telah membuat mereka menjadi berbagai macam kelompok.Ada kelompok Ahli Sunnah, Syi’ah, Khawarij, Mu’tazilah, Umawiyah, Abbasiah dan seterusnya.Dan seperti yang dikatakan, ta’ashub itu membutakan.Karena itu, sebagian dari pihak-pihak yang ta’ashub dalam masalah politik tersebut berani membuat hadits palsu demi mendukung kepentingannya.
Imam Malik pernah ditanya tentang kelompok Rafidhah (Syi’ah), lalu ia berkata, “Jangan berbicara dengan mereka dan jangan mengambil riwayat dari mereka karena sesungguhnya mereka adalah para pendusta’’[42].
Sejak masa Nabi dan Khulafaurrasyidin atau sebelum terjadi konflik antara kelompok pendukung Ali dan Mua`wiyah Hadits Nabi masih bersih dan murni, tidak terjadi pembauran dengan kebohongan dan perubahan-perubahan.Analisi  Ahmad Amin dalam bukunya Fajr Al I’lam yang berkesimpulan telah terjadi Hadits Maudhu` sejak masa Rasulullah SAW. Karena pendustaan terhadap beliau inilah yang melatarbelakangi timbulnya sabda beliau:
 مَن كَذّ بَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدا فَلْيَتبَوّأ مَقعَدهُ مِنَ النّارِ
``Barang siapa yang mendustakan aku dengan sengaja, maka hendaklah bersiap-siap tinggal di neraka``.[43]
Pemalsuan Hadits yang berkenaan dengan masalah keduniwian telah terjadi pada zaman  Nabi dan dilakukan oleh orang-orang munafik, sedangkan pemalsuan Hadits yang berkenaan dengan masalah Agama (Amr Diniy) pada zaman Nabi belum pernah terjadi. Pendapat ini antara lain di kemukakan oleh shalah AL-Din Al-Adhbiy (1983:40-42). alasan yang dikemukakanya ialah Hadits  yang diriwatkan oleh Al-Thahawy (w. 321 H atau 933 M) dan AL-Thabrany (w. 360 H atau 971M) kedua riwayat ini menyatakan, bahwa pada masa nabi ada seseorang telah berbuat berita bohong dengan mengatas-namakan Nabi.
Orang itu teleh mengaku telah diberi kuasa oleh Nabi untuk menyelesaikan suatu masalah di suatu kelompok Masyarakat di sekitar Madinah. Kemudian seorang  itu melamar seorang gadis dari Masyarakat tersebut, tetapi lamaran itu ditolak. Masyarakat tersebut lalu mengirim utusan kepada nabi untuk menginformasikan berita utusan dimaksud.Ternyata nabi tidak pernah menyuruh orang yang mengatas-namakan beliau itu.Nabi lalu menyuruh sahabat beliau untuk membunuh orang yang telah berbohong tersebut.Nabi berpesan, Apabila ternyata orang yang bersangkutan telah meninggal dunia, maka jasad orang itu agar di bakar.Dalam Hadits ini, baik yang diriwayatkan oleh Al-Thahawy dari Abdullah bin Bauraydah maupun yang diriwayatkan oleh Al-Thabrany dari `Abdullah bin Amr bin Al-`Ash, ternyata sanadnya lemah (dhaif).Karenanya kedua riwayat dimaksud tidak dapat di jadikan dalil adanya indikasi pemalsuan Hadits pada masa ini.[44]
Pemalsuan Hadits juga mulai muncul pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib. Pendapat ini banyak dikemukakan oleh para ulama Hadits, seperti `Ajjaj Al-Khatib, Mustafa Al-Siba`i, Nur Al-Din `Itr, Muhammad Abu Zahrah, Muhammad Abu Syuhbah, dan `Abdul Al-Fatah Abu Ghadah. Menurut pendapat ini, keadaan Hadits pada zaman Nabi sampai sebelum terjadinya pertentangan antara `    Ali dan Muawiyah bin Abi Syufyan(w. 60H atau 680M) masih terhindar dari pemalsuan-pemalsuan. Sebagaimana dimaklumi pada zaman pemerintahan `Ali, telah terjadi pertentangan politik antara golongan yang mendukung `Ali dan golongan yang mendukung Muawiyah dalam masalah jabatan Khalifah.
Perlu di tegaskan , bahwa pemalsuan hadits belumlah mencapai puncaknya pada abad kesatu Hijriah, karena sebab-sebab pemalsuan belum muncul kecuali beberapa saat menjelang pertengahan abad kesatu hijriah, dan sebab-sebab itupun belum begitu banyak. Dan pemalsuan hadits ini semakin berkembang dengan semakin banyaknya Bid`ah, Fitnah dan pertikaian, terutama setelah jauh dari masa Rasul. Ada pun hal ini sangat logis, karena sangat jauh kemungkinanya para sahabat yang dikenal sangat takwa, wara sebagai hasil dari didikan Nabi sendiri serta adil dalam penulisan dan pemikiran, mereka mau memalsukan hadits kepada Rasul  SAW. (Al-Khatib, 1975:416).
Apa lagi mereka telahmendengar hadits mutawatir yang berbunyi:
مَن كَذّ بَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدا فَلْيَتبَوّأ مَقعَدهُ مِنَ النّارِ
Demikian juga pada masa tabii`in hadits di bawa oleh ulama besar yang di terima dari sahabat langsung.Mereka sangat teguh beragama, bersungguh-sungguh, dan berhati-hati dalam meriwayatkanya.Sunnah di ingat, diriwayatkan, di praktekan dalam kehidupan mereka dengan sifat kejujuran dan kecerdasan mereka yang luar biasa. Maka hadits maudhu` hanya ditimbulkan oleh sebagian kelompok orang-orang bodoh yang bergelut dalam bidang-bidang politik atau mengikuti hawa nafsunya untuk menghalalkan segala cara.
Adanya beberapa Motif yang mendorong mereka dalam membuat Hadits palsu (Maudhu), telah di terangkan di atas bahwa pemalsuan hadits bukan saja dilakukan oleh orang non islam saja, tetapi juga orang islam juga ikut berperan dalam pemalsuan hadits. Karena mereka didorong oleh keinginan meruntuhkan islam dari dalam, dari kalangan islam sendiri. hadits palsu yang disandarkan kepada Nabi SAW. dapat di kelompokan kedalam dua kategori:
1.      Pemalsuan hadits yang disengaja. Itu biasanya disebut dengan Hadits Maudhu`.
2.      pemalsuan hadits yang tidak disengaja. Hal ini karena kekhilafan atau kekurang hati-hatian. Bentuk Hadits ini seperti biasanya di sebut Hadits bathil.
Akibatnya yang di timbulkan oleh kedua kondisi ini adalah sam; yaitu munculnya ungkapan palsu yang disandarkan kepada Nabi SAW. Oleh sebab itu para ulama yang berperan dalam urusan Hadits sejenis ini, mengelompokan keduanya secara terpadu, tanpa dipisahkan secara corak perbedaanya; palsu (maudhu`)dan bathil.
A.     Pemalsuan hadits yang disengaja
        I.            Pertentangan politik
Sebagaimana keterangan di atas bahwa hadits maudhu` timbul karena dampak dari konflik internal antar umat islam awal yang kemudian menjadi terpecah ke beberapa sekte.Dalam sekte pertama yang menciptakan hadits maudhu adalah syiah. Hal ini diakui oleh orang syiah sendiri, misalnya seperti kata Ibnu Abu Al-Hadid dalam syarah Nahju Al-Balaghah, bahwa asal-asul kebohongan dalam hadits-hadits tentang keutamaan adalah sekte syiah, mereka membuat hadits maudhu untuk memusuhi lawan politiknya, setelah hal itu di ketahui oleh kelompok Bakariyah, mereka pun membalasnya dengan membuat hadits maudhu pula.[45]
Abu Al-Faraj bin Al-Jauzi dan Amir Asy-Sya`bi yang dikutip oleh Ajaj Al-Khatib berpendapat, bahwa hadits-hadits sahih tentang keutamaan Ali sudah banyak, tetapi syiah Rafidhah tidak puas dengan itu, mereka membuat hadits maudhu dan tidak ada seseorang yang di dustakan terhadap umat ini seperti pendustaan terhadap Ali .[46] Ali dan ahlul bait orang-orang baik seperti Al-Hasan, Al-Husain, Muhammad bin Al-Hanafiyah,Ja`far AshShiddiq, Zaid bin Ali, dan lain-lain. Mereka orang-orang baik, wara` dan taqwa.Mungkin yang menciptakan hadits maudu ini adalah orang-orang yang mengatas-namakan mereka dengan berlindung pada payung Syiah.
     II.            Dendam musuh islam (ZINDIK)
Setelah umat islam menaklukan kerajaan romawi  dan kerajaan Persia. Islam tersebar ke segala penjuru dunia, dan sementara musuh-musuh islam tidak mampu melawanya secara terang-terangan, maka mereka meracuni islam melalui ajaranya dengan memasukan berberapa hadits maudu di dalamnya yang di lakukan oleh kaun zindik. Golongon zindik adalah golongan yang merusak islam dari dalam dengfan berpura-pura masuk islam. Dengan menyatakan masuk islam, mereka memiliki peluang-peluang, seperti meyebarkan fitnah, mengobarkan api permusuha di kalangan umat islam sendiri, menciptakan keraguan terhadap ajaran islam,dan merusak sumber ajaran dengan kebohongan mereka.
Hal ini di lakukan karena agar umat islam lari dari padanya dan agar mereka melihat, bahwa ajaran-ajaran islam itu menjijikan. Misalnya apa yang di riwayatkan mereka:
ان نفرا من اليهودأتواالرسول الله صلى الله علىه وسلم فقالوا:من يحمل العرش؟فقال:تحمله الهوام بقروبها والمجرة التي في السماء من عرقهم قالوا نشهد انك رسول الله صلى الله علىه وسلم
``bahwa segolongan orang yahudi datang kepada Rasululluh SAW.  Bertanya: siapakah yang memikul Arsy? Nabi menjawab: yang memikulnya adalah singa-singa dengan tanduknya sedangkan bimasaktin dilangit keringat mereka. Mereka menjawab: kami bersaksi bahwa engkau utusan Allah.``
Abu Al-Qosim Al-Balkhi berkata, ``Demi Allah ini dusta, umat islam telah ijma` bahwa yang memikul             `Arasy adalah para malaikat``, Hammad bin Ziad menerangkan bahwa orang-orang Zindiq telah membuat hadits-hadits palsu sebanyak 14.000 hadits.
 Sesungguhnya mereka itulah yang lebih berbahaya bagi islam dari pada yang lain, Karena ada di antara mereka yang keterlaluan dalam berdusta dan mengada-ngada misanya Abdul Karim abn Abu Al `Arja` yang sebelum di hukum mati oleh Muhammad bin sulaiman bin Ali meengaku, `` demi Allah aku telah membuat hadits-hadits palsu untuk kalian sekitar 4000 hadits. Melalui hadits-hadits itu aku halalkan yang haram dan aku haramkan yang halal.`` (Abu Hayyah, TT:120-127)[47]
   III.            Fanatisme kabilah, negri dan imam
Umat islam pada masa daulah Umayyah sangat menonjol fanatic arabnya,sehingga orang–orang non arab merasa terisolasi dari pemerintahan. Karenanya juga  telah ikut mendorong kaum mawali untuk membuat hadits palsu sebagi upaya untuk menyamakan mereka. Misalnya seorang yang fanatic pada kabilah Persia merasa bangsa Persialah bangsa yang paling baik, demikian juga bahasanya seraya mengatakan :
إن كلام الذى حول العرش فارسى

``sesungguhnya mahluk di sekitar arasy dengan bahasa Persia ``
Untuk menyeimbangi hadits maudhu` di atass muncullah dari lawanya yang fanatic bahasa arab:
 أبغض كلام عند الله فارسى
``bahasa yang paling dimurkai Allah adalah bahasa Persia dan bahasa penghuni surge adalah bahasa arab``.[48]
Disamping juga ada pula hadits-hadits palsu tentang keutamaan suku, Negara dan imam,diantaranya:
اربع مدائن من مدن الجنه فى الدنيا والمديته, وبيت المقدس,ودمشق
``empat kota yang termasuk kota-kota di surga adalah mekkah, madinah, baitul maqdis, dan damaskus``.(Al-Kannani, 1957:48).
Demikian juga madzad hanafi yang mengangkat madzab mereka adalah yang paling benar sehingga merendahkan madzab lain seperti madzab imam syafi`i:
يَكُوْنُ فِيْ أُمَّتِى رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ مُحَمَّدٌ بْنُ إِدْرِيْسَ أَضَرُّ عَلَى أُمَّتِى مِنْ إِبْلِيْسَ، وَيَكُوْنُ فِي أُمِّتِى رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أَبُوْ حَنِيْفَةَ هُوَ سِرَاجُ أُمَّتِى هُوَ سِرَاجُ أُمَّتِى.
``akan ada pada umatku seorang laki-laki bernama Muhammad ibn Idris.  Lebih bahaya atas imatku dari pada iblis dan ada pada umatku seseorang bernama abu hanifah ia merupakan pelita bagi umatku``(Al-Kannani,1957:30).
Pemalsu hadits ini adalah Makmun bin Ahmad al-Harawi yang hidup pada abad ketiga Hijriah.
Hal itu dibuat karena Imam Syafi’i berasal dari keturunan Arab Quraisy, sementara Abu Hanifah berasal dari keturunan Persi. Hadits tersebut juga dibalas dengan hadits maudhu’ yang mengunggulkan Syafi’i[49]
   IV.            Qashshash (tukang cerita yang menarik simpati orang awam)
Sebagian ahli cerita atau ahli dongeng ingin menarik  simpati pendengarnya , lalu mereka membuat hadits-hadits palsu ke dalam propagandanya  yang membuat mereka lega dan tertarik mendengarnya,  menggerakan keinginan-keinginan mereka dan memberikan harapan-harapan bagui mereka. Mareka  memanfaatkan profesinya itu untuk mencari uang, dan hal ini mulai popular pada abad ketiga hijriah yang mereka duduk di masjid-masjid dan di pinggir-pinggir jalan.dan di antara mereka terdiri dari kaum zindik dan orang-orang yang berpura- pura jadi orang alim. Tetapi pada tahun 279 H. masa pembai`atan khalifah Abbasiah Al-Mu`tashim mereka itu di larang berkeliaran di mesjid-masjid dan di jalan-jalan tersebut.
Tukang cerita itu meriwayatkan sebuah hadits seolah-olah dari Rasulullah dengan menempelkan sanad seolah-olah hadits ini benar, suatu ketika imam Ahmad bin Hambal dan Yahya  bin Ma`in shalat di masjid  Ar-Rashafah kemudian melihat seseorang yang  menceritakan hadits yang diperoleh dari mereka. Dari Abdur Razaq dari Ma`mar  dari Qatabah Rasulullah SAW. Bersabda:
من قال لا إله إلا الله خلق الله من كل كلمة طير أنقاره من ذهب و ريشه من مرجان                                           
``Barang siapa mengatakan “tiada tuhan selain Allah, maka Allah akan menciptakan dari setiap kata-kata tersebut seekor burung yang paruhnya terbuat dari emas dan bulunya dari marjan.``
Kemudian Ahmad dan Yahya berembuk dan berkata:`` demi Allah saya tidak pernah mendengarnya kecuali sekali ini`` setelah selesai berceramah , tukang kisah itu di panggil, -dikiranya akan diberi hadiah uang –ditanya dari mana anda mendapat hadits tersebut? Ia menjawab ``dari imam Ahmad bin Hambal dan Yahya bin Mas`in``.  lalu  Yahya menyahut ``  kami  inilah orang yang kamu sebut itu, dan kami tidak pernah mendengar hadits itu dari Rasulullah SAW. Dan kalau hadits itu benar pastilah bukan berasal dari kami`` lalu ia menjawab:``saya tidak pernah mendengar bahwa Yahya bin Mas`in bodoh kecuali yang nu saksikan sekarang ini`` kata Yahya`` bagaimana begitu?``imam Ahmad meletakan tangan di atas mukanya lalu memerintahkan untuk pergi dari majlis itu lalu berdiri dan pergi.dalam versi lain Ahmad menutupkan kerah bajunya ke mukanya seraya berkata`` biarkan dia pergi`` lalu iapun pergi seperti sedang meremehkan keduanya. (Al-Khatib, 1975:424-425).
     V.            Senangnya meyebarkan kebaikan tanpa pengetahuan agamanya yang cukup
 Di antara tujuan meraka membuat hadits maudu adalah agar umat cinta terhadap kebaikan  dan menjauhi kemungkaran , mencintai Akherat, dan menakut-nakuti dari Azab Allah. Hal itu terjadi dari sebagian orang bodoh dalam agama tapi saleh dalam zuhud. Sebagian orang saleh dan zahid melihat ketersibukan masyarakat  terhdap dunia dan meninggalkan Akherat. Kemudian mereka membuat hadits-hadits palsu berkenaan dengan Taghrib (mendorong untuk berbuat baik atau kabar gembira). Dan Tarhib ( mencegah dari berbuat jahat atau ancaman) dengan mengharap pahala dari Allah SWT.
Ada anggapan di kalangan sebagian orang-orang shaleh dan para zahid bahwa untuk tujuan targhib dan tarhib maka pemalsuan dengan tujuan tersebut tidak masuk dalam kategori orang-orang yang dilaknat nabi dalam Hadis``Barang siapa yang mendustakan aku dengan sengaja, maka hendaklah bersiap-siap tinggal di neraka``.
Ibnu Hibban meriwayatkan dalam adh-Dhu’afa` bahwa Ibnu Muhdi berkata, “Aku bertanya kepada Maisarah bin Abdi Rabbih, ‘Dari mana kamu mendapatkan hadits-hadits ini; barangsiapa yang membaca ini, maka ia akan mendapat ini?’ Ia menjawab, ‘Aku sengaja membuatnya sendiri agar orang-orang gemar melakukannya.’[50]
   VI.            Perbedaan madzab dan teologi
Bagi orang yang telah mendalami ilmu fiqih, maka ia akan mengetahui perselisihan-perselisihan di dalamnya, misalnya tentang mengangkat tangan dalam shalat. Sebagian dari kelompok yang tidak setuju adanya mengangkat tangan dalam shalat membuat hadits palsu di bawah ini.
مَنْ رَفَعَ يَدَيْهِ فِي الصَّلاَةِ فَلاَ صَلاَةَ لَهُ.
``Barangsiapa yang mengangkat kedua tangannya dalam shalat, maka tidak ada shalat baginya``
Orang yang memalsukan hadits tersebut Makmun bin bin Ahmad as-Silmi.[51]
VII.            Menjilat penguasa
Di antara mereka yang ingin mendekati penguasa dengan cara membuat hadits palsu sesuai dengan apa yang di lakukanya untuk mencari legalitas,bahwa ungkapan itu hadits Rasulullah, dan jelaslah hal ini tersebut semata-mata hanya untuk tujuan dunia saja, misalnya yang dilakukan Ghiyats bin Ibrahim An-Nakha`I ketika masuk ke Istana Al-Mahdi yang sedang bermain burung merpati . Ghiyats  berkata Rasulullah SAW. Bersabda:
لا سبق الا فى نصيل او حف او حافر
``tidak ada perlombaan kecali pada anak panah atau unta atau kuda dan atau pada burung``.
Ghiyats bin Ibrahim An-Nakha`I merupakan tokoh yang banyak ditulis dalam kitab hadits sebagai pemalsu hadits tentang perlombaan. Pada mulanya ungkapan itu memeng benar dari Rasulullah tetapi aslinya tidak ada kata burung, kemudian Ghiyats menambahkan kata ``burung`` dalam akhir. Hadits agar di beri hadiah atau mendapat simpatik oleh khalifah Al-Mahdi setelah mendengar hadits tersebut, Al-Mahdi memberikan hadiah sepuluh ribu dirham, namun ketika Ghiyats hendak pergi, Al-Mahdi menegur, seraya berkata: `` aku yakin itu sebenarnya merupakan dusta atas nama Rasulullah SAW.`` menyadari hal itu khalifah lalu memerintahkan untuk menyembelih merpatinya.[52]
B.     Pemalsuan hadits yang tidak di sengaja
Ada kelompok orang yang melakukan kesalahan walaupun mereka sendiri tidak bermaksud mengada ada hadits tersebut, yaitu:
        i.            Mereka yang mengambil hadits yang sudah tenar dan memberinya satu mata rantai (isnad) baru untuk mendapatkan pengakuan keilmuan.
      ii.            Mereka yang melakukan kesalahan dalam periwayatan, misalnya, ketika sebuah isnad hanya berujung pada sahabat atau tabi`in, mereka secara keliru menisbahkan matan hadits itu kepada kami.
    iii.            Para ulama yang mempelajari hadits itu dari syeikh tertentu, kemudian mengambil hadits yang lain dari syeikh yang sama, hanya saja mereka tidak langsung belajar darinya.
     iv.            Mereka mempelajari sejumlah buku dari beberapa orang tokoh, hanya saja mereka tidak menyalin apa yang telah mereka pelajari pada saat itu. Manakala mereka menginjak dewasa dan ditanya oleh para muridnya tentang hadits, sikap ambisi mereka untuk tampak sebagi tokoh di depan murid telah mendorong mereka meriwayatkan hadits dari salinan yang mereka peroleh. Akan tetapi, salinan itu tidak menerangkan bahwa mereka telah mempelajari hadits itu.
       v.            Orang-orang yang kurang mempunyai kualifikasi utama untuk mengajarkan hadits: seperti hafalan yang kuat, hati-hati, atau sebuah buku yang benar.
     vi.            Para ulama yang melakukan periwayatan dalam mencari hadits dan telah di akui oleh para muhadditsin  , hanya saja mereka telah kehilangan buku-buku yang telah mereka pelajari. Manakala mereta hendak mengajarkan hadits tersebut kepada murid, mereka memakai salinan yang lain, tanpa menyadari bahwa bisa terjadi kekeliruan dan perbedaan pada dua buah buku salinan yang di tulis oleh dua orang yang berbeda.
   vii.            Para ahli ibadah yang tekun yang tidak sengaja melakukan kesalahan, dan mereka tidak memberikan porsi perhatian mereka yang cukup untuk studi hadits, kerena sibuk dengan kegiatan ibadah. (Azami, 1996:13-15).[53]
C.     Hukum meriwayatkan hadits maudhu`
Para ulama talah sepakat bahwa meriwayatkan hadits maudhu` hukumnya haram secara mutlak tidak ada perbedaan antara mereka.Karena menciptakan hadits maudhu` sama dangan mendustakan Rasulullah SAW. Kerena perkataan itu dari tercipta sendiri  atau dari perkataan orang lain kemudian diklaim  rasulullah yang menyabdakan berarti ia berdusta atas nama Rasulullah. Orang yang melekukan demikian di ancam dengan api neraka.
Sebagaimana sabda Rasulullah sebagai berikut:
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ.
“Barangsiapa berdusta atas diriku dengan sengaja, hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Muslim)
Jumhur ulama Ahlus As-Sunnah bersepakat bahwa bohong termasuk dasa besar, semua ahli hadits menolak khabar yang dibawa oleh pendusta rosul, bahkan Abu Muhammad Al-Juawaini mengkafirkanya.
Sebagaimana haram dalam membuat hadits maudhu` para ulama juga sepakat mengharamkan meriwayakan hadits maudhu` tanpa menjelaskan ke-maudhu`-an atau kebohonaganya baik dalam Taghrib, fadhail a’mal, ahkam, kisah, dan lain-lain sebagaimana hadits Nabi SAW:
‘‘Barang siapa yang menceritakan dari padaku suatu hadits yang diketahui bahwa ia bohong, maka ia tergolong salah seorang pembohong’’ (H.R. Muslim).
D.    . Ciri-Ciri Hadis Maudhu’
a. Ciri-Ciri Pada Sanad.
  1. berdasarkan pengakuan dari orang yang memalsukan Hadist.
Sebagaimana pengakuan Abdul Karim bin Abu Al-Auja ketika akan dihukum mati ia menagatakan: ``demi Allah akun palsukan padamu 4000 buah hadits. Di dalamnya aku haramkan yang halal dan aku halalkan yang haram`` kemudian dihukum pancung lehernya atas intruksi Muhammad bin Sulaiman bin Ali gubernur Basyrah (160-173). Maysarah bin Abdi Rabbih Al-Farisi mangaku banyak membuat hadits maudhu` tentang keutamaan Al-Qur`an dan keutamaan Ali. Ia mengaku membuat hadits maudhu lebih  dari 70 hadits. Demikian juga Abu Ishmah bin Maryam yang bergelar Nuh Al-Jami` mengaku banyak membuat hadits maudhu` yang disandarkan kepada Ibnu Abbas tentang keutamaan Al-Qur`an.[54]
     II.            Adanya bukti (Qorinah) manempati pengakuan
Seperti seseorang yang meriwayatkan hadits dengan ungkapan yang mantap serta meyakinkan (jazam) dari seorang syeikh padahal dalam sejarah ia tak pernah bertemu atau dari seorang syeikh di suatu negeri yang tidak pernah berangkat keluar atau seorang syeikh yang telah wafat sementara ia masih kecil atau belum lahir. Untuk mengetahiu ini harus mempelajari mempelajari buku Tawarikh Ar-Ruwah.[55]
   III.            Qorinah yang berpautan dengan tingkah lakunya
Seperti yang pernah di lakukan oleh Ghiyats bin Ibrahim yang telah di terang kan di awal. Tingkah laku Ghiyats semacam itu menjadi Qorinah untuk menetapkan ke-maudhu`an suatu hadits.
   IV.            Perawi yang dikenal sebagai pendusta
Siperawi telah terkenel pendusta dalam meriwayatkan hadits dan tidak pula riwayatnya itu diriwayatkan oleh seseorang yang terpercaya.  Paraulama telah membahas sedalam –dalamnya masalah ini dalam  ilmu Jahr dan Ta`dil.[56]
Perawi yang dikenal sebagai pendusta meriwayatkan satu hadits seorang diri, dan tidak ada perawi lain yang tsiqah yang meriwayatkanya.[57]
b. Ciri-Ciri PadaMatan.

Menelusuri pemalsuan Hadis secara akurat melalui matannya dapat dilakukan dengan menganalisa matan tersebut. Unsur-unsur yang sering terdapat pada matan Hadis maudhu’ adalah:
  1. kelemahan atau kerancuan lafal Hadis dan maknanya.
Salah satu tanda ke-maudhu`-an suatu hadits adalh lemah dari segi bahasa dan maknnya , secara logis tidak di benarkan bahwa ungkapan itu dating dari Rasul. Banyak hadits-hadits panjang yang lemah susunan bahasa dan maknanya. Seseorang yang memiliki keahlian bahasa dan sastra memiliki ketajaman dalam memahami hadits dari nabi atau bukan hadits maudhu` ini bukan bahasa nabi yang mengandung sastra (fashahah), karena sangat rusak susunannya, Ar-Rabi` bin Khats` yang berkata:
ان للحد يث ضوءا كضوء النهارنعرفه وظللمة كظللمة الليل ننكره
``Sesungguhnya hadits itu bercahaya seperti cahaya siang kami mengenalnay dan memiliki kegelapan bagaikan gelap malam kamim menolaknya``
Hadits palsu jika diriwayatkan secara eksplisit bahwa ini lafal dari nabi dapat di deteksi oleh para pakar yang ahli pada bidangnya sehingga tercium bahwa ini hadits yang sesungguhnya dan hadits palsu. Jika tidak dinyatakan secara ekspilit, menurut Ibnu Hajar Al-Asqolani, hadits itu di kembalikan kepada maknanya yang rusak, karena bisa jadi ia beralasan Riwayah bi Al-Ma`na atau karena tidak bisa menyusunya secara baik.[58]
  1. kerusakan makna hingga tidak dapat diterima oleh indera.
Apoa bila ma`na dalam suatu hadits demikian rusaknya, sehingga tak masuk akal makna yang serupa datangnya dari Nabi SAW. Makna hadits itu, palsu , isapan jempol, si perawi semata. Seperti hadits yang didustakan panca indra:
البادنجان شفاءمن كلاداء
``buah terong adalah penawar dari segala penyakit``
من اتخذديكاابيض لم يقربه شيطان
``barang siapa yang memelihara ayam putih, niscaya tak didekati syaithan``
  1. Menyalahi realitas sejarah.
Misalnya hadits yang menjelaskan nabi memungut Jizyah (pajak) pada penduduk khaibar dengan di saksikan oleh Sa`ad bin Mu`adz padahal Sa`adz telah meninggal pada  masperang Khandaq sebelum kejadian tersebut. Jizyah di syareatkan setelah perang tabuk pada nasrani Najran dan Yahudi Yaman.
  1. hal-hal atau berita yang tidak masuk akal.
Seperti hadits:
الديك الا بيض حبيبى وحبلب حبيبى جبريل
``ayam putih adalah kekasihku dan kekasih dari kekasihku jibril``
Ibnu Al-Juzi berkata:
كل جبرا او هم با طلا ولم يقبل التأويل فمكذوب او انقص منه ما يزيل الوهم
``segala kabar (hadits) yang mewahamkan kebatalan dan tidak menerima takwil, dihukum dusta, atau kerangkan dari padanya yang menghilangkan waham itu``
Kata Ar-Razy dalam Al- Mahsul:
كل خبر رايته يحالف العقول وينا قض الاصول ويباين المنقول فاعلم انه موضوع
``tiap-tiap hadits yang engkau dapatinya menyalahi akal, bartentangan dengan kaedah dan berlainan dengan yang dinukilkan dari nabi, maka ketahiulah bahwasanya hadits itu adalah hadits maudhu```[59]
  1. bertentangan dengan nash Alquran al-Karim.
Karena menyalahi ketentuan-ketentuan Allah dalam menjadikan alam, seperti hadits yang menerangkan bahwa `Ad Ibn Unuq tingginya 300 hasta.
Dikala Nuh mengikutinya dengan air bah, Ad Ibnu Unuq berkata ``bawalah aku kedalam piring mengkukmu ini `` dikala badai terjadi maka air hanya sampai ke tumitnya saja. Dia, kalau mau makan , memasukan tanganya ke dalam laut dan membakar ikanya yang di ambilnya kepanas matahari.
6.      Menyalahi texts Al-Qur’an atau hadits mutawatir
Termasuk tanda maudhu` adalah menyalahi text Al-Qur`an yang mutawatir dan tidak mungkin di takwilkan, kecuali jika dapat di kompromikan melalui Takhshish al-`amm atau tafsil al-mujmal dan lain sebagaimana lankah-langkah pemecahan yang telah di lakukan ulama ushul fiqih. Contoh hadits palsu yang bsrtentangan dengan ayat Al-Quran:
ولدالزنا لايد خل الجنة الى سبعة ابناء
``anak zina tidak bisa masuk surge sampai tjuh keturunan``
Hadits di atas bertentangan dengan firman Allah
ولا تزروازرةوزرأخرى
``Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemadharatanya kembali kepada dirinya sendiri``

  1. bertentangan dengan Hadis mutawatir.
Cotoh hadits palsu yang bertentangan dengan hadits mutawatir:
اذا حد ثم عنى بحديث الحق فخذوا به جدثت به او لم أحدث
``Jika kalian memberitakan suatu hadits dari pada ku sesuai kebenaran, maka ambillah baik aku memberitakan atau tidak``
Hadits di atas jalas palsu, karena bertentangan dengan hadits mutawatir yang di sabdakan Nabi
`` مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ.
“Barangsiapa berdusta atas diriku dengan sengaja, hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.”

E.     Sumber yang diriwayatkan
Para pembuat hadits maudh` dalam menjalankan tugasnya, kadang-kadang mengambil dari fikiran sendiri semata-mata, dan kadang-kadang menukil dari perkataan orang yang dianggap Alim pada waktu itu, atau paerkataan orang Alim Mutaqaddimin. Misalnya:
حب الدنيا رأس كل خطيئة
``cinta keduniaan adalah modal kesalahan``
Perkataan ini sungguh adalah perkataan malik bin dinar, tetapi oleh pembuat hadits maudhu` dibangsakan (dida`wakan) kepada sabda Nabi Muhammad SAW.[60]
Perkataan ini menurut pendapat Al-Iraqi adalah perkataan malik bin dinar, sebagai yang diriwayatkan oleh ibnu abid dunya atau dari peda perkataan isa bin maryam, sebagai yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi.
Dalam pada itu ada yang mengatakan haidts ini salah satu dari pada mursal hasan Al-Bishri[61]
Yang dilakukan oleh perawinya bukan dengan maksud memasukan hadits, tatapi terjadi karena salah sangka.
Contoh hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Ismail bin Muhammad At-Tulikhi dari Tsabit Ibnu  Musa Al`Abid dari Syariek dari Al-A`Masy dari Abu Sufyan dari Jabir dari Nabi SAW ujarnya:
من كثرت صلاته بالليلل حسن وجهه بالنهار
``barang siapa banyak sembahyangnya di malam hari niscaya eloklah mukanya di siang hari`` Al-Hakim menandaskan bahwa : ``Tsabit masuk kepada Syariek yang sedang mendiktekan hadits, Syariek berkata: diceritakan kepada kami oleh Al-A`masy dari Abu Syufyan dari Jabir katanya: bersabdalah Rasulullah SAW……………`` setelah itu beliau diam untuk meberi kesempatan kepada penulis.ketika beliau melihat Syariek, beliau menyebut ucapan yang di atas. Maka Tsabit menyangka bahwa perkataan yang di hadapkan kepadanya adalah matan hadits yang di maksudkan .kemudian hadits itu diriwayatkah oleh orang dhaif dengan sanad dan matan tersebut itu. Sebenarnya matan sanad itu ialah :
يعقد الشتطان على قافية رأس احد كم اذا هو نام ثلاث عقد يضرب على كل عقدة: عليك ليل طول فارقد فان استيقظ فدكرالله انحلت عقدة , فان توضا انحلت عقدة فان صلى انحلت عقدة فاصبح نشيطا طيب النفسو, والا اصبح خبيث النفس كسلان
``Syaitan menyimpul tiga simpulan (membuat tiga uqdah) atas kuduk salah seorang kamu, apabila seorang itu tidur. Ia pukul atas tiap-tiap simpul serta baerkata: ``tidurlah sepanjang malam .maka jika terbangun lalu menyebut Allah, maka terurailah satu simpul, jika ia terus berwudhu`, terurai lagi satu simpul, dan jika bersembahyang terurai sesimpul lagi, lalu dia menjadi tangkas dan gembira pada paginya .jika tidak , menjadilah ia seseorang yang berjiwa keji lagi lesu pemalas.``[62]
Para pembuat hadits maudhu mengambil perkataan dari tuturan para hukama dan Israiliyat, kemudian di bangsakan kepada nabi seperti perkataan :
المعدة بيت الداء والحمية رأس الدواء
``ma-idah adalah rumah penyakit, sedangkan pantangan adalah kepala segala obat``
Al-Iraqi menerangkan bahwa perkataan itu :`` sama sekali tidak berasal dari ucapan nabi , hanyalah diambil perkataan sebahagian tabib``
F.     Usaha para ulam dalam memberantas pemalsuan hadits
Beberapa usaha yang dilakukan para ulama dalam menanggulangi maudhu` bertujuan agar hadits tetap exist terpelihara dan bersih dari pemalsuan tangan orang-orang kotor. Disamping agar jelas posisi hadits maudhu tidak tercampur dengan hadits shahih dari Rasulullah SAW. Di antaranya ialah:
1.      Berpegan pada sanad, yaitu mengharuskan pentertaan penyebutan sanad pada periwayatan.
2.      Meningkatkan semangat Ilmiah dan ketelitian dalam meriwayatknan hadits. Setiap hadits yang beredar teliti secermat mungkin, dengan serius dan hati-hati.
3.      Melakukan gerakan pembasnian terhadap para pemalsu hadits, menjelaskan kepada masyarakat siapa yang memalsukan hadits dan menyuruhnya untuk menjauhi mereka.
4.      Menjelaskan haa ihwal para perawi hadits selengkap mungkin untuk di ketahui sebanyak-banyaknya oleh masyarakat
5.      Menetapkan kaidah-kaidah untuk merngetahui hadits-hadits maudhu`, baik pada matan maupun sanad. (Al-Khatib 1975:429-432)
Disamping itu ada beberapa langkah lain yang juga dilakukun oleh para ulama haadits guna menyelamatkan hadits dari pemalsuann, yaitu:
        I.            Pembukuan hadits
     II.            Pembentukan ilmu-ilmu hadits yang menelusuri berbagai bidang
A.     Bidang kualitas periwayat
B.     Bidang persambungan sanad
C.     Bidang jalur periwayatan
D.    Bidang sandaran hadits         
   III.            Menghimpun biografi para periwayat hadits
   IV.            Perumusan istilah hadits, (mustolah Al-Hadits).
Pada intinya mustalah hadits merupakan ilmu untuk memberiu istilah hasil jerih payah melaksanakan hasil penelusuran hadits sebagai tercantum didalam ilmu-ilmau hasdits .
Dariu sinilah kemudian timbulah tingkatan-tingkatan hadits(zuhri,1997:80-81)[63]
G.    Para pendusta dan kitab-kitab hadits maudhu`
1.      Para pendusta dalam hadits
Diantara para pendusta hadits yang diketahui setelah penelitian yang di lakukan   olah para ulama adalah sebagai berikut:
a.      Aban bin Ja`far Al-Numaiqi membuat 300 buah hdits yang di sandarkan kepada Abu Hanifah.
b.      Ibrahim bin Zaid Al Aslami, membuat hadits yang disandarkan dari Malik.
c.       Ahmad bin Abdullah Al-Juwaini, juga membuat beribu-ribu hadits kepentingan kelompok Al-Karamiyah
d.      Jabir bin Zaid Al-Jua`fi membuat 30000 buah hadits.
e.       Nuh bin Abu Maryam membuat hadits maudhu tentang Fadhail. Surah-surah dalam Al-Qur`an.
f.         Muhammad bin Syuja` Al- Wasithi, Al-Harits bin Abdullah Al- A`war, Muqotil bin sulaiman Muhammad bin Said Al- Mashlub, Al- Waqidi dan Ibnu Abu Yahya.
2.      Kitab-kitab tafsir
Kitab-kitab tafsir jyang terdapat banyak hadis mawdu’ antara lain: Ats- Tsa’labi, Al- Wahidi, Az- Zamakhsyari, Al- Baidhawi, dan Asy- syaukani.
3.      Kitab-kitab mawdhu’ yang terkenal
Diantara kitab-kitab yang memuat hadis mawdhu’ adalah sebagai berikut;
a)      Tadzkirah Al-Mawdhuat karya Abu Al-Fadhal Muhammad bin Thahir Al-Maqdisi (448-507 H). Kitab ini menyebutkan hadis secara alphabet dan disebutkan nama perawi yang dinilai cacat (tajrih).
b)      Al-Mawdhuat Al-kubra, karya Abu Al- Faraj Abdurrahman Al-jauzi (508-594 H) 4 jilid.
c)      Al-La’ali Al-Mashnuah fi Al-Mawdhuah karya jalaludin As-Suyuthi (894-911 H.)
d)      Al-Baits ala Al-Khalash min Hawadits Al-Qashash, karya Zainuddin Abdurrahim Al-Iraqi (725-806 H).
e)      Al- Fawait Al-Majmuah fi Al-Ahadits Al-Mawdhuah, karya Al-Qadhi Abu Abdullah Muhammad Ali Asy- Syaukani (1173-1255 H.)
8.  Tahammul wa al-ada’ al hadis
A.    Pengertian Tahammul Wa Ada’ul-Hadist.
Seseorang yang telah mempelajari hadits dengan sungguh-sungguh dengan cara yang benar memiliki beberapa kode etik yang harus dia jaga dan dia pelihara, baik ketika masih menjadi pelajar itu sendiri atau ketikadia sudah mengajarkannya kepada orang lain kelak. Di dalam ilmu mushtholah hadits hal ini dikenal dengan istilah at tahammul wal ada’. Pada pelajaran hadits yang terakhir ini kita akan mempelajari kedua hal ini.
1.      Definisi Tahammul
Secara Etimologis
Yaitu bentuk mashdar dari : تَحَمَّلَ يَتَحَمَّلُ تَحَمُّلاً   . Dikatakan حَمَّلَهُ الأمْرُ  maknanya adalah membebankan suatu urusan kepadanya.[64]
Secara Terminologis
Yaitu mempelajari sebuah hadits dari seorang syeikh.
Ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan Tahammul adalah “mengambil atau menerima hadits dari seorang guru dengan salah satu cara tertentu. Dalam masalah tahamul ini sebenarnya masih terjadi perbedaan pendapat di antara para kritikus hadits, terkait dengan anak yang masih di bawah umur (belum baligh), apakah nanti boleh atau tidak menerima hadits, yang nantinya juga berimplikasi–seperti diungkapkan oleh al Karmani pada boleh dan tidaknya hadits tersebut diajarkan kembali setelah ia mencapai umur baligh ataukah malah sebaliknya.[65]
2.      Definisi Ada’ul Al-Hadits
Ada‘ secara etimologis berarti sampai/melaksanakan.
Secara Terminologis Ada‘ berarti sebuah proses mengajarkan (meriwayatkan) hadits dari seorang guru kepada muridnya.[66]
B.     Kelayakan Tahammul
Mayoritas ahli ilmu cenderung memperbolehkan kegiatan mendengar yang dilakukan anak kecil, yakni anak yang belum mencapai usia taklif. Sedang sebagian mereka tidak memperbolehkannya. Yang benar adalah pendapat mayoritas ulama’ itu. Karena sahabat, tabi’in dan ahli ilmu setelah mereka menerima riwayat sahabat yang masih berusia anak-anak, seperti Hasan, Husain, Abdullah ibnu az-Zubair, Anas ibnu malik, Abdullah ibnu Abbas, Abu Sa’id al-khudri, Mahmud ibn ar-Rabi’ dan lain-lain tanpa memilah-milah antara riwayat yang mereka terima sebelum dan sesudah baligh.[67]
Mereka yang memperbolehkan kegiatan mendengar hadits yang dilakukan oleh anak kecil, berbeda pendapat tentang batas usianya. Karena hal itu tergantung madalah masalah “Tamjiz” dari anak kecil itu. Dan tamjiz ini jelas berbeda-beda antar masing-masing anak kecil. Namun demikian mereka memberikan keterangan bersamaan dengan pendapat mereka. Banyak diantara mereka yang telah berusaha keras untuk menjelaskannya. Dan kita bisa meringkas penjelasan itu kedalam tiga pendapat :
Pertama, bahwa umur minimalnya adalah lima tahun. Hujjah yang digunakan oleh pendapat ini adalah riwayat imam bukhari dalam shahihnya dari hadits Muhammad ibnu ar-Rabi ra. katanya : “aku masih ingat siraman Nabi Muhammad SAW. Dari timba ke mukaku, dan aku ketika itu berusia lima tahun.[68]
Kedua, pendapat al-Hafidz Musa ibnu Harun al-Hammal, yaitu bahwa kegiatan mendengar yang dilakukanoleh anak kecil dinilai abash bila ia telah mampu membedakan antara sapi dengan Himar. Saya merasa yakin bahwa yang beliau meksudkan adalah “Tamyiz”. Beliau menjelaskan pengertian Tamyiz dengan kehidupan disekitar.[69]
Ketiga, keabsahan kegiatan anak kecil dalam mendengar hadits didasarkan pada adanya tamyiz. Bila anak telah memahami pembicaraan dan mampu memberikan jawaban, maka ia sudah mumayyiz dan abash pendengarannya, meski usianya dibawah lima tahun. Namun bila ia tidak memahami pembicaraan dan tidak bisa memberikan jawaban, maka kegiatan mendengar hadits tidak absah, meski usianya diatas lima tahun.[70]
Umumnya kemampuan memahami pembicaraan dan kemampuan memberikan jawaban ada pada diri anak yang mumayyiz. Jarang sekali kemampuan itu pada usia sebelum tamyiz, dan yang jarang seperti itu tidak dijadikan ketentuan. Pendapat ini merupakan pendapat mayoritas ulama mutaqaddiman.
    


2.  kelayakan Ada’ul Hadits
Mayoritas ulama hadits, ulama ushul dan ulama fiqh sependapat bahwa orang yang riwayatnya bias dijadikan hujjah – baik laki-laki maupun wanita harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a.       Islam
Sehingga tidaklah diterima riwayat orang kafir, berdasarkan ijma’ ulama, baik diketahui agamanya tidak memperbolehkan dusta ataupun tidak. dan sangat tidak logis bila riwayatnya diterima. Sebab menerima riwayatnya berarti membiarkan caciannya atas kaum muslimin. Bagaimana mungkin riwayat perusak Islam bias diterima? Di samping itu, Allah Azza Wa Jalla juga memerintahkan kita untuk mengecek berita yang dibawa oleh orang fasik, melalui firman-Nya yang Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. ( Al-Hujurat : 6 )
b.      Baligh
ini merupakan pusat taklif. Karena itu riwayat anak yang berada dibawah usia taklif tidak bias diterima, sebagai penerapan firman Allah SWT :
رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثٍ : عَنِ الْمَجْنُوْنِ الْمَغْلُوْبِ عَلَى عَقْلِهِ حَتَّى يَبْرَءَ, وِعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَ عَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ.
Terangkat pena dari tiga orang: dari orang gila sampai sembuh, dari orang yang tidur sampai terbangun, dan dari anak kecil sampai mimpi basah.[71]
Usia baligh merupakan usia dugaan adanya kemampuan menangkap pembicaraan dan memahami hukum-hukum syari’at. Karena itu keberadaan taklif dikaitkan dengannya. Yang jelas, yang dimaksud baligh disini adalah akal sehat disertai dengan usia yang memungkinkannya bermimpi basah.[72]

c.       Sifat Adil
Ia merupakan sifat yang tertancap dalam jiwa yang mendorong pemiliknya untuk senantiasa bertakwa dan memelihara harga diri. Sehingga jiwa kita akan percaya akan kejujurannya. Menjauhi dosa besar termasuk kedalamnya, juga sebagian dosa kecil, seperti mengurasi timbangan sebiji, mencuri sesuap makanan, serta menjauhi perkara-perkara mubah yang dinilai mengurangi harga diri, seperti makan dijalan, buang air kecil dijalan dan lain sebagainya.[73]
d.      Dhabt
Yaitu keterjagaan seorang perawi ketika menerima hadits dan memahaminya ketika mendengarnya serta menghafalnya sejak menerima sampai menyampaikannya kepada orang lain. Dhabit mencakup hafalan dan tulisan. Maksudnya, seorang perawi harus benar-benar hafal bila ia meriwayatkan dari hafalannya, dan memahami tulisannya.[74]
Demikianlah, suatu hadits tidak akan diterima bila perawinya tidak memenuhi – ketika menyampaikan – keempat syarat yang telah tadi disebutkan, yaitu Islam, taklif (baligh dan berakal), adil dan dhabit. Sedangkan yang menerima, cukup bagi seseorang hanya dengan memiliki sifat tamyiz.

9.  Gelar ahli hadis
10.                        Gelar Ahli Hadis
11.  Ulama hadits telah memberikan beberapa gelar kemuliaan (laqab) kepada para ahli hadits. Gelar-gelar itu antara lain:
12.  1. Thalib Al-Hadits, yaitu orang yang sedang menuntut hadits.
13.  2. Al-Musnid, yaitu orang yang meriwayatkan hadits dengan sanadnya, baik ia mengetahuinya atau tidak. Dalam sumber lain dijelaskan bahwa Al-Musnid yaitu orang yang hanya mempelajari dan mengajar hadits dengan tidak mengetahui segala ilmu-ilmunya. Dia bersifat perawi saja.[75]
14.  3. Al-Muhaddits, yaitu orang yang mahir dalam bidang hadits, baik dari segi riwayah maupun dirayahnya, mampu membedakan yang lemah dari yang shahih, mengenal ilmu-ilmu dan peristilahannya, mengenal yang mukhtalif dan mu’talif dari para perawinya, dan memperoleh semua itu dari imam-imam hadits, disamping mengetahui kata-kata gharib dalam hadits dan hal-hal lain, yang memungkinkannya mengajarkannya kepada orang lain. Menurut pendapat At-Taj as-Subky dalam Mui’d an-Ni’am, yang dikatakan muhaddits hanyalah orang yang mengetahui segala sanad hadits,’illat-‘illatnya, nama perawi, ali dan nazil, dan disamping itu dia hafal sejumlah besar dari matan serta mempelajari pula kitab-kitab enam, Musnad Ahmad, Sunan al-Baihaqy, Mu’jam ath-Thabrany serta seribu juz hadits. Selain itu ia juga harus mempelajari kitab-kitab thabaqat serta dapat mengetahui ‘illat hadits dari tarikh-tarikh wafat para perawi.
15.  4. Al-Hafizh, yaitu orang  yang memadukan sifat-sifat muhaddits ditambah dengan hafalan  dan banyaknya jalur agar dapat disebut sebagai al-Hafizh.[76] Sebagian Muta’akhirin mengatakan bahwa al-Hafizh adalah orang yang menghafal 100 ribu hadits baik dari segi matan maupun sanadnya. Al Hafizh Al Mizzy mengatakan bahwa gelar al Hafizh diberikan kepada orang yang mengetahui sebagian besar keadaan-keadaan perawi hadits, yakni orang mengetahui lebih banyak dari pada yang tidak.[77]
16.  5. Al-Hujjah, yaitu orang yang menghafal lebih dari 100 ribu hadits bahkan mencapai 300 ribu hadits lengkap dengan sanadnya.
17.  6. Al-Hakim, yaitu orang yang dapat meliputi segala yang berkaitan dengan hadits. Mereka mengetahui seluruh hadits yang pernah diriwayatkan, baik dari segi sanad maupun matan, jarhnya, ta’dilnya dan sejarahnya.
18.  7. Amirul Mukminin fi Al-Hadits, yaitu gelar tertinggi ulama ahli hadits. Mereka populer mengenai hafalan dan dirayah hadits, sehingga menjadi imam pada masanya. Gelar ini diberikan kepada tokoh-tokoh terkemuka antara lain Abdurrahman ibn Adillah ibn Dzakwan al-Madaniy (Abu az-Zanad, 131 H), Syu’bah ibn al-Hajjaj, Sufyan al-Tsauriy, imam Malik ibn Anas, Imam Bukhari, Ishaq ibn Rahawaih, Ahmad ibn Hanbal, Ad-Daruquthny dan beberapa orang lainnya. Ulama Mutaakhirin yang memperoleh gelar ini yaitu An-Nawawy (675 H), Adz-Dzahaby, dan Ibnu Hajjar al-Asqalany.
19.  Ulama Mutaakhirin telah memberikan gelar untuk ulama hadits. Gelar gelar itu adalah Amir al-Mukminin fi al-Hadits, al-Hakim, al-Mutsbit, al-Hafizh,al-Mufid, al-Muhaddits,al-Musnid atau ar-Rawiyah.[78]
20.                        2.2 Tokoh-tokoh Ahli Hadis
21.  Perintis jejak pertama yang mengenakan mahkota fuqaha ahli hadits adalah para sahabat Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam.
Yang paling masyhur dari mereka antara lain:
1. Khalifah yang empat (Radhiyallahu ‘anhum )
:
22.  • Abu Bakr Ash-Shiddiq
• Umar bin Al-Khaththab
• Utsman bin Affan
• Ali bin Abi Thalib
23.  2. Al-Abadillah (Radhiyallahu ‘anhum ):
24.  • Ibnu Umar
• Ibnu Abbas
• Ibnu Az-Zubair
• Ibnu Amr
• Ibnu Mas'ud
• Aisyah
• Ummu Salamah
• Zainab
• Anas bin Malik
• Zaid bin Tsabit
• Abu Hurairah
• Jabir bin Abdillah
25.  • Abu Said Al-Khudri
• Mu'adz bin Jabal
26.  3. Setelah sahabat Rasulullah adalah para tokoh tabi'in Rahimahumullah antara lain:
• Said bin Al-Musayyib wafat 90 H
• Urwah bin Az-Zubair wafat 94 H
• Ali bin Al-Husain Zainal Abidin wafat 93 H
• Muhammad bin Al-Hanafiyah wafat 80 H
• Ubaidullah bin Abdillah bin Utbah bin Mas'ud wafat 94 H atau setelahnya
• Salim bin Abdullah bin Umar wafat 106 H
• Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr Ash-Shiddiq wafat 106 H
• Al-Hasan Al-Bashri wafat 110 H
• Muhammad bin Sirin wafat 110 H
• Umar bin Abdul Aziz wafat 101 H
• Muhammad bin Syihab Az-Zuhri wafat 125 H
27.  4. Kemudian tabi'ut tabi'in dan tokoh mereka Rahimahumullah:
• Malik bin Anas wafat 179 H
• Al-Auza'i wafat 157 H
• Sufyan bin Said Ats-Tsauri wafat 161 H
• Sufyan bin Uyainah wafat 193 H
• Ismail bin Aliyah wafat 193 H
• Al-Laits bin Sa'ad wafat 175 H
• Abu Hanifah An-Nu'man wafat 150 H
28.  5. Kemudian pengikut mereka di antara tokoh mereka Rahimahumullah:
• Abdul.lah bin Al-Mubarak wafat 181 H
• Waki' bin Al-Jarrah wafat 197 H
• Muhammad bin Idris Asy-Syafi'I wafat 204 H
• Abdurrahman bin Mahdi wafat 198 H
• Yahya bin Said Al-Qathan wafat 198 H
• Affan bin Muslim wafat 219 H
29.  6. Kemudian murid-murid mereka yang berjalan di atas manhaj mereka di antaranya (Rahimahumullah) :
• Ahmad bin Hambal wafat 241 H
• Yahya bin Ma'in wafat 233 H
• Ali bin Al-Madini wafat 234 H
30.  7. Kemudian murid-murid mereka di antaranya (Rahimahumullah):
• Al-Bukhari wafat 256 H
• Muslim wafat 271 H
• Abu Hatim wafat 277 H
• Abu Zur'ah wafat 264 H
• Abu Dawud : wafat 275 H
• At-Turmudzi wafat 279 H wafat 303 H
• An Nasa'i wafat 234 H
31.  8. Kemudian orang-orang yang berjalan di atas jalan mereka dari generasi ke generasi antara lain (Rahimahumullah):
• Ibnu Jarir wafat 310 H
• Ibnu Khuzaimah wafat 311 H
• Ad-Daruquthni wafat 385 H
• Ath-Thahawi wafat 321 H
• Al-Ajurri wafat 360 H
• Ibnu Baththah wafat 387 H
• Ibnu Abu Zamanain wafat 399 H
• Al-Hakim An-Naisaburi wafat 405 H
• Al-Lalika'i wafat 416 H
• Al-Baihaqi wafat 458 H
• Ibnu Abdil Bar wafat 463 H
• Al-Khathib Al-Baghdadi wafat 463 H
• AI-Baghawi wafat 516 H
• Ibnu Qudamah wafat 620 H
32.  9. Di antara murid mereka dan orang meniti jejak mereka (Rahimahumullah):
• Ibnu Abi Syamah wafat 665 H
• Majduddin lbnu Taimiyah wafat 652 H
• Ibnu Daqiq Al-led wafat 702 H
• Ibnu Ash-Shalah wafat 643 H
• Ibnu Taimiyah wafat 728 H
• Al-Mizzi wafat 742 H
• Ibnu Abdul Hadi wafat 744 H
• Adz-Dzahabi wafat 748 H
• Ibnul Qayyim wafat 751 H
• Ibnu Katsir wafat 774 H
• Asy-Syathibi wafat 790 H
• Ibnu Rajab wafat 795 H
33.  10.Ulama setelah mereka yang mengikut jejak mereka di dalam berpegang dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah sampai hari ini. Di antara mereka (Rahimahumullah):
• Ash-Shan'ani wafat 1182 H
• Muhammad bin Abdul Wahhab wafat 1206 H
• Al-Luknawi wafat 1304 H
• Muhammad Shiddiq Hasan Khan wafat 1307 H
• Syamsul Haq Al-Azhim wafat 1349 H
• Al-Mubarakfuri wafat 1353 H
• Abdurrahman As-Sa`di wafat 1367 H
• Ahmad Syakir wafat 1377 H
• Al-Mu'allimi Al-Yamani wafat 1386 H
• Muhammad bin Ibrahim
Alu Asy-Syaikh wafat 1389 H
• Muhammad Amin Asy-Syinqithi wafat 1393 H
• Badi'uddin As-Sindi wafat 1416 H
• Muhammad Nashiruddin Al-Albani wafat 1420 H
• Abdul Aziz bin Abdillah Baz wafat 1420 H
• Hammad Al-Anshari wafat 1418 H
• Hamud At-Tuwaijiri wafat 1413 H
• Muhammad Al-Jami wafat 1416 H
• Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin wafat 1423 H
• Shalih bin Fauzan Al-Fauzan (h)
• Abdul Muhsin Al-Abbad (h)
• Rabi' bin Hadi Al-Madkhali (h)
• Muqbil bin Hadi Al-Wadi'i wafat 1423 H
10. istilah-istilah hadis dan kitab hadis
PEBAHASAN
2.1  Sejarah Pembukuan Hadis
             Pada zaman Rasul, al-Khulafa’al-rasyidin,sampai akhir abad pertama Hijriah, periwayat Hadis Meriwayatkannya berdasarkan catatan dan kekuatan hafalannya masing-masing.
           Pada pase tabi’in wilayah Islam sudah demikian luas, meliputi Zazirah Arab ,siria,Palestina,Yordania, Libanon, seluruh Irak, Mesir, Persia, dan kawasan samarkan.
        Umar Ibn Abd Aziz adalah orang pertama kali yang menganjurkan pembukuan Hadis. Sebagai Khalifah (99-101 H) Islam, Umar Ibn Abd Aziz merasa berkewajiban mempertahankan keberadaan Hadis , maka beliau memeritahukan Abu Bakr  ibn Hazm Ibn Syihab al- Zuhri serta ulama yang lain untuk mengumpulkan Hadis, baik yang berupa hafalan maupun catatan yang terdapat pada mereka.
     Menurut Muhammad Az-Zafzaf kodifikasi hadis ketika itu di lakukan karena:
1.      Para ulama  telah tersebar di berbagai negeri,di khawatirkan Hadis akan Hilang bersama wafat mereka, sementara generasi penerus di perkirakan tidak menaruh perhatian memeihara Hadis. 
2.      Banyak yang diada-adakan oleh kaum mubtadi’ (tukang Bid’ah).
   Perintah Umar Ibn Abdul Aziz kepada Gubernur Madinah, Abu Bakar Muhammad ibn Umr ibn Hazm untuk membukukan Hadis, yang pelaksanaannya ditangani oleh Ibn Syihab al-Zuhri,memotivasi para Ulama meningkatkan perhatian mereka untuk mengumpulkan dan membukukan Hadis, baik secara kuantitias maupun dalam bentuk kualitas,terutama pada abab ketiga,ditandai menculnya Hadis Induk.
2.2  Pelopor Pembukuan Hadis
Ulama yang pertama kali membukukan Hadis di masing-masing tempat mereka adalah:
     `a.  Ibnu Juraij (80- 150 H ) di mekkah,
      b.  Ibnu Ishaq ( W.768 M)  di Madinah,
      c.   Malik ibn Anas ibn Malik ( 93- 179 H ) di madinah,
      d.   Al- Robiah Ibn Shabih (W. 160 H ) di Basrah,
      e.   Sufyan al- Tsauri ( w. 161 H ) di Kufah,
      f.    Al- Auzaiy (w. 156 H ) di Syam,
      g.   Ibnu Mubarak ( 118 – 181 H ) di khurasan,
      h.   Allaits Ibn Sa’ad ( w. 175 H ) di Mesir,
      i.    Jarir Al- Dlabby ( 110 – 188 H ) di Rai.[79]
2.3   Masa keemasan pembukuan Hadis
           Abad ke -3 H merupakan zaman keemasan pembukuan Hadis,karena pada zaman inilah Kitab Hadis begitu banyak bentuk yang telah di lahirkan.Dengan Demikian kitab Hadis  yang disusun dan didasarkan pada pertimbangan kualitas sehingga banyaknya perhatian khusus yang di curahkan Ulama  terhadap suatu kitab Hadis tertentu itu,maka Ulama muta’akhirin menetapkan beberapa kitab Hadis sebagai kitab pokok  atau standar.
     Pada perjalanan sejarah,kitab hadis standar yang selama ini di kenal umat Islam, menyebut istilah yang berbeda –beda untuk sejumlah kitab tertentu sampai dengan penyebutan istilah al- kutub al- sittah ( kitab standar yang enam ).
     Menurut Ibnu Sakan (w. 353 H ), kitab Hadis yang dapat di jadikan Hujjah itu ada empat kitab Hadis, yaitu shahih al- Bukhari, sahih al- Muslim, sunan Abu Dawud, dan Sunan al- Nasa’i.Begitu pula pendapat Ibnu Mandah ( w. 396 H ) ketika di tanya tentng kitab Hadis mana yang di dalamnya memuat hadis sahih, beliau menjawab : “Para Imam Hadis yang mengeluarkan hadis sahih, dari kitab mereka adalah Imam al- Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, dan Imam al- Nas’i. Sejak saat itulah mulai di kenal istilah kutub al- arba’ah,yaitu empat kitab hadis yang mengandung hadis sahih. Keempat kitab tersebut yaitu kitab Sahih al- bukhari, Sahih Muslim, Suna Abu Dawud, dan Sunan Nasa’i.
    Pada abad ke- 5 H.istilah al- kutub al- arba’ah mengalami perkembangan,yaitu menjadi al- kutub al- khamsah dengan di tambahnya kitab Sunan al-Turmuzi ke dalam kutub al- arba’ah dengan Ibnu Hazm (Abu Muhammad ibn Muhammad w.456 H )sebagai pelopornya dan diikuti oleh Abu Tahir (‘ Imad al-Din Ahmad Ibn Muhammad al-Silafi, w. 576 H ).Sampai al- kutub al- khamsah ini lahir, Sunan Ibnu Majjah belum masuk  kedalam dua tersebut.
   Pada abad ke-6 H Istilah al- kutub al-khamsah mengalami perkembangan menjadi al-kutub al-Sittah dengan masuknya kitab Sunan ibnu majjah ke dalam al-kutub al- khamsah pada posisi ke enam.Adapun orang yang memasukan Sunan Ibnu majah sebagai kitab ke enam Abu al-Fadl ibn Tahir al-Maqsidi (w. 507 H )dalam kitabnya atraf al-Kutub al- Sittah dan Surut al-Aimmah al- sittah. Pendapat al- Maqsidi ini kemudian diikuti oleh Abdl al-Ghani ibn Abd al-Wahid al-Maqsidi ( w. 600 H) dalam kitabnya al-Kamal fi Asma’al-Rijl.[80]
2.4   Tingkatan-Tingkatan, Riwayat Kitab
      a.Tingkatan-Tingkatan Kitab
          Warisan peninggalan Islam yang agung yang akan tetap di pelihara oleh para Ulama dan para  cendekiawan muslim. Jumlahnya memang banyak sekali dan itu memang pantas . Sebab koleksi hadis Nabi memang sukar di hitung jumlahnya. Imam Ahmad bin Hambal memilih Musnadnya sendiri tidak kurang dari 750.000 hadis, padahal jumlah hadis yang pada musnad tersebut tidak mencapai 40.000 buah. As-Suyuti dalam kitabnya Jam’ul al-Jawami’ memahamkan seluruh pelajaran hadis, sesuai dengan ijtihad dan tela’ah yang dia lakukan. Tidak kurang 100.000 hadis telah dia himpun. Sayangnya As-Suyuthi terlalu cepat meninggal dunia, sebelum sempat merampungkan tulisannya. Yang patut kita ingat, As- Suyuthi pernah berkata : Jumlah hadis Nabi, baik yang bersifat ucapan dan tidakan,yang dapat di temukan di muka bumi ini maksimal hanya 200.000 buah.Oleh sebab itu para ulama membagi kitab-kitab hadis dalam beberapa tingkat yang sahih,yang hasan, dan yang da’if.
Tingkat pertama : terbatas hanya pada sahih al-Bukhari dan Muslim, serta muwatha’ Malik bin Anas, Disana di berikan klasifikasi hadis : yang mutawatir , yang Sahih ahad, dan yang hasan.
Tingkat kedua : Terdiri dari Jami’ Imam Tirmizi,Sunan Abu Dawud, Musnadnya Imam Ahmad Ibnu Hambal, dan Mujtaba’ Imam Nasa’i. Tingkatan kitab-kitab tersebut tentu di bawah Sahih Bukhari dan Muslim, serta Muwattha.
Tingkatan ketiga : terdiri dari beberapa kitab yang mengandung banyak lemah,  yaitu berupa keganjilan kemungkaran dan keragu-raguan, di samping para tokoh yang tertutup. Misalnya Musnad Ibnu Abi Syaibat, Musnad Ath-Thayalisi, Musnad Abu bin Humaid, Musnaf Abdurrazaq, serta kitab- kitab Al-Baihaqi, Ath-Thabari dan Ath-Thahawi.
Tingkat ke empat : Terdiri dari kalangan-kalangan yang ditulis dengan tidak sungguh-sungguh, pada abadabad terakhir. Yaitu dari suber cerita dari mulut-ke mulut, dari orang yang senang menasehati, kaum sufi dan para sejarawan yang tidak adil suka membuat bid’ah dan menurut nafsu. Di dalamnya termasuk tulisan-tulisan Ibnu Mardawaih, Ibnu Sahin dan Ubai Asy-syaikh.[81]

b.  Riwayat Kitab Dan Musnad Yang Penting
§  Kitab-Kitab Sahih mencakup kitab-kitab enam yaitu : Al- Bukhari, Muslim,Abu dawud,Tirmidzi, An-Nasa’i, dan ibnu majah.
            Tentang Ibnu Majah para ulama memperselisihkan eksitensinya. Mereka menganggap Muwatha’ karya Imam Malik sebagai kitab yang keenam, seperti yang dikatakan oleh Razin dan Ibnu al-Atsir.Atau Musnad Ad-Darami, sebagaimana menurut Ibnu Hajar al-Asqalani. Dan jika ada hadis yang  ujung kalimatnya “rawahu al-khamsah”, itu berarti Imam Bukhari,Muslim, Abu Dawud,Tirmidzi,dan Imam Nasa’i mereka sepakat atas riwayat  hadis tersebut. Sedangkan ungkapan “Shahihaini”mengacu kepada ke dua  kitab Sahih Imam Bukhari dan Imam Muslim. Hadis-hadis yang di riwayatkan oleh kedua Imam itu  biasanya memakai ungkapan “rawahu asy-Syaikhani” atau “ Muttafaq alaih.”
§  Kitab-Kitab Musnad. Hadis-hadis dalam kitab tersebut menyusun nama para sahabat berdasarkan senioritasnya dalam Islam, atau berdasarkan faktor nasab (keturunan) . Di antaranya Musnad Imam Abu Daud ath-Thayalisi,wafat tahun 204 H .,dan juga Musnadnya Baqi bin Mukhlid, wafat tahun 296 H.Dan musnadnyapun di beri nama Musnafan, karena didalamnya menulis tentang hadis para pemilik bab fiqih.
§  Mu’jam berisikan hadis-hadis yang menyebutkan nama guru atau negeri atau kabilah-kabilah.yang paling di kenal Ath-Thabarani,baik yang besar,sedang dan yang kecil.
§  Al- Mustadrak,yang paling di kenal ialah Mustadrak Al-Hakim an-Naisaburi  terhadap Sahih Bukhari dan Sahih Muslim,yang kemudian di ringkas oleh Adz-Dzahabi. Namun Imam Hakim dinilai agak lancang karena mengharuskan Imam Bukhari dan Imam Muslim mengeluarkan Hadis-hadis yang tidak terkenan bagi mereka-lantaran menurut Imam Hakim perawi-perawi tersebut lemah.
§  Mustakhrajah. Menurut Al-Iraqi ialah cara pembahasan kitab dengan mengeluarkan hadis-hadis berdasarkan sanad-sanad untuk diri sendiri bukan cara pemilik kitabnya sendiri yang memungkinkannya bergabung bersama seorang guru atau orang lain yang lebih senior. Diantaranya ialah Mustakhrajah Abu Bakar Ismail terhadap Al-Bukhari,Msthrajah Abu Awanah terhadap Imam Muslim, Musthrajah Abu ALI ath- Thusi terhadap Imam Tirmidzi, dan Musthrajah Muhammad bin Abdl Malik bin Aiman terhadap Sunan Imam Abu Dawud.
§  Al-Ajza, yakni hadis-hads yang diriwayatkan seorang lelaki dari kalangan sahabat atau tabi’in.[82]

2.5  Kitab-Kitab Hadis
A.    Kitab-Kitab Sahih
a.     Sahih al- Bukhari
      Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al- Mughirah bin Bardizbah, adalah ulama hadis yang sangat masyhur, kelahiran bukhara, suatu kota di Uzbekistan, wilayah uni sovyet,yang merupakan simpang jalan antara rusia, persia, Hindia, dan Tiongkok. Beliau lebih terkenal dengan nama Bukhary (putra daerah bukhara) . beliau dilahirkankan setelah salat jum’at, tanggal 13 bulan syawal, thn 194 H. (810 M) dan beliau wafat pada malam sabtu setelah selesai salat Isya’,di Samarkand  tepat pada malam Idul Fitri tahun 252-256 H31 agustus 870 M. Beliau seorang Muhaddisin yang jarang tandingannya ini sangat wara’,
    Sejak berumur kurang lebih 10 thn, sudah mempunyai perhatian dalam ilmu-ilmu hadis, bahkan sudah mempunyai hafalan hadis yang tidak sedikit jumlahnya diantaranya karangan Ibnu Al-Mubarak dan Waki. Beliau merantau ke negeri syam, Mesir,Jazirah sampai dua kali,ke Basrah empat kali, ke hijaz  bermukim 6 tahun dan pergi ke bagdad bersama-sama para ahli hadis lain,sampai berkali-kali.
   Beliau telah memperoleh hadis dari beberapa hafidz,antara lain Makky bin Ibrahim, Abdullah bin Usman Al-Marwazy, Abdullah bin Musa Al-Abbasy,Abu ‘Ashim As-Syaibany dan Muhammad bin Abdullah Al-Ansyary dan Guru-guru yang lain ialah Ali ibn al-Madini,Ahmad ibn Hambal, Yahya ibn Ma’in dan Ibn Rawaih.
   Ulama-ulama besar yang pernah mengambil hadis dari beliau yaitu : Imam Muslim, Abu Zur’ah, At-Turmudzy, Ibnu Khuzaimah dan An-Nasa’i,[83] al-Hajjaj,Ibnu Abu Dawud, Muhammad ibn Yusuf al-Fiyabi.
  Klasifikasi dalam hadis Shahih Bukhari adalah:
a.       Pembagian hadis dari sumber ide yaitu Hadis qudsi 131 buah ,dan hadis nabawi 6877 buah.
b.      Pembagian hadis dari segi kuantitas sanad yaitu  Hadis M utawatir 6409 buah dan Hadis maukuf 461 buah,dan ke 3 Hadis Maqtu 7 buah dari 7008 buah Hadis dalam Shahih Bukhari.
c.       Pembagian Hadis dari segi sanad yaitu Hadis ta’liq 3570 buah,Hadis irsal 93 buah dan Hadis inqita 26 buah.[84]
Karya-karyanya antara lain:
1.      Jami’us-Shahih yakni kumpulan hadis –hadis Shahih yang beliau persiapkan selama 16 tahun.Jumlah hadis yang dituliskan dalam kitab ini sebanyak 6.397 buah, yang muallaq 1.341 buah,  dan yang mutabi sebanyak 384 buah (ini khilaf) jadi seluruhnya 8.122 buah,di luar yang maqthu dan mauquf.
2.      Qadlayas-shahabahwat-tabi’in.
3.      At-Tarkhul –Kabir.
4.      At-Tarikhul-Ausath.
5.      AL-adabul-Munfarid.
6.      Birrul-Walidain.[85]
Kitab syarah-syarah Bukhari ialah A’lam as-Sunan susunan al-Kaththaby(388H),Al-kawakibad-Dararisusunan Muhammad ibn Yusuf al-Kirmany(775 H),Syarah yang tersebar banyak dalam masyarakat adalah Irsyad as-Sari,karyaAhmad ibn Muhammad al- Mishry al- Qashtalany (851 H.-923 H ). Diantara kitab SYARAH yang ada hanya empat buah saja yang terpandang tinggi dari segala segi yaitu 1.) at-Tanqih,karya badruddin az-Zarkayi 2.) At-Tawsyih,karya Jalaluddin as-Sayuthy. 3) Mdat al-Qari’,karya Badruddin al-Ainy,dan 4) Fat-h al- bari, karya Syihabuddin (Ibnu Hajar) al- Asqalany.[86]
B.  Sahih Muslim
          Nama lengkap beliau ialah Abul-Husain Muslim bin Al-Hajaj Al- Qusyairyal-Nasiburi. Beliau di nisbatkan kepada Nisabury karena beliau adalah putra kelahiran Nisabur, pada tahun 204 H. (820 M). Yakni kota kecil di Iran bagian timur Laut. Beliau juga di Nisbatkan kepada nenek moyangnya Qusyair bin Ka’ab bin Rabi’ah bin Sha-sha’ah suatu bangsawan besar.Beliau wafat pada kota yang sama  hari minggu 25 bulan rajab, tahun 261 H (875 M).
Imam Muslim dalah salah satu muhaddisin ,hafidzlagi terpercaya,ulama yang gemar bepergian mencari Hadis. Beliau kunjungi kota Khurasan untuk berguru hadis kepada Yahya bib Yahya dan Ishaq bin Rahawaih dan juga mendatangi kota Rey belajar hadis kepada Muhammad bin MahranAbu Hasan dan selain ulama yang sudah di sebtkan masih banyak guru-guru beliau.
    Ulama-Ulama besar, yang sederajat dengan beliau dan para hafidz berguru pada beliau seperti Abu Hatim Al-Razi, mUsa bin Harun,Ahmadibn Salamh,Abu Bakribn Khuzaimah, Abu Isa At-Turmudzy, Yahya bin Sa’id, Ibnu Khuzaimah,dan Awwanahal- Isfani,Abu Amr  Ahmad Ibnul-Mubarak al- Mustamli,Abu al- Abbas Muhammad ibn Ishaq ibn al- Sarraj,Ibrahim ibn  Muhammad ibn Sufyan al-Faqih al-Zahid, dan lain-lain
Karya-karya beliau  yang di sumbangkan kepada ummat Islam antara lain:
1.      Jamiush-Shahih
2.      Musnadul kabir al-Rijal
3.      Kitab al-Asma’wa al- kuna
4.      Al-Jami’ul Kabir
5.      Kitabu l -ilal wa kitabu auhamil-muhaddisin
6.      Kitab al-Aqran
7.      Kitab Sulaitih Ahmad ibn Hambal
8.      Kitab al-Intifa
9.      Kitab al-Muhadramain
10.  Kitabt-Tanyiz
11.  Kitabuman laisa lahu illa rawin wahidun
12.  Kitab Aulad al-sahabah
13.  Kitab Auhamul Muhaddis
14.  Kitabut-thabaqatu  t- tabi’in
15.  Kitabul- Muhadlarami dan kitab yang paling terkenal adalah Al-Jami’al-Shahih.[87]

2.5   Kitab-kitab Sunan                       
a. Sunan Abu Dawud              
       Ialah Abu Dawud Sulaiman bin Al-Asy’ ats bin Is-haq bin basyir ibn syidad ibn Imran al-Azdi  As-Sijistany. Beliau dinisbatkan kepada tempat kelahirannya, yaitu di Sijistan (terletak diantara Irak dengan Afganistan ). Beliau di lahirkan di kota tersebut . pada tahun 202 H. (817 M) dan beliau wafat pada tahun 275 H. (889 M) di Basrah. Beiau juga senang merantau mengelilingi negeri-negeri tetangga yang lain untuk mencari Hadis dan ilmu-ilmu ynag lain. Kemudian di kumpulkan, disusun dan di tulisnya hadis-hadis yang telah di terima dari ulama-ulama Irak, Khurasan,syam dan Mesir.
             Guru Abu Dawud dalam bidang hadis banyak diantaranya guru yang sangat menonjol ialah : Ahmad ibn Hambali,al-Qan’abi,Abu Umar al-Darir,Muslim ibnu Ibrahim,Abdullah ibnu raja, Abd al-walid al-Tayalisi,Sulaiman bin Harb, Ustman  bin Abi Syaibah,dan ulama-ulama yang belajar hadis-hadisnya ialah puteranya  sendiri  Abdullah,AN-Nasa’i,At-Turmudzy, Abu Awwanah, Ali bin Abdu sh-Shamad, dan Ahmad bin Muhammad bin Harun.
            Karya-karya Abu Dawud diantaranya karya yang terbesar dan sangat berfaedah bagi para mujtahid yaitu kitab Suanan yang kemudian  terkenal dengan nama Sunan Abu Dawud dan ada karya yang lainnya  yaitu Kitab al-Marasil, Kitab al-Qadar, Al-Nasaikh wal Mansukh, Fada’il al-Amal, Kitab al-Zuhud, Dalail al-Nubuwah, Ibtida’ al- Wahyu, Akhbar al- Khawarij.
       Beliau mengaku telah medengar hadis dari Rasullullah saw sebanyak 500.000 buah. Dari jumlah itu beliau seleksi dan di tulis dalam kitab Sunannya sebanyak 4.800 buah.Beliau berkata: “ Saya tidak meletakan sebuah hadis yang telh di sepakati oleh orang banyak untuk di tinggalkannya . Saya jelaskan dalam kitab tersebut nilainya dengan Shahih,semi shahih (yushibihuhu),mendekati shahih (yuqaribuhu),danjka dalam kitab saya tersebut hadis yang wahnun syadidun (sangat lemah ) saya jelaskan.[88]
Menurut pendapat ibnu Hajar,bahwa istilah hadis shahih Adu Dawud ini dari pada jika dikatakan bisa dipakai Hujjah (al-ihtijah) dan bisa di pakai i’tibar (I’tibar).
Oleh karenanya, setiap hadis dhaif yang bisa naik menjadi hasan atau setiap hadis hasan yang bisa naik menjadi shahih bisa masuk dalam pengertian yang pertama (lil-ihtijaj), yang tidak seperti kedua itu,bisa tercakup dalam pengertian yang kedua itu (lil-i’tibar)dan yang kurang dari ketentuan semua  termasuk  yang dinilai wahnun syadidun. [89]
Prof.Dr. Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy.Sejarah dan Pengantar ILMU HADITS.hlm.74-75
Syarah Abu Dawud di antaranya Ma’alim as-sunan karya al-khaththaby dan aun al-ma’bud karya seorang ahli Hadis yang terkenal di india, yaitu Abu ath-thaibSyam al-Haqq Azhim Abady,yang telah di syarahkan oleh as-Syuyuti.al- mujtaba itu telah di saring oleh ibnu al-Qayyim al- jauziyah. saringan itu di namai Tahdzib as-Sunan.11.Prof.Dr.Teungku MuhammadHasbi ash-Shiddieqh.Sejarah dan PengantarILMU HADITS.hlm.75
Pujian para ulama terhadapnya
Para ulama telah sepakat menetapkan beliau sebagai hafizd yang sempurna ,pemilik lmu yang melimpah, muhaddisin yang terpercaya, wara’iy dan mempunyai pahaman yang tajam, baik dalam ilmu hadis maupun yang lainnya.ulam yang mengaguminya Al-Khaththany,Ibnul-Araby,Imam Ghazali.

b. Sunan At Turmudzy   
            Nama asli at-Turmudzy adala Abu Isa Muhammad bin Isa bin Surah adalah seorang muhaddistyang dilahirkan di kota Turmudz, sebuah kota kecil di pinggir utara sungai Amuderiya,Sebelah utara Iran. Beliau laihir pada bulan dzulhijjahtahun 200 H ( 824 M)dan beliau wafat di Turmudz pada akhir Rajab tahun 279 H.Imam Bukhari dan Imam Turmudzy,keduanya sedaerah, sebab Bukhara dan Turmudz itu adalah satu daerah dari daerah waraun-nahar.
            Guru-guru beliau seperti: Qutaibah bin Sa’id,Is-Haq bin Musa, al-Bukhary dan lain-lainnya. Orang-orang yang belajar hdis kepada beliau yang bisa id kemukakan antara lain Muhammad bnin Ahmad bin Mahbub.
            Karya-karyanyadiantaranya beliau telah menyusun kitab Sunan dan kitab Ilalu’l-hadits.menurut pengakuan beliau sendiri, kitab ini telah di kemukakan kepada ulama Hijaz,Irak dan Khurasan,dan ulam tersebut meridhainya,serta menerimanya dengan baik.[90]
            Sebagian Syarahnya adalah 1) Syarh as-Sayuthy dan Syarh as-Sindy,dan Syarah yang paing besar adalah Aridhah al-Ahwadzy karya ibnu Araby ak-Maliky,dan sebagian Mukhtasharnya ialah Mukhtashar al- Jami’, karya Najmuddin  ibn Aqil.[91]
c.    Sunan an-Nasa’i
            Nam lengkap  Imam Nasa’i ialah Abu Abdi’r-Rahman Ahmad bin Syu’aib bin Bahr. Nama beliau di nisbatkan kepada kota tempat beliau id lahirkan. Beliau di lahirkan pada tahun 215 H. Di kota Nasa yang masih termasuk wilayah Khurasandan beliau wafat pada hari Senin, tanggal 13 bulan Syafar tahun303 H.(915 M)di Ar-Ramlah.Beliau adalah seorang Muhaddis putra Nasa yang pintar,Wira’iy,hafidh dan  takwa, beliau memilih nnegara Mesir sebagai untuk tempat bermukim dalam menyiarkan hadis-hadis kepada masyarakat. Menurut sebagian pendapat Muhaddis,beliau lebih Hafidh dari pada Imam Muslim.
            Guru –guru beliau antara lain Qutaibah bin Sa’id, Is-haq bin Ibrahim dan imam-imam hadis dari Khurasan,Hijaz, Irak dan Mesir.Muri-murid beiau antara lain : Abu Nasher ad-Dalaby dan Abdul-Qasim At-Tabary.
            Karya-karya Beliau yang utama ialah: Sunanul-Kubra; yang akhirnya terkenal dengan nama Sunan An-Nasa’iy. Setelah beliau Menyusun Sunan Kubranya,beliau lalu menyerahkannya kepada Amir ar-Ramlan .dan Amir berkata: apakah Hadis yang saudara tuliskan itu Shahih semua?kata beliau,Ada yang Shahih dan ada yang tidak “, Kalau demikian “,kata Amir,” Pindahkanlah yang Shahih-Shahih saja .” Atas perintah Amir beliau berusaha menyeleksinya , kemudian di himpunnya hadis-hadis pilihan ini dengan nama : Al-Mujtaba (pilihan) .
d.       Sunan  Ibnu Majah
            Ibnu Majah adalah nama nenek moyang nya yang berasa dari kota Qazwin,salah satu kta di Iran .Nama lengkap Imam hadis ini ialah Abu Abdillah bin Yazid Ibnu Majah . beliau di lahirkan di Qazwin pada tahun 207 H. (824 M) dan beliau wafat pada hari selasa ,bulan ramadhan , tahun 273 H (887 M).Sebagaiman para Muhaddisin dalam mencari hadis-hadis memerlukan perantauan Ilmiah, maka beliaupun berkaliling di beberapa negeri,untuk menemui dan berguru hadis kepada para ulama hadis.Dari perantauannya itu, beliu bertemu dengan murid-murid Imam Malik dan Al-laits, dan dari beliau-beliau inilah beliau banyak memperoleh hadis-hadis.
            Karya-karya beliau adalah kitab Sunan Ibnu Majah .Sunan ini adalah merupakan sunan yang keempat . Dalam hadis ini banyak terdapat hadis dhaif , bahkan tidak sedikit hadis munkar .
            Al- Hafidz Al- Muzy berpendapat, bahwa hadis-hadis Gharib yang terdapat dalam Sunan ini , kebanyakan adalah dhaif . karena itulah para ulama mutaqaddimin memandang , bahwa kitab muwaththa Imam Malik menduduki pokok kelima, bukan Suna Ibnu Majah ini.[92]
                                                                           




11.                   Sanad, isnad, musnid, dan matan hadis
a.      Pengertian Sanad
Menurut bahasa sanad berasal dari kata  السند  yang berarti sesuatu yang dijadikan sandaran. Sedangan mnurut istilah menurut ahli hadits adalah jalan yang menghubungkan matnul hadits kepada junjungan kepada Nabi Muhmamad s.a.w[93]. yakni orang – orang yang menyampaikan isi hadits setelah orang yang meriwayatkan hadits hingga hadits itu sampai ke sumber aslinya sebuah hadits.
Dalam sebuah hadits terdapat dua unsur integral yang tidak bisa dipisahkan, yaitu berupa sanad dan matan. Sebuah hadits tidak mungkin terjadi atau tidak akan sampai kepada kita tanpa adanya sanad, begitu juga halnya matan hadits pun tidak akan sampai meskipun terdapat sanad namun tidak ada matanya.
Seperti yang kita ketahui bahwasanya sebuah hadits dari seorang perowi (yang meriwayatkan) itu terjadi mata rantai sanad, dari sanad ini bisa kita tinjau untuk bisa dikritisi lebih jauh terhadapa sanad – sanadnya, karena dari dahulu perhatian ulama pun telah jauh mengkritisi hadits dari segi sabadnya karena dipicu banyak ditemukannya banyak hadits palsu yang dibuat orang – orang zindik maupun orang yang mempnyai kepentingan pribadi baik dari kepntingan politik, bisnis, maupun kefanatikan sebuah faham, aliran, dan madzhab.[94]
Untuk lebih jelasnya mari kita lihat contoh dibawah ini

حد ثنا محمد المثني قال : حدثنا غبد الوهاب الثقفي قال : حدثنا ايوب عن ابي قلا بة عن انس عن النبي صلعم : ثلاث من كن فيه وجد حلا وة الا يما ن : ان يكون الله ورسوله احب اليه مما سوا هما : وان يحب المر الا يحبه الا لله : وان يكره ان يعود في الكفر كما يكره ان يقذف في النا ر.( رواه البخارئ)
“ telah memberitakan kepadaku Muhammad bin Mutsanna ujarnya : ‘Abdul Wahab Atsaqofy telah mengabarkan kepadaku, ujarnya : telah bercerita kepadaku Ayyub atas pemberitannya Abi Qobilah dari Anas dari Nabi Muhammad s.a.w, bersadba : tiga perkara yang barang siapa mengerjakanya niscaya memperoleh kelezatan iman. (1). Allah dan Rasulnya hendaknya lebih dicintai daripada selainya. (2). Kecintaanya kepada seorang tak lain karena Allah semata dan (3). Sesungguhnya kembali pada kekufuran seperti keengganannya dicampakan ke neraka”.
Dari hadits jelas sudah diterima oleh bukhary melalui sanad pertama Muhammad ibnul Mutssanna, sanad kedua ‘Abdul Wahhab Atssaqofi, sanad ketiga Ayyub, sanad keempat Abi Qilabah dan seterusnya sampai sanad terakhir Anas r.a. sebagai seorang sahabat yang menerima hadits langsung dari Nabi s.a.w. demikian bukhory menjadi sanad pertama dan rowy terakhir bagi kita[95].
Dari unsure integral inilah sanad menjadi sebuah neraca untuk menimbang sebuah hadits apakah itu shahih ataupun dloif dilihat dari sanad sanadnya. Jika ada salah satu sanadnya fasik, tidak dlobit maka menjadi dloiflah haditsnya, sebaliknya jika sanad – sanadnya orang yang cukup persyaratan (adil, dlobit, takwa,tidak ada ‘illat), serta sanad sanadnya bersambung maka hadistnya dinilai shohih dan bisa dijadikan hujjah untuk menetapkan suatu hukum.
Sanad hadits merupakan salah satu bagian yang mendapatkan perhatian khusus, ada beberapa faktor dianaranya pertama pada zaman Nabi Muhammad tidak seluruh hadits ini terttulis; Kedua sesudah zaman Nabi banyak terjadi pemalsuan hadits; ketiga pentadwian hadits secara massal terjadi setelah berkembangnya pemalsuan hadits[96].
            Pada intinya sanad adalah ketersambaungan periwayatan sebuah hadits sampai kepada sumber aslinya, dan dari sanad ini juga yang menentukan tingkat keshohihannya sebuah hadits ditinjau dari sanad – sanadnya.  Dari sanad inilah kemudian muncul istilah – itilah yang berkaitan dengan ilmu hadits seperti Musnad, isnad yang akan dijabarkan lebih lanjut dibawah ini.


b.      Pengertian Isnad
Secara etimologi, isnad adalah menyadarkan sesuatu kepada yang lain dan menurut terminology isnad adalah :
رفع الحد يث الي قا ئله
Mengangkat hadits kepada yang mengatakannya atau yang menukilnya. Ath mengatakan bahwa isnad mempunyai kedekatan makna dengan sanad karena penghapal hadits dalam menshahihkan hadits dan mendloifkannya berpegangan kepada sanad itu sendiri. Ibnu jamaah mengatakan bahwa para muhadits memakai kata isnad dan sanad untuk satu pengertian[97].
Atau dengan kata lain, isnad adalah usaha seorang ahli hadits untuk menerangkan suatu hadits yang diikutnya dengan penjelasan kepada siapa hadits itu disandarkan[98].
c.       Pengertian Musnad
Secara etimologi musnad berarti sesuatu yang disandarkan, adapun secara mempunyai 2 pengertian antara lain :
-          Hadits yang marfu’ dan Muthashil (sanadnya bersambung).
-          Nama kitab yang menghimpun seluruh hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat.
Demikianlah ragam pengertian musnad, tergantung pada konteks penggunaan istilah kata tersebut, bisa jadi nama proses periwayatan hadits yang bersambung kepada Nabi Muhammad s.a.w. secara bersambung sanadnya atau nama sebuah kitab yang dihimpun dengan teknik mengedepankan nama para sahabat sebagai sanad pertama.
Istilah sanad, isnad dan musnad adalah rangkaian satu kata, dalam perbedaan makna yang terkandung didalamnya. Usaha seorang ahlli hadits dalam menerangkan sebuah hadits yang diikutinya dengan penjelasaan kepada siapa hadits itu disandarkan, disebut isnad. Kemudian hadits yang telah diisnadkan disebut hadits musnad. Sedangkan yang mengisnadkan hadits tersebut dinamakan musnid.
d.      Pengertian Matan    
Secara etimologi matan berasal dari bahasa arab المتن  yang berarti kuat, keras, Nampak jelas, asli. Sedangkan secara terminology ilmu hadits matan adalah
ما ينتهي اليه السند من الكلم
Sesuatu kalimat setelah berakhirnya sanad. Atau
الفظ الحدبث التي يقوم بها معا نتها
Beberapa lafadz hadits yang membentuk beberapa makna.
Berbagai definisi matan yang diberikan ulama namun pada intinya satu makna yaitu isi hadits atau berita yang datang dari Nabi itu sendiri. Matan hadits berupa beritta para sahabat yang dikatakan atau dilakukan oleh Nabi.
Dalam sebuah periwayatan hadits, sahabat adalah generasi pertama yang langsung menerima sabda – sabda nabi. Aktivitas sahabat dalam periwayatan sebuah hadits lebih jelas lagi terlihat dari kesungguhan mereka dalam meliput kegiatan – kegiatan Nabi, data – data sejarah kesungguhan sahabat dalam meliput kegiatan Rasul salah satu contohnya suatu ketika Rasul memasuki ka’bah dan dari luar dikunci dari dalam, maka sahabat yang lain terpaksa menunggu diluar sambil bertanya – Tanya apa gerangan yang dilakukan Rosul, setelah keluar Abdullah ibnu Umar bertanya kepada bilal yang mendapat kehormatan mendampingi Rosul memasuki ka’bah lantas Abdullah berkata “ apa yang dikerjakan Rosul didalam? Bilal menjawab : Nabi mempernaiki tiang ka’bah dan kemudia shalat”[99]
Dalam sebuah periwayatan namun terkadang berbeda penyampaiannya atau pemahamanya. Dalam hal penyampaian matan ada 2 cara yang dilakukan yaitu riwayat billafdzi dan riwayat bil ma’na. adapun riwayat bil lafdzi adalah menyampaikan kembali matan hadits dengan redaksi kalmat yang sama dengan apa yang disabdakannya.  Dalam hal ini kemunngkinan terjadi pperbedaan sangat kecil, terkecuali jika ada salah satu sanadnya yang tidak mencukupi syarat.Lain halnya riwayat bil ma’na adalah menyampaikan matan hadits dengan redaksi kalimat yang berbeda namun mempnyai satu makna. Cara kedua inilah kemudian menyebabkan timbulnya perbedaan kandungan matan hadits[100].  Satu contoh periwayatn bil ma’na sebagai berikut:
عن انس ابن ما لك انه قا ل :ان رسول الله صلي الله عليه و سلم قال : من تعمد علي كذبا فل يتبوا مقعده من النار.
عن ربعي بن حراش انه سمع عليا رضي الله عنه يخطب قال : قال رسول الله صل الله عليه وسلم : لا تكذ بوا علي فا ءنه من يكذ ب علي يلج من النار,
عن ابي هريرة قال : قال رسول الله صل الله عليه و سلم : من كذ ب علي متعمدا فليتبوا مقعده من النار.
Terjemah ketiga hadits diatas sbb:
1.      Dari anas ibnu malik dia berkata. Sesungguhnya Rasullullah s.a.w. bersabda  “barang siapa yang berdusta dengan namaku maka bersiaplah tempatnya dneraka”.
2.      Dari Rib’iy bin Harits sesungguhnya dia mendengar Ali r.a sedang berkata bahwasanya Rosulullah bersabda “ janganlah kalian berdusta dengan namaku, karena sesungguhnya berdusta dengan namaku akan masuk neraka”.
3.      Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah bersabda “ siapa yang berdusta dengan namaku maka bersiaplah tempatnya dineraka”.
Dari ketiga hadits diatas merupakan contoh penyampaian matan bil ma’na, karena dari beberapa redaksi dalam kalimatnya yang berbeda, namun pada intinya sama.







12.                   Periwayatan hadis billafzi dan bil ma’na
1.    Periwayatan Hadis bi al-Lafzi
Periwayatan hadis dengan lafal adalah cara periwayatan hadis yang disampaikan sesuai dengan lafal yang disabdakan oleh Nabi saw. secara persis tanpa ada perubahan sedikitpun pada tatanan kalimatnya. Atau dengan kata lain, meriwayatkan hadis dengan lafal yang masih asli dari Nabi saw. Riwayat hadis dengan lafal ini sebenarnya tidak ada persoalan, karena sahabat menerima langsung dari Nabi baik melalui perkataan maupun perbuatan, dan pada saat itu sahabat langsung menulis atau menghafalnya.
Sahabat yang terkenal ketat dalam menjaga otentisitas redaksi hadis adalah Abdullah bin Umar. Ia tidak memperkenankan adanya pengurangan atau penambahan satu huruf pun dari redaksi hadis. Dalam sebuah kasus, ia pernah menegur ‘Ubaid bin Amir ketika meletakkan puasa dalam lima prinsip Islam pada urutan nomor tiga yang seharusnya ada pada urutan nomor empat sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi saw.[101]

Dikisahkan pula bahwa Barrā’ ibn ‘Āzib pernah diajari oleh rasulullah saw. sebuah do’a sebelum tidur yang didalamnya ada kata “bi nabiyyika” dan ketika itu al-Barra’ menyakan apakah kata itu bisa diganti dengan “bi rasūlika” beliau menolak, dan tetap meneruskan dengan kata “bi nabiyyika”. Untuk lebih jelasnya penulis bisa menyajikan bentuk doa yang diajarkan oleh Nabi saw kepada al-Barra’ bin ‘Azib,[102] sebagai berikut;

إذا أويت الى فراشك طاهرا فتوسد يمينك ثم قل: اللهم أسلمت وجهي اليك وفوضت أمري اليك وألجأت ظهري اليك لا ملجأ ولا منجى الا اليك. أمنت بكتابك الذي أنزلت ونبيك الذي أرسلت.
“Apabila kamu berbaring di tempat tidurmu dalam keadaan suci lalu meletakkakan tangan kananmu (pada kepalamu sebagai bantal) maka berdoalah; Ya Allah aku sejahterakan wajahku di hadapan-Mu, aku pasrahkan urusanku pada-Mu, dan aku lindungkan harapanku pada-Mu, tiada pelindung dan tempat berharap selain kepada Engkau. Aku beriman pada kitab yang Engkau turunkan dan kepada nabi yang Engkau utus.”[103]
Tingkat kepedulian para sahabat dalam menjaga otentisitas hadis ini tergambar jelas ketika mereka tidak gegabah dalam meriwayatkan hadis sebelum mereka yakin betul kebenaran lafal dan ketepatan huruf serta memahami maknanya. Jika mereka menemukan keraguan untuk meriwayatkan sebuah hadis, mereka memilih diam. Hal demikian dilakukan karena mengingat peringatan keras Nabi saw yang akan memasukkan mereka pada golongan pendusta hadis.
Sikap demikian tidak hanya terjadi di tingkatan pada sahabat tetapi dapat ditemui pula dari pendapat segolongan ulama fiqh, ulama ushul dan ulama hadis yang tidak memberikan ruang sedikitpun pada periwayatan hadis secara makna. Mereka mewajibkan periwayatan hadis dengan lafal, dan tidak memperbolehkan periwayatan dengan makna sama sekali.
Akan tetapi dalam kenyataannya periwayatan hadis dengan lafal ini sangat sedikit jumlahnya. Ciri-ciri hadis yang memang harus diriwayatkan dengan lafal ini hanya terbatas pada antara lain:[104]
a.                   Hadis yang merupakan lafal-lafal ibadah (ta’abbudiyyah), seperti tentang bacaan azan, zikir, doa, syahadat, dan lain sebagainya.
Hadis yang bisa dijadikan contoh untuk lafal ibadah ini seperti bacaan dzikir yang diriwayatkan dari Shaddad bin Aus ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda,
سيد الاستغفار: اللهم أنت ربي، لا إله إلا أنت، خلقتني وأنا عبدك، وأنا على عهدك ووعدك ما استطعت، أبوء لك بنعمتكّ عليّ، وأبوء لك بذنبي فاغفر لي، فإنه لا يغفر الذنوب إلا أنت، أعوذ بك من شر ما صنعت. إذا قال حين يمسي فمات دخل الجنة، أو كان من أهل الجنة، وإذا قال حين يصبح فمات من يومه مثله[105]
“Paling tingginya ucapan istighfar adalah: ‘Ya Allah Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan selain Engkau, Engkau menciptakanku maka aku adalah hamba-Mu. Dan atas janji dan ancaman-Mu aku lakukan semampuku. Aku akui segala nikmat-Mu bagiku, dan ku akui segala dosa ini pada-Mu maka ampunilah aku karena tiada yang bisa mengampuni segala dosaku selain Engkau. Aku berlindung pada-Mu dari keburukan apa yang aku lakukan’. Jika ini dibaca pada waktu sore kemudian ia mati maka ia langsung masuk surga atau ia termasuk dari penduduk surga, demikian juga jika dibaca pada waktu pagi. ”
b.      Jawāmi’ al-kalimah (ungkapan-ungkapan Nabi saw yang sarat makna) karena Nabi saw memiliki perbedaan dalam perkataan yang tidak dimiliki yang lainnya.
Bisa diambil contoh seperti sabda Nabi saw tentang umat Islam. Dari Abū Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda,
المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده . والمهاجر من هجر ما نهى الله عنه  [106]
“Orang Islam itu adalah orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari lidah dan tangannya.”
c.       Hadis yang berkaitan dengan masalah aqidah seperti tentang dzat dan sifat Allah, rukun Islam, rukun iman, dan sebagainya. Untuk kategori ini penulis mengambil contoh hadis tentang sifat Allah swt, seperti;
يقبض الله الأرض يوم القيامة، ويطوي السماء بيمينه، ثم يقول: أنا الملك، أين ملوك الأرض؟ [107]
“Pada hari kiamat Allah menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya. Kemudian Dia berfirman; ‘Akulah yang Raja Diraja, dimanakah para raja dunia itu?’
Namun ketika dihadapkan pada persoalan bahwa hadis bukan hanya berbentuk perkataan saja tetapi juga dengan perbuatan dan ketetapan Nabi saw, para ulama yang bersikeras mempertahankan riwayat hadis secara lafal, seperti Abu Bakar al-Arabi, Muhammad bin Sirin, Raja’ bin Haywah, Qasim bin Muhammad, dan Sa’lab bin Nahwiy, mereka berpendapat bahwa periwayatan redaksi hadisnya secara makna sepenuhnya hanya diperbolehkan pada tingkatan sahabat, mengingat karena para sahabat memiliki pengetahuan bahasa Arab yang tinggi, meskipun tidak setingkat dengan susunan kalimat Nabi saw. dan mereka telah menyaksikan secara langsung keadaan dan perbuatan Nabi saw.[108]
Menurut hemat penulis, periwayatan secara lafal tidak mungkin seluruh hadis bisa dilaksanakan mengingat pengertian hadis itu sendiri merupakan segala sesuatu yang disandarkan pada Nabi saw, baik perkataan, perbuatan, penetapan, tekad dan cita-cita Nabi saw, yang tidak semua dalam bentuk perkataan sehingga keharusan periwayatan hadis harus dengan lafal itu tidak bisa terjadi. Tentunya hal ini tetap dalam batasan-batasan yang telah diungkapkan oleh para ulama di atas, yaitu tidak boleh masuk pada ranah hadis yang berbau aqidah, ibadah dan yang mengandung kalimat-kalimat yang sarat makna dari Nabi saw.
2.       Periwayatan Hadis bi al-Ma’na
Dalam sejarah perjalanan hadis diketahui bahwa sepeninggal Rasulullah saw. periwayatan hadis itu diperketat agar tidak terjadi periwayatan yang bukan dari Nabi saw. tetapi mereka menyandarkannya pada Nabi saw demi kepentingan diri atau kelompok mereka. Yaitu, dengan mengharuskan para perawi menyampaikan hadis apa adanya, tanpa ada penambahan atau pengurangan sedikitpun, sehingga redaksi hadis tidak mengalami perubahan sama sekali.
Tetapi dalam kenyataannya, banyak dijumpai hadis yang memiliki makna sama tapi diungkapkan dengan redaksi yang berbeda-beda. Karena itu, kita bisa menjumpai komentar hadis “muttafaq ‘alayh, wa al-lafẓ li Muslīm, atau wa al-lafẓ li al-Bukhārīy”. Dengan demikian, tampak sangat jelas bahwa periwayatan hadis secara makna itu ada dan diperbolehkan.
Bisa didefinisikan bahwa periwayatan hadis dengan makna adalah periwayatan hadis dengan maknanya saja sedangkan redaksinya disusun sendiri oleh orang yang meriwayatkan.[109] Atau dengan kata lain, apa yang diungkapkan oleh Rasulullah saw hanya dipahami maksudnya saja, lalu disampaikan oleh para sahabat dengan lafal atau susunan redaksi mereka sendiri. Hal ini dikarenakan para sahabat memiliki kualitas daya ingatan yang beragam, ada yang kuat dan ada pula yang lemah. Di samping itu, kemungkinan masanya sudah lama sehingga yang masih diingat hanya maksudnya sementara apa yang diucapkan Nabi sudah tidak diingatnya lagi
.
Menukil atau meriwayatkan hadis secara makna ini hanya diperbolehkan ketika hadis-hadis belum terkodifikasi. Adapun hadis-hadis yang sudah terhimpun dan dibukukan dalam kitab-kitab tertentu (seperti sekarang), tidak diperbolehkan merubahnya dengan lafal/matan yang lain meskipun maknanya tetap tanpa ada perubahan.
Untuk memperjelas adanya hadis yang diriwayatkan secara makna penulis akan memberikan gambaran contoh sebagai berikut;
لا يجد احد حلاوة الايمان حتى يحب المرء لا يحبه الا لله و حتى ان يقذف فى النار احب اليه من ان يرجع الى الكفر بعد إن انقذه الله وحتى يكون الله ورسوله احب اليه مما سواهما[110]
“Tidaklah seseorang akan mendapatkan manisnya iman sampai ia mencintai seseorang hanya karena Allah, lebih senang dilempar ke dalam neraka daripada kembali pada kekufuran sesudah ia diselamatkan oleh Allah, dan Allah dan rasul-Nya lebih dicintai daripada lainnya”.
ثلاث من كن فيه وجد حلاوة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود في الكفر كما يكره أن يقذف في النار.[111]
Tiga hal yang membuat seseorang akan merasakan manisnya iman, yaitu Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari lainnya, ia mencintai seseorang karena Allah dan membenci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia membenci untuk dicampakkan ke dalam neraka”.

Hadis di atas sama-sama menerangkan tema tentang iman, namun keduanya diungkapkan dengan redaksi yang berbeda, baik dalam penggunaan lafal maupun susunannya.
3.     Sikap Para Sahabat dan Jumhur Ulama terhadap Periwayatan Hadis bi al-Ma’na
Para sahabat yang banyak menerima hadis dengan redaksi yang beragam, antara lain, adalah ‘Alī bin Abī Ṭālib, Ibnu Abbās, Anas bin Mālik, Abū Hurairah, ‘Amr bin ‘Ash, ‘Ikrāmah, dan lain sebagainya. Secara tidak langsung mereka memperbolehkan meriwayatkan hadis secara makna.[112]
Jumhur ulama pun sebenarnya telah sepakat memperbolehkan seseorang mendatangkan atau meriwayatkan hadis dengan maknanya saja tidak harus dengan lafal aslinya, tetapi dengan syarat ia termasuk orang yang berilmu sangat dalam mengenai Bahasa Arab, mengetahui sistem penyampaian dan penyusunan kalimatnya, dan berpandangan luas tentang fiqh beserta istilah-istilah hukum di dalamnya sehingga akan tetap terjaga dari pemahaman yang berlainan dan hilangnya kandungan hukum dari hadis tersebut. Kalau  tidak demikian maka tidak diperbolehkan meriwayatkan hadis hanya dengan maknanya saja dan wajib menyampaikan dengan lafal yang ia dengan dari gurunya.
Imam Shāfi’iy[113] menerangkan tentang sifat-sifat perawi;
“Hendaknya orang yang menyampaikan hadis itu seorang yang kepercayaan tentang agamanya lagi terkenal bersifat benar dalam pembicaraannya, memahami apa yang diriwayatkan, mengetahui hal-hal yang memalingkan makna dari lafal dan hendaklah dia dari orang yang menyampaikan hadis persis sebagaimana yang didengar, bukan diriwayatkan dengan makna, karena apabila diriwayatkan dengan makna sedang dia seorang yang tidak mengetahui hal-hal yang memalingkan makna niscaya tidaklah dapat kita mengetahui boleh jadi ia memalingkan yang halal kepada yang haram. Tetapi apabila ia menyampaikan hadis secara yang didengarnya, tidak lagi kita khawatir bahwa dia memalingkan hadis kepada yang bukan maknanya. Dan hendaklah ia benar-benar memelihara kitabnya jika dia meriwayatan dengan hadis itu dari kitabnya.”
Dari penjelasan ini nyatalah bahwa orang yang mengetahui hal-hal yang memalingkan makna dari lafal, boleh meriwayatkan dengan makna apabila dia tidak ingat lagi lafal yang asli, karena dia telah menerima hadis, lafal dan maknanya.
Bahkan, Imam Mawardi mewajibkan menyampaikan hadis dengan maknanya jika susunan lafalnya tidak bisa diingat lagi, sebab jika hadis tersebut tidak tersampaikan meski dengan maknanya, maka ia termasuk orang yang menyembunyikan sumber hukum Islam, yaitu hadis itu sendiri.
Dalam kesempatan lain Al-Māwardiy[114] juga berpendapat; “Jika seseorang tidak lupa kepada lafal hadis niscaya tidak boleh dia menyebutkan hadis itu dengan bukan lafalnya, karena di dalam ucapan-ucapan nabi sendiri terdapatfaṣaḥaḥ yang tidak terdapat pada perawinya.”
Pendapat lain diungkapkan oleh Ibnu Sirin[115], “Aku telah mendengarkan hadis dari sepuluh perawi yang mengandung makna sama tapi diungkapkan berbeda-beda.”
Dengan pengakuan di atas menunjukkan bahwa periwayatan hadis dengan makna sudah tidak asing lagi di kalangan umat Islam. Gambaran kondisi ini juga yang memperkuat pendapat jumhur ulama tentang pembolehan meriwayatkan hadis dengan makna, termasuk di dalamnya imam mazhab yang empat.
Hadis Rasulullah saw menjadi landasan untuk memperkuat pendapat para ulama yang memperbolehkan meriwayatkan hadis secara makna. Hadis riwayat al-Baihaqiy dari Abdullah bin al-Ukaymah al-Laith, Nabi saw bersabda;[116]
إذا لم تحلوا حراما ولا تحرموا حلالا فلا بأس
“Jika kalian tidak merubah yang halal menjadi haram dan yang haram menjadi halal maka itu tidak apa-apa”
Untuk menjaga sikap kehati-hatiannya dalam setiap meriwayatkan hadis para sahabat, tabi’in dan para ahli hadis setelah mereka sudah mentradisikan ungkapan khusus sebagai tanda bahwa hadis yang diriwayatkannya dilakukan secara makna, terutama mengenai keadaan peperangan atau peristiwa tertentu, setelah meriwayatkan hadis mereka mengatakan “aw kamā qāla” (atau seperti yang disabdakan Nabi saw), “aw qarīban minhu” (atau yang mendekati), “aw nahwa hādha” (atau riwayat sejenis ini), atau “aw shibhahu” (atau riwayat yang serupa). Praktek seperti ini sering dilakukan oleh Abdullah Ibnu Mas’ūd, Abu Darda’, Anas bin Malik, dan lain-lain.[117] Maka sepatutnya kiranya kita mengikuti jejak mereka dalam setiap selesai mengutarakan sebuah hadis sebagai sikap kehati-hatian kita atau memang ada keraguan dalam membacakan susunan kalimatnya.

Selajutnya, ulama hadis mempersoalkan tentang boleh tidaknya perawi hadis meringkas atau memenggal matan hadis. Ada yang melarangnya, ada yang membolehkannya tanpa syarat dan ada yang membolehkannya dengan syarat-syarat tertentu. Pendapat yang terakhir ini banyak diikuti oleh ulama hadis, syarat yang dimaksud adalah:
a.       yang melakukan ringkasan bukanlah periwayat hadis yang bersangkutan.
b.      apabila peringkasan dilakukan oleh periwayat hadis, maka harus ada hadis yang dikemukakan secara sempurna.
c.       tidak terpenggal kalimat yang mengandung kata pengecualian (al-istithnā’), syarat, penghinggaan (al-ghāyah) dan yang semacamnya.
d.      peringkasan tidak merusak petunjuk dan penjelasan yang terkandung dalam hadis yang bersangkutan.
e.       yang melakukan peringkasan haruslah orang yang benar-benar telah mengetahui kandungan hadis yang bersangkutan.
Menurut penulis, ulama berbeda pendapat tentang periwayatan hadis dengan cara meringkas atau memenggal matan tersebut. Sesungguhnya berpangkal dari perbedaan tentang boleh-tidaknya periwayatan secara makna. Pendapat yang cukup realistik dan hati-hati adalah pendapat yang membolehkannya dengan catatan harus dipenuhi syarat-syarat tertentu.
13.                   Kedudukan dan fungsi hadis
1.1  Kedudukan dan Fungsi Hadits
a.       Kedudukan Hadits
kedudukan hadits sebagai salah satu sumber ajaran islam telah disepakati oleh hampir seluruh ulama dan umat Islam. Dikatakan demikian, karena dalam sejarah umat islam (dari dahulu sampai sekarang) ada kalangan yang hanya berpegang kepada al-qur’an  dalam menjalankan ajaran agamanya( yang disebut inkar al-sunah ).
                                 Hadits diterima sebagai salah satu sumbet ajaran islam merupakan suatu keniscayaan dilihat dari ruang lingkup dan jangkauan al-Qur’an serta keterbatasan manusia dalam memahami petunjuk al-Qur’an. Al-Qur’an sebagai wahyu yang qadim  dan menjangkau seluruh masa kehidupan manusia, maka al-Quran hanya berbicara dalam hal tertentu yang  dijelaskan secara rinci. Terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang globel maknanya dan tidak membumi bahasanya, Nabi saw mempunyai tugas untuk menjelaskan dan merincia tujuannya. Masalah umat dan tantangan yang dihadapi Nabi Saw mendapat legitimasi dari Allah untuk menyelesaikan masalah dan menjawab pertanyaan tersebut dan umat berkewajiban mengikutinya. Kewajiban tersebut merupakan amanat:


Apa yang diberikan rasul kepadamu maka terimalah dia dan apa yang
Menurut Ibnu Katsir (wafat 774 H/1373 M) maksud ayat di atas ialah segala apapun yang diperintahkan Nabi SAW wajib dikerjakan dan segala apa yang dilarangnya wajib ditinggalkan. Nabi SAW sesungguhnya melarang yang buruk saja.[118]


Katakanlah :
Taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir. (Ali Imran : 32)

Ayat diatas mengajarkan kepada kita bahwa orang yang tidak mengikuti perintah Allah (melalui sunnah Rosullah) termasuk orang ingkar. Selain itu ayat di atas juga mennujukan bahwa sumber ajaran Islam ada dua yaitu al-Qur’an dan hadits.


“siapa saja yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaat Allah…(Q.S. Al-Nisa’: 80)

Ayat di atas mennujukan bahwa ketaatan kepada Rosullah adalah merupakan manifastasi dari ketaatan kepada Allah. menjad
Ikan gadits nabi saw ssebagai sumber ajaran islam merupakan manifestasi dari keimanan terhadap perintah al-qur’an.

“sesungguhnya tela ada pada diri Rosulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah(Q.S. Al-ahzab)

Ucapan. Perbuatan, tingkah laku, dan kehidupan Rasulullah merupakan uswah berarti idola, ikutan, dan teladan. Menjadikan bRosulullah sebagai Uswah, berarti menjadikan beliau sebagai idola dan ikutan dalam berbagai aspek kehidupan.
              Menurut Muhamad Rasyid RIdhla, Nabi saw. menjelaskan kedudukan as-sunnah dengan perkataandan perbuatan. Penjelasan itu berupa tafshil, takhshish, dan taqyid. Akan tetapi, Nabi Saw. tidak pernah membatalkan informasi dan hukun-hukum yang terkandung dalan al-Qur’an. Dengan istilah lain, al-sunnah tidak me-naskh al-qur’an[119].
b.      Fungsi Hadits
1.      Memberi bayan (penjelasan)
Al-sunah memberikan penjelasan terhadap kandungan al-q
Ur’an yang mujmal. Dalam surat an-Nahal: 44 disebutkan kedudukan hadits Nabi:

“ dan kami turunkan kepadamu al-qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka mau berfikir”
Allah memerintah orang isam salat tetapi Dia tidak menjelaskan waktu-waktunya dan bilangan rakaatny. Penjelasan tersebut ditemukan dalam catatan-catatan sunnah rasul yang memuat perintah.
“ salatlah kamu seperti aku salat!”

Demikian juga Allah swt menyuru umat islam mengerjakan ibadah haji tetapi Dia tidak menyebutkan rincian tata cara pelaksaannya. Cara melaksanakannya, mengikuti petunjuk Rasul” Ambillah contoh dari saya cara manasik haji”!

2.      Tahshish (pengecualian)
Al-sunnah  memberikan pengecualian terhadap yang ‘am dalam al-Qur’an. Firman Allah:

“diajarkan kepadamu bahwa warisan anak laki-laki dua kali bagian anak perempuan”
Ayat al-qur’an diatas memberikan aam. Artinya dalam keadaan bagaimanapun bagian warisan tersebut satu berbanding dua. Kemudian terdapat hal tersebut, al-sunnah yang men-takshish (mengecualikannya), kecuali ahli waris yang membutuhkan terwaris, atau berbeda agama.

3.      Taqyid (pembatasan)
Al-sunnah memberikan pembatasan terhadap kemutlakan pesan al-Qur’an. Kata ‘tangan’ dalam ayat “pencuri pria dan wanita hendaklah kamu potong tangan mereka” adalah mutlaq. Yang disebut tangan adalah sejak dari jari-jari sampai dengan pangkal lengan. Kenudian terdapat al-sunnah membatasi potongan tangan itu pada pergelangan, bukan pada siku atau pangkal lengan.
4.      Menguatkan
Apa yang terkandung dalam al-sunnah menguatkan kandungan al-Qur’an. Seperti sunnah-sunnah yang isinya mewajibkaqn salat, haji, puasa, zakat, memuatkan kandungan al-Qur’an dalam maksud yang sama.
5.      Menetapkan Hukum baru
Di dalam al-sunnah terdapat ketentuan agama yang tidak diatur dalam al-qur’an. Artinya, Nabi diberikan legitimasi oleh Allah untuk mengambil kebijakan, ada yang berupa penjelasan terhadap kandungan al-Qur’an dan dalamhal-hal tertentu Nabi membuat ketetapan khusus sebagai wujud penjelasan terhadap kandungan al-Quran dan dalam hal-hal tertentu nabi membuat ketetapan khusus sebagai wujud penjelasa hal yang tidak tertuang eksplisit dalam al-qur’an.[120] Surat al-A’raf :157 menunjukan demikian.di sana disebutkan
“ ..Dan Nabi menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengaharamkan bagi mereka segalayang buruk”

Misalnya, larangan menikahi waanita bersam bibinya dalam waktu yang sama, tidak terkandung dalam al-Qur’an, tetapi hanya terdapat dalam al-sunnah. Di dalam assunnah di sebutkan “ Dari Abu Hurairag ra. Rosulullah saw.pernah bersabda, “ tidak boleh dikumpulkan seorang wanita dengan saudara ayahnya atau dengan saudara ibunya.”
Demikian juga larangan memakan daging “himar jimak” dan hewan yang mempunyai taring dan berkuku tajam. Aturan yang hanya terkandung dalam al-sunnah ini mengikat semua orang islam sebagaimana al-Qur’an mengikat mereka.
1.2  kedudukan Al-Hadits terhadap Al-qur’an(fungsi Hadits/sunnah)
para sahabat di masa raasulullah saw. masih hidup, mengambil hukun-hukum Islam(syariat) dari al-Qur’an al-karim yang mereka terima dari Rasul Saw. dalam hal tersebut, kerap kali Al-Qur’an membawa keterangan-keterangan yang bersifat mujmal  (global),tidak mufashsha(terinci),kerap kali membawa keterangan-keterangan yang bersifat muthlaq tidak muqhayad.
Perintah salat di dalam al-Qur’an, mujmal sekali. Tidak menerangkan haiah-nya,tidak menerangkan kadar-kadarnya dan tidak menerangkan syarat-syaratnya.
Memang banyak hukum dalam Al-qur’an yang tidak dapat dijalankan apabila tidak diperboleh syarah(penjelasan) yang berpautan dengan syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, dan factor-faktor perosaknya dari hadits.lantaran demikian para sahabat perlu kembali kepada Rosul saw, untuk mengetahui penjelasa-penjelasan yang diperlukan bagib ayat-ayat yang sedemikian sifatnya. Apalagi banyak pula kejadian yang tidak ada nashnya hukumnya dalam al-qur’an yang tegas terang. Dalam hal ini lebih-lebih lagi diperlukan ketetapan nabi saw. yang telah diakuisebagai utusan Allah
Allah swt.telah menerangkan kedudukan “sunnah terhadap al-Qur’an. Allah swt, berfirman:

“dan kami telah turunkan kepada engkau peringatan untuk engkau terangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka,dan supaya mereka suka berfikir”(QS. An – nahl 16:44)
Dalam ayat lain Allah swt berfirman :

“sungguh Allah telah limpahkan nikmatnya atas para mukmin, karena Allah telah membangkitkan dalam kalangan mereka seorang Rosul dari diri mereka sendiri yang membaca ayat-ayat Allah dan mengheningkan mereka, serta mengajari mereka,kitab dn nikmat walaupun dahulunya mereka adalah sesat yang nyata.”(QS. Ali Imron 3:164)
Jumhur ulama dan ahli tahqiq berpendapat bahwa yang dikehendaki dan hikmah dalam ayat ini ialah keterangan-keterangan agama yang diberikan Tuhan keapada nabi saw . mengenai hikmah dan hukum , yang dinamai dengan sunah
Ringkasnya,tidak dapat diragukan lagi bahwa al-hadist atau as – sunnah adalah sumber yang kedua huruf bagi hukum –hukum islam .as-sunnah merupakan sumber yang paling banyak cabangnya, paling lengkap undang-undangnya dan paling lebar lapanganya.
Al-Qur’an mengandung kaidah-kaidah ‘aam dan hukum-hukum kully. Memang Al-qur’an harus bersifat sedemikian , supaya menjadi kitab undang-undang yang kekal dan abadi. Maka al-hadits (as-sunnah )memberikan perhatiannya yang penuh untuk mensyarahkan kandungan al-Qur’an, mencabangkan hukum-hukum juz’y dari hukum-hukum kully yang termteri dalam al-Qur’an. Seluruh ulama sepakat menetapkan bahwa as-Sunnah itulah yang bertindak menerangkan segala yang dikehendaki al-Qur’an, walaupun ada perbedaan-perbedaan paham antara ulama mujtahidin tentang batas-batas penerangan as-Sunnah.
Dengan memeahami ayat di atas, tegaslah kiranya bahwa al-Hadist itu penjelasan, pensyarah, penafsir, peng-qaid (pen-taqyid), pen- takhsish dan yang mempertanggungkan kepada yang dhahirnya.
Berdasarkan keterangan-keterangan tersebut, Imam Ahmad berkata, “Mencari hukum dalam al-Qur’an haruslah melalui hadist. Mencari agama demikian pula. Jalan yang telah dibentang untuk mempelajari fiqih Islam dan syariatnya adalah al-Hadist. Mereka yang mencukupi dengan al-Qur’an saja tidak memerlukan pertolongan al-Hadist dalam memahami ayat, dalam mengetahiu syariatnya, sesatlah perjalanannya dan tidak akan sampai pada tujuan yang dikehendaki”.
Asy-Syatibi berkata, “Tiadalah seyogianya dalam urusan istinbath, kita mencukupkan dengan al-Qur’an saja, denngan tidak memperhatikan syarahnya dan penjelasannya. Sebabnya karena al-Qur’an itu kully. Di dalamnya banyak masalah kully, seperti keadaan shalat, zakat, haji dan puasa. Mengingat ini, perlu kita perhatikan syarah-syarahnya. Apabila tidak kita peroleh penjelasan dari as-Sunnah, kita perhatikan pula penjelasan kaum salaf. Lantaran para salaf lebih mengetahui maksud-maksud ayat, daripada orang lain. Jika tidak kita peroleh penjelasan-penjelasan salaf, barulah kita berpegang pada kekuatan bahasa”.
Mengingat kedudukan al-Hadist sebagaimana yang sudah disebutkan itu, harus mempelajari (sunnah) dengan sedalam-dalamnya. Di samping itu kita perlu membentenginya, menapis dan menyaringnya. Kita perlu pula mempelajari riwayat-riwayat ringkas dari pemuka-pemuka hadist yang masyhur yang mempunyai kedudukan istimewa dalam ilmu ini, dalam menghafalnya, mentadwinkannya dan dalam mengistinbathkan hukum-hukum syara.










Daftar pustaka
Bustamin dan Salam, M. Isa. 2004. Metodologi Kritik Hadis. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Subhani, Ja’far. Ushulul Hadits wa Ahkamuhu.
http://mediabilhikmah.multiply.com/journal.
http://eichapotter.wordpress.com/2011/03/29/quran-hadits/.
Al-Qur’an Hadis MA X Semester 2 Bab 4 tentang Istilah-istilah Hadis.
Ahmad, Muhammad, dan mudzakkir, Muhammad. 2000. Ulumul Hadis. Cetakan ke-10. Bandung: pustaka setia.
Rahman, Fatur. 1974.  Ikhtisar mastalahul Hadis. Cetaka ke-10. Bandung: PT. Al-ma’arif.
Thahan, Mahmud. 2005. Ilmu Hadis Praktis. Cetakan ke-1. Bogor: putra Thariqul Izzah.
Rahman, Fatchur, Ikhtisar Mushthalahu al-Hadits, Bandung: PT Al-Ma’arif , 1974.
Ahmad, Muhammad, Ulumul Hadits, Bandung: Pustaka Setia, 2000.
Ranuwijaya, Utang, Ilmu Hadits, Ciputat: Gaya Media Pratama, 1998.
Abi Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini, al-Furu’ min al-kafi, 2005
Busthamin. Membahas Kitab Hadis. 2010. Lembaga Pendidikan UIN Jakarta
Busthamin. Dasar-Dasar Ilmu Hadis. 2009. Ushul Press. Jakarta
Thahan Mahmud. Ilmu Hadis Praktis (edisi bahasa indonesia), diterjemahkan dari Tafsir Musthalah Al Hadis oleh Abu Fuad. 2010
Rachman Fathur , Ikhtisar Mustolahul Hadist ,PT.al-Maarif 1974 .cet 12 .
Bustamin, dasar-dasar ilmu hadits. Jakarta ushul press 2009 viii.hal 208. Cet pertama 2009
Ajaj al-khatib Muhammad. Ushul al-hadits. Jakarta,Gaya Media Pratama.2007.
Majid Abdul Khon. Ulumul hadits.
Almanar, Abduh,2011,Studi Ilmu Hadits,Bogor.Gppress
Ash shiddiq, Hasbi,1976,pokok-pokok ilmu Dirayah Hadits,Jakarta.Bulan Bintang.
Khon, Abdul Majid, 2008, Ulumul Hadits,Jakarta.Amzah.
Madasir,2008,Ilmu Hadits,Bandung.Pustaka setia.
Rahman, Fathur,1970,Mushthalahul Hadits,Jogyakarta.Al-Ma`arif.
Dr. Muhammad ‘Ajaj Al-Khitab, ushulul Hadits (Jakarta media pratama:1998)
Dr. Subhi As-Shalih, membahas ilmu-ilmu Hadits (Jakarta, Pustaka Firdaus, 2009)
Umar Hasyim, Qowaid Usul al-Hadits (Jakarta, 2009)
Shahih Bukhari Bi Hasyiyah as-Sandiy, hlm. 25, Juz 1 bab “Mata Yashihhu Sima, ash-Shagir.
Al-Khathib, Muhammad ‘Ajaj. 1998. Ushul Al-Hadits Pokok-pokok Ilmu Hadis. Jakarta: Gaya Media Pratama.
Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Teungku. 2011. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits. Semarang: Pustaka Rizki Putra.
http://indonesiaindonesia.com/f/6867/tokoh-tokoh-ulama-ahli-hadits/
Prof. A. Hasymy.Sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia,pt al-ma’ arif,2010
Drs.H.Achmad Gholib,MA.Study Islam pengantar Memahami Agama,Al-Quran,Al-Hadis,dan sejarah peradaban Islam,Faza Media, jakarta,2006
Drs.Badri Yatim, M.A.Sejarah peradaban Islam dirasah islamiyyah II,PT Raja Grafindo Persada, jakarta.1993
Prof. L. Musrifah Sunanto. Sejarah peradaban Islam Indonesia,PT Raja Grafindo Persada,Jakarta.2005
Bustamin, Dasar – Dasar Ilmu Hadits, Tangerang : Ushul Press, 2009
Bustamin, Isa H.A Salim, Metodologi Kritik Hadits, Jakarta : Rajawali Pres, 2004
Khaerum, Badri, Otentisitas Hadits “Studi kritis Atas Kajian Haddits Kontemporer”. Bandung : Remaja Rosdakarya. 2004
Ranchman, fatchur, Ikhtisar Musthalahul Hadits, bandung : Al Ma’arif, 1974
Madjid, Abdul Khon, Ulumul Hadits, Jakarta : Amzah, 2008
Abū Shuhbah, Muhammad bin Muhammad. Al-Wasīy fi ‘Ulūm wa Muamalat al-hadīth. Riyāt: ‘Ālam al-Ma’rifah, tt.
Al-Bukhāriy, Abu ‘Abdullah Muhammad bin Isma’il. al-Jāmi’ al-….. al-Bukhāriy, Juz I, (Kairo: al-Maṭba’ah al-Salafiyyah wa Maktabatuha, 1980 Al-Khātib, 12.
Muhammad Ajjāj. Umūl al-hadīth ‘Ulūmuhū wa. Beirut: Dār al-Fikr, 1971.
Al-Khātib, Mumammad ‘Ajjāj. Usūl al-hadīth: Pokok-Pokok Ilmu Hadits, terj. M. Qodirun Nur dan Ahmad Musyfiq, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998
Al-Turmīdhiy, Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Saurah. Al-Jāmi’ al-Ṣaḥīḥ wahuwa Sunan al-Turmidhīy, Juz V, (Mesir: Maktabah wa Maṭba’ah al-Muṣṭafā, 1975.
 Muslīm, Abu al-husain bin al-hajjāj al-Nasaiburiy. Ṣaḥīḥ Muslīm, kitab al-Īmān, bab “Persoalan Tentang Iman”,  Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1930.
Ṣaliḥ, Ṣubḥiy. ‘Ulūm al-hadīth wa Muamalaḥuhu. Beirut: Dār al-‘Ilm li al-Malayīn, 1991.
Al-bukhariy, Muhammad bin ismail, Ṣaḥīḥ al-Bukhāriy, (Beirut: Dār al-Fikr, 1981), Kitāb al-Adab, bab al-Ḥubb fillah, jilid IV, juz VII, h. 83.
 Al-Bukhāriy, al-Jāmi’ al-…, kitab al-Tauhid, juz IV, h.
Ibid, h. 145.
Al-Dīn al-Qāsimiy, Muhammad jamal, Qawā’id al-Tahdīth…, h. 222.
Abu Shuhbah, Muhammad  bin Muhammad, Al-Wasīy…, h. 146.
Al-Shāfi’iy, Muhammad bin Idrīs. al-Risālah, Beirut: Dār al-Fikr, tt.
Al-Dīn al-Qāsimiy, Muhammad jamal,  Qawā’id al-Tahdīth min Funūn Muamalat al-hadīth, Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1979
Ash-Shidieqy, M. Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadist, (Semarang: Pustaka Rizki Putera, 2009), Ed.3
Bustamin, Dasar-Dasar Ilmu Hadist, (Jakarta: Ushul Press, 2009)
Isma’il, Abu al-Fida bin Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, (Singapura: Sulaiman Mariy, (t.th). Juz
Ridhla, M. Rasyid, Tafsir al-Manal. Juz XII, h.694
Al-Shibai, Musthafa, Al-Sunah wa Manakatuha fi al-Tasyri’l al-Islai, (Bajrut: al-Maktab al-Islami, 1978), h.379-393





[1] Lihat, Bustamin dan M. Isa, Metodologi Kritik Hadis, 2004, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, hal. 6.
[2] http://mediabilhikmah.multiply.com/journal.
[3] Imam Maksum yakni para imam yang terhalang dari perbuatan salah dan dosa. Diantara ulama Syiah sendiri terdapat perbedaan pendapat mengenai jumlah imam maksum ini, sebagian mengatakan ada lima imam, tujuh imam, dan yang paling masyhur yakni sekte Syiah Itsna Asyariyah yang meyakini jumlah imam maksum ada dua belas— yang terdiri dari Rasulullah, Ali bin Abi Thalib, dan semua keturunan Ali sampai pada Imam Muhammad al-Mahdi al-Muntadzar.
[4] Lihat, Ja’far Subhani, Ushulul Hadits wa Ahkamuhu, hal. 19.
[5] http://mediabilhikmah.multiply.com/journal.
[6] Lihat, Ja’far Subhani, Ushulul Hadits wa Ahkamuhu, hal. 19.
[7] http://mediabilhikmah.multiply.com/journal.
[8] Ibid.
[9] Ibid.
[10] Ibid.
[11] Lihat, Ja’far Subhani, Ushulul Hadits wa Ahkamuhu, hal. 20.
[12] http://eichapotter.wordpress.com/2011/03/29/quran-hadits/
[13] Dikutip dari buku Al-Qur’an Hadis MA X Semester 2 Bab 4 tentang Istilah-istilah Hadis yang saya dapatkan dari Internet.
[14] Metodologi Kritik Hadist, Bustamin
[15] Mustholah Hadists, Dr. Mahmud Ath Thahan
[16] Ahmad, Muhammad, Ulumul Hadits, Bandung: Pustaka Setia, 2000. hal 101
[17] Rahman, Fatchur, Ikhtisar Mushthalahu al-Hadits, Bandung: PT Al-Ma’arif , 1974.hal 117
[18] Ahmad, Muhammad, Ulumul Hadits, Bandung: Pustaka Setia, 2000. hal 103
[19] Ranuwijaya, Utang, Ilmu Hadits, Ciputat: Gaya Media Pratama, 1998. hal 160
[20] Ranuwijaya, Utang, Ilmu Hadits, Ciputat: Gaya Media Pratama, 1998. hal 161
[21] Ranuwijaya, Utang, Ilmu Hadits, Ciputat: Gaya Media Pratama, 1998. hal 162
[22] Ranuwijaya, Utang, Ilmu Hadits, Ciputat: Gaya Media Pratama, 1998.hal 164
[23] Ahmad, Muhammad, Ulumul Hadits, Bandung: Pustaka Setia, 2000.Hal  104
[24] Ahmad, Muhammad, Ulumul Hadits, Bandung: Pustaka Setia, 2000. 105
[25] Ahmad, Muhammad, Ulumul Hadits, Bandung: Pustaka Setia, 2000. hal 106
[26] Ahmad, Muhammad, Ulumul Hadits, Bandung: Pustaka Setia, 2000. hal 107
[27] Ranuwijaya, Utang, Ilmu Hadits, Ciputat: Gaya Media Pratama, 1998. hal 166-167
[28] Ranuwijaya, Utang, Ilmu Hadits, Ciputat: Gaya Media Pratama, 1998. hal 168
[29] Ahmad, Muhammad, Ulumul Hadits, Bandung: Pustaka Setia, 2000.hal 109-112
[30]Abi Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini, al-Furu’ min al-kafi, 2005. Hal 615-616
[31] Mahmud Thahan, ilmu hadis praktis, hlm. 56
[32] Mahmud thahan, Ilmu Hadits Praktis,hlm.52-53
[33]  Muhammad ‘Ajaj al-khatib, ushul al-hadits,
[34] Fathurrahman ( ikhtisar musthalahul hadits)
[35] Abdul majid khon (ulumul hadist)
[36]  ibid
[37]  Bustamin, dasar-dasar ilmu hadits
[38]  Abduh Almanar, studi ilmu Hadits
[39]Imam Nawawi, at-Taqrib, juz 1, hlm. 6.
[40]  Mudasir, ilmu Hadits
[41]  Abduh Almanar, studi ilmu Hadits
[42]Syekh Ahmad Umar Hasyim, Qawa’id Ushulil Hadits, karya, hlm. 286
[43] Abdul Majid, ulumul Hadits
[44] Abduh Almanar, studi ilmu Hadits

[45] Abdul majid khon, ulumul hadits mengutip dari  Ibnu Abu Al-Hadid, Syarah Nahju Al-Balaghah….., juz 3, hlm 26.
[46]  ibid
[47]   M. Abduh Almanar. Studi ilmu hadits
[48]  Abdul majid khon, ulmul hadits
[49]Syaukani, al-Fawa`id al-Majmu’ah, juz 1, hlm. 420.
[50]Imam Suyuthi, Tadrib ar-Rawi, hlm. 184.
[51]Imam Syaukani, al-Fawa`id al-Majmu’ah fî al-Hadits al-Maudhu’ah, juz 1, hlm. 29
[52]  Mudasir, ilmu hadits
[53]  M Abduh Almanar, studi ilmu hadits
[54] Abdul Majid khon, ulum ul hadits
[55] Ibid
[56] T.M. Hasbi Ash shiddiqy, pokok-pokok ilmu dirayah hadits
[57]  M. Abduh Almanar studi ilmu hadits
[58] Abdul Majid khon, ulumul hadits
[59] T.M. Hasbi Ash shiddiqy, pokok-pokok ilmu dirayah hadits

[60] Fatchurrahman, ikhtisar mushthalahul hadits
[61] T.M. Hasbi Ash Shiddiqy
[62] ibid
[63] M. Abduh Almanar, studi ilmu hadits
[64] Dr. Subhi As-Shalih, membahas ilmu-ilmu Hadits (Jakarta, Pustaka Firdaus, 2009)
[65] Umar Hasyim, Qowaid Usul al-Hadits (Jakarta, 2009)
[66] Dr. Subhi As-Shalih, membahas ilmu-ilmu Hadits (Jakarta, 2009)
[67] Dr. Muhammad ‘Ajaj Al-Khitab, ushulul Hadits (Jakarta media pratama: hlm 201)
[68] Shahih Bukhari Bi Hasyiyah as-Sandiy, hlm. 25, Juz 1 bab “Mata Yashihhu Sima, ash-Shagir.
[69] Al-Kifayah, hlm. 65.
[70] Dr. Muhammad ‘Ajaj Al-Khitab, ushulul Hadits (Jakarta media pratama: hlm 201)
[71] Ditakhrij oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Al-Hakim dari umar dan Ali ra.
[72] Dr. Muhammad ‘Ajaj Al-Khitab, ushulul Hadits (Jakarta media pratama: 1998 hlm 202)
[73] Al-Kifayah, hlm. 80
[74] Dr. Muhammad ‘Ajaj Al-Khitab, ushulul Hadits (Jakarta media pratama:1998 hlm 203)
[75] Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2011), hal.105.
[76] Muhammad ‘Ajaj Al Khathib, Ushul Al-Hadits Pokok-pokok Ilmu Hadits, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007), hal. 411.
[77] Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Sejarah dan pengantar Ilmu Hadits, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2011), hal. 104.
[78] Ibid, hal. 104.
                [79]Dr. Bustamin, M.Si dan Hasanuddin, MA, Membahas Kitab Hadits, ( Jakarta : Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ), hlm.5-6
                [80]ibid. hlm.8-9
                [81]DR.SUBHI As-subhi as-shalih, Membahas Ilmu-Ilmu Hadis, (Jakarta : Pustaka Firdaus.1995), hlm. 107-108
                [82] (Ibid.hlm.109-
                [83] (DRS. Fatchur rahman, Ikhtisar Mushthlahul Hadits, (Yogyakarta : PT ALMA’ARIF 1970), hlm.375-376
                [84] Dr. Bustamin, M.Si dan Hasanuddin, MA, Membahas Kitab Hadits, ( Jakarta : Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ), hlm.5-6
                [85] (DRS. Fatchur rahman, Ikhtisar Mushthlahul Hadits, (Yogyakarta : PT ALMA’ARIF 1970), hlm.375-376
                [86] (Prof.Dr.Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Sejarah Pengantar Ilmu Hadits ( Semarang : Pustaka Rizki Putera 2009) .hlm.72-73.
                [87] Dr. Bustamin, M.Si dan Hasanuddin, MA, Membahas Kitab Hadits, ( Jakarta : Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ), hlm.5-6
[88] (Prof.Dr.Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Sejarah Pengantar Ilmu Hadits ( Semarang : Pustaka Rizki Putera 2009)
[89] (DRS. Fatchur rahman, Ikhtisar Mushthlahul Hadits, (Yogyakarta : PT ALMA’ARIF 1970)
                [90] (DRS. Fatchur rahman, Ikhtisar Mushthlahul Hadits, (Yogyakarta : PT ALMA’ARIF 1970)
                [91] (Prof.Dr.Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Sejarah Pengantar Ilmu Hadits ( Semarang : Pustaka Rizki Putera 2009), hal. 75.
                [92] (DRS. Fatchur rahman, Ikhtisar Mushthlahul Hadits, (Yogyakarta : PT ALMA’ARIF 1970), hal. 383-384
[93] Bustamin. Dasar Dasar Ilmu Hadits. H, 124
[94] Bustamin, isa. Metodologi Kritik Hadits. H. 7
[95] Fatchur Rahman, Ikhtsar Musthalahul Hadits. H 40-41
[96] Bustamin, isa. Metodologi Kritik Hadits. H. 10
[97] Abdul Madjid Khon. Ulumul Hadits, h. 102
[98] Bustamin. Dasar Dasar Ilmu Hadits. H,127
[99] Badri Khaerum. Otentisitas Hadits Studi Atas Kajian Hadits Kontemporer. H, 89
[100] Bustamin. Dasar Dasar Ilmu Hadits. H,128
[101] Muslīm, kitab al-Īmān, bab “Persoalan Tentang Iman”,  (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1930), h. 9.
[102] ubi āli, ‘Ulūm al-hadīth, (Beirut: Dār al-‘Ilm, 1991), h. 8; Al-Khatīb al-Baghdādiy, Kitāb al-Kifāyah fi ‘ilm al-Riwāyah, (Haidar Abad: al-Ma’arif al-‘Uthmaniyah, 1435 H), h. 175.
[103] Hadis tersebut diriwayatkan langsung dari Barra’ bin ‘Āzib. Ibid.
[104] Muhammad bin Muhammad Abū Shuhbah, al-Wasīy fi ‘Ulūm al-hadīth wa Muamalah al-hadīth, (Riyāt: ‘Ālam al-Ma’rifah, tt), h. 146-147.
[105] Abu ‘Abdullah Muhammad bin Isma’il al-Bukhāriy, al-Jāmi’ al-Bukhāriy, Juz I, (Kairo: al-Maba’ah al-Salafiyyah wa Maktabatuha, 1980), h. 158.

[106] Hadis tersebut diriwayatkan oleh al-Turmidhiy dari Abu Hurairah dan juga diterima dari riwayat Abu Musa al-Asy’ariy. Abu ‘Isa Muammad bin ‘Isa bin Saurah, al-Jāmi’  wahuwa Sunan al-Turmidhīy, Juz V, (Mesir: Maktabah wa,……. 1975), h. 17; Al-Bukhāriy, al-Jāmi’ al-…, bab Iman, juz I, h. 8.
[107] Al-Bukhāriy, al-Jāmi’ al,…, kitab al-Tauhid, juz IV, h.
[108] Ibid, h. 145.


[109] Muhammad ‘Ajjāj al-Khātib, al-Sunnah Qabla al-Tadwīn. (Beirut: Dār al-Fikr, 1971), h. 155.

[110] Hadis tersebut diriwayatkan dari Anās bin Mālik. Muhammad bin Isma’il al-Bukhāriy, …… al-Bukhāriy, (Beirut: Dār al-Fikr, 1981), Kitāb al-Adab, bab al-..ubb fillah, jilid IV, juz VII, h. 83.
[111] Hadis tersebut juga diriwayatkan dari Anās bin Mālik. Ibid, kitāb al-Īmān, bāb al-..awālah al-Īmān, jilid I, juz I, h. 9. Hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Muslīm, Abū Dāud, Tirmīdhiy, an-Nasā’iy, Ibnu Mājah dan Ahmad.
[112] Muhammad Jamal al-Dīn al-Qāsimiy, Qawā’id al-Tahdīth min Funūn …… al-hadīth, (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1979), h. 172.

[113] Mumammad bin Idrīs al-Shāfi’īy, al-Risālah, (Beirut: Dar al-Fikr, tt), h. 270.
[114] Mumammad ‘Ajjāj al-Khātib, Umul al-Hadīth: Pokok-Pokok Ilmu Hadits, terj. M. Qodirun Nur dan Ahmad Musyfiq, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998), h. 216-217.


[115] Mumammad Jamāl al-Dīn al-Qāsimiy, Qawā’id al-Tahdīth…, h. 222.
[116] Mumammad bin Muammad Abu Shuhbah, al-Wasīy…, h. 146.
[117] Mumammad ‘Ajjāj al-Khātib, Umūl al-hadīth ‘Ulūmuhūu wa Muamalauhū,(Beirut: Dār al-Fikr, 1989), h. 252; Muhammad bin Muhammad Abu Shuhbah, al-Wasīy…, h. 147.









[118] Abu al-Fida isma’il bin Katshir, Tafsir al-qur’an al-azhim(singapura: Sulaiman mariy, (t.th),Juz IV, H. 336
[119] Muhamad Rasyid Ridhla, Tafsir al- manar. Juz XII, h.694
[120] Musthfa al-shibai, Al-sunah wa makanatuha fi al-tasyri’I al-islai, (Bairut: al-maktab al-islami, 1978),h. 379-393 

0 komentar:

 
Blogger Templates